Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu dan Aliranya
A.
Latar Belakang
Latar Belakang
Filsafat dan
Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun
historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat,
sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Perkembangan ilmu
pengetahuan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran
pemikiran filsafat barat. Tanpa bermaksud untuk mengkonsentrasikan
kajian pada pemikiran barat dan mengesampingkan pemikiran timur (Islam), kajian
ini akan lebih banyak mengulas tentang sejarah aliran-aliran pemikiran barat
dimulai dari zaman Yunani klasik yang pada akhirnya melahirkan spesialisasi dan
sub-spesialisasi ilmu pada abad ke-20.
Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun
historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat,
sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Perkembangan ilmu
pengetahuan dewasa ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh aliran-aliran
pemikiran filsafat barat. Tanpa bermaksud untuk mengkonsentrasikan
kajian pada pemikiran barat dan mengesampingkan pemikiran timur (Islam), kajian
ini akan lebih banyak mengulas tentang sejarah aliran-aliran pemikiran barat
dimulai dari zaman Yunani klasik yang pada akhirnya melahirkan spesialisasi dan
sub-spesialisasi ilmu pada abad ke-20.
Pengetahuan Ilmiah atau Ilmu (Science)
pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan
pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama
dengan menggunakan berbagai metode. Dan karena
pengetahuan ilmiah a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat
ilmu sebagai pengembangan dari filsafat pengetahuan. Bidang garapan filsafat
ilmu tidak jauh dari komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi
pengetahuan ilmiah, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
pada dasarnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan
pengetahuan sehari-hari yang dilanjutkan dengan suatu pemikiran cermat dan seksama
dengan menggunakan berbagai metode. Dan karena
pengetahuan ilmiah a higher level of knowledge, maka lahirlah filsafat
ilmu sebagai pengembangan dari filsafat pengetahuan. Bidang garapan filsafat
ilmu tidak jauh dari komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga eksistensi
pengetahuan ilmiah, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Oleh karena
itu, penting dan menarik kiranya kita dapat menggali kembali sejarah
perkembangan filsafat ilmu serta aliran-alirannya, sebagai suatu landasan
berfikir kita demi mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas dan mendalam yang
akan berimplikasi kepada kehidupan manusia yang lebih baik.
itu, penting dan menarik kiranya kita dapat menggali kembali sejarah
perkembangan filsafat ilmu serta aliran-alirannya, sebagai suatu landasan
berfikir kita demi mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas dan mendalam yang
akan berimplikasi kepada kehidupan manusia yang lebih baik.
B.
Sejarah
Filsafat Ilmu
Sejarah
Filsafat Ilmu
Berbicara asal
muasal filsafat ilmu tentu tidak akan lepas dari filsafat Yunani Kuno dan
aliran yang dianutnya, dimana perkembangan Filsafat dimulai dari Yunani dan
filsafat yang tertua juga dari Yunani. Tidak lain dan tidak bukan termasuk
filsafat Ilmu juga demikian. Pemikiran manusianya yang tertata, dibanding bangsa
lain pada masa itu, oleh karenanya kiblat ilmupun berasal dari kota itu.
muasal filsafat ilmu tentu tidak akan lepas dari filsafat Yunani Kuno dan
aliran yang dianutnya, dimana perkembangan Filsafat dimulai dari Yunani dan
filsafat yang tertua juga dari Yunani. Tidak lain dan tidak bukan termasuk
filsafat Ilmu juga demikian. Pemikiran manusianya yang tertata, dibanding bangsa
lain pada masa itu, oleh karenanya kiblat ilmupun berasal dari kota itu.
Filsafat muncul ketika orang-orang mulai
memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar
mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan
tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel)
atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah
lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih
bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari
Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang
terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles.[1]
memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar
mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan
tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel)
atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah
lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih
bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari
Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang
terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles.[1]
Perkembangan
ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara
mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Di dalam banyak
literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal
berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia.
Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola
pikir yang berkembang saat itu. Dengan paradigma ini, ilmu pengetahuan
berkembang sangat pesat karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan
meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irrasional.
ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara
mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Di dalam banyak
literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal
berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia.
Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola
pikir yang berkembang saat itu. Dengan paradigma ini, ilmu pengetahuan
berkembang sangat pesat karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan
meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irrasional.
Setalah kemajuan filsafat pada zaman Yunani
yang begitu luar biasa, sejarah filsafat mencatat bahwa pada abad pertengahan
(400-1500 M) filsafat berfungsi sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi
ajaran agama (The philosophy as a hand maiden of theology). Sejauh
filsafat bisa melayani teologi, ia bisa diterima. Namun, filsafat dianggap yang
dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau gereja, ditolak dan kebebasan
berfikir pun dipangkas.
yang begitu luar biasa, sejarah filsafat mencatat bahwa pada abad pertengahan
(400-1500 M) filsafat berfungsi sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi
ajaran agama (The philosophy as a hand maiden of theology). Sejauh
filsafat bisa melayani teologi, ia bisa diterima. Namun, filsafat dianggap yang
dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau gereja, ditolak dan kebebasan
berfikir pun dipangkas.
Oleh sebab itu, zaman tersebut sering dinamakan Abad Gelapan Filsafat. Namun, masa
kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Muslim. Pada
saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi perkembangan
ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman Pertengahan lebih
berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan
penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai
temuan di lapangan ilmiah lainnya.[2] Maka sesungguhnya pada zaman Islam itulah filsafat
begitu berkembang pesat sehingga banyak melahirkan para ilmuan-ilmuan muslim
yang luar biasa pada abad itu.
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa
yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan
kembali (renaisance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M.
Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan
Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.[3]
Walaupun Islam
akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia
telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah
kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad
ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung)
pada abad ke-18 M.[4]
Mulai itulah ilmu pengetahuan semakin berkembangan dengan pesat hingga sekarang
(zaman kontemporer).
C.
Perkembangan
Filsafat Ilmu
Perkembangan
Filsafat Ilmu
Secara garis
besar, Amsal Bakhtiar membagi periodeisasi sejarah perkembangan filsafat ilmu
pengetahuan menjadi empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam,
pada zaman renaisans dan modern, dan pada zaman kontemporer.[5]
besar, Amsal Bakhtiar membagi periodeisasi sejarah perkembangan filsafat ilmu
pengetahuan menjadi empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam,
pada zaman renaisans dan modern, dan pada zaman kontemporer.[5]
1. Zaman Yunani
Kuno
Kuno
Yunani kuno
sangat identik dengan filsafat. Ketika kata Yunani disebutkan, maka yang
terbesit di pikiran para peminat kajian keilmuan bisa dipastikan adalah
filsafat. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah ada jauh
sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di
tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu
pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu
aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang.
sangat identik dengan filsafat. Ketika kata Yunani disebutkan, maka yang
terbesit di pikiran para peminat kajian keilmuan bisa dipastikan adalah
filsafat. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah ada jauh
sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan mengembangkannya. Filsafat di
tangan mereka menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu
pengetahuan pada generasi-generasi setelahnya. Ia ibarat pembuka pintu-pintu
aneka ragam disiplin ilmu yang pengaruhnya terasa hingga sekarang.
Seiring dengan berkembangannya waktu, filsafat
dijadikan sebagai landasan berfikir oleh bangsa Yunani untuk menggali ilmu
pengetahuan. Karena itu, periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri
poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.[6] Inilah titik
awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan
dirinya dan alam jagad raya.
Periode setelah
Socrates disebut dengan zaman keemasan kelimuan bangsa Yunani, karena pada
zaman ini kajian-kajian kelimuan yang muncul adalah perpaduan antara filsafat
alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato
(429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates.[7]
Plato, yang hidup di awal abad ke-4 S.M., adalah seorang filsuf earliest
(paling tua) yang tulisan-tulisannya masih menghiasi dunia akademisi hingga
saat ini. Karyanya Timaeus merupakan karya yang sangat berpengaruh di zaman
sebelumnya; dalam karya ini ia membuat garis besar suatu kosmogoni yang
meliputi teori musik yang ditinjau dari sudut perimbangan dan teori-teori
fisika dan fisiologi yang diterima pada saat itu.[8]
Masa keemasan
kelimuan bangsa Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia adalah
murid Plato, walaupun ia tidak sepakat dengan gurunya mengenai soal-soal
mendasar. Khususnya, ia menganggap matematika sebagai suatu abstraksi dari
kenyataan ilmiah. Dan ia berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar
filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika,
dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang
disebut silogisme.[9]
2. Zaman Islam
Islam sangat
menghargai ilmu, ini terlihat sejak kemunculan agama Islam itu sendiri yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW, saat beliu menerima wahyu pertama dengan perintah “
iqra’ bacalah”;
menghargai ilmu, ini terlihat sejak kemunculan agama Islam itu sendiri yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW, saat beliu menerima wahyu pertama dengan perintah “
iqra’ bacalah”;
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”[10]
Dari kata iqra
tersebut, secara kontekstual sesungguhnya memerintahkan kita untuk mencari
hakikat kebenaran dengan membaca, mengkaji, serta meneliti
tersebut, secara kontekstual sesungguhnya memerintahkan kita untuk mencari
hakikat kebenaran dengan membaca, mengkaji, serta meneliti
Dominasi para
teolog pada masa ini mewarnai aktivitas ilmiah pergerakan ilmu pengetahuan. Hal
ini dapat dilihat dari semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa itu adalah ancillla
theologiaatau abdi agama.[11]
Atau dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran
agama. Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa
wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati.[12]
Inilah yang dianggap sebagai salah satu penyebab masa ini disebut dengan Abad
gelap (dark age). Usaha-usaha menghidupkan kembali keilmuan hanya
sesekali dilakukan oleh raja-raja besar seperti Alfred dan Charlemagne.[13]
Josep
Schumpeter, misalnya dalam buku magnum opus-nya menyatakan adanyagreat gap
dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal
sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa
kegemilangan umat Muslim, suatu hal yang berusaha ditutup-tutupi oleh Barat karena
pemikiran ekonom Muslim pada masa inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para
ekonom Barat.[14]
Pada saat
itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi perkembangan ilmu
pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman Pertengahan lebih berkutat
pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan penterjemahan
besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai temuan di
lapangan ilmiah lainnya.[15]
Menurut Harun
Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Keilmuan
ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal
seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadis. Persepsi ini bertemu dengan
persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan sains Yunani yang berada di
kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti
Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia).[16]
W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir
diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan dan filsafat
Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal
di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan
kemudian –pada sekitar tahun 900 M– ke Baghdad.[17]
Sekitar abad ke
6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengetahuan berada di pangkuan perdaban Islam.
Dalam lapangan kedokteran muncul nama-nama terkenal seperti: Al-Ḥāwī karya
al-Rāzī (850-923) merupakan sebuah
ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya.[18]
Rhazas mengarang suatu Encyclopedia ilmu kedokteran dengan judul Continens,
Ibnu Sina (980-1037) menulis buku-buku kedokteran (al-Qonun) yang
menjadi standar dalam ilmu kedokteran di Eropa. Al-Khawarizmi (Algorismus atau
Alghoarismus) menyusun buku Aljabar pada tahun 825 M, yang menjadi buku
standar beberapa abad di Eropa. Ia juga menulis perhitungan biasa (Arithmetics),
yang menjadi pembuka jalan penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan
tulisan Romawi. Ibnu Rushd (1126-1198) seorang filsuf yang menterjemahkan dan
mengomentari karya-karya Aristoteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat 70
peta dari daerah yang dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Boger
II dari kerajaan Sicilia.[19]
Dalam bidang
kimia ada Jabir ibn Ḥayyan (Geber) dan al-Biruni (362-442 H/973-1050 M).
Sebagian karya Jabir ibn Ḥayyan memaparkan metode-metode pengolahan berbagai
zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat
dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa
berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya
berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi.[20]
Selain
disiplin-disiplin ilmu tersebut, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan
filsafat. Sebut saja al-Kindi, al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sīnā atau Avicenna (w.
1037 M), al-Ghazali (w. 1111 M), Ibn Bājah atau Avempace (w. 1138 M), Ibn Ṭufayl
atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn Rushd atau Averroes (w. 1198 M). Menurut
Felix Klein-Franke, al-Kindī berjasa membuat filsafat dan ilmu Yunani dapat
diakses dan membangun fondasi filsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang
jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan
dikembangkan oleh al-Farabi. Al-Kindi sangat ingin memperkenalkan filsafat dan
sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia
tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing.[21]
Menurut Betrand
Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen daripada filsafat
Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam filsafat Kristen dia baru
lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik,
tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang
menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan filosof
profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan
di Universitas Paris. Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat
pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka yang sudah
terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan
atau renaisans.[22]
Pada zaman itu
bangsa Arab juga menjadi pemimpin di bidang Ilmu Alam. Istilah zenith, nadir,
dan azimut membuktikan hal itu. Angka yang masih dipakai sampai sekarang, yang
berasal dari India telah dimasukkan ke Eropa oleh bangsa Arab. Sumbangan
sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang[23],
yaitu:
- Menerjemahkan
peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskan sedemikian rupa, sehingga dapat
dikenal dunia Barat seperti sekarang ini; - Memperluas
pengamatan dalam lapangan ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia,
ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan; - Menegaskan
sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
3. Zaman Renaisans
dan Modern
dan Modern
Michelet,
sejarawan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans.
Para sejarawan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode
kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia
sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas
antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Sementara orang
menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans.[24]
sejarawan terkenal, adalah orang pertama yang menggunakan istilah renaisans.
Para sejarawan biasanya menggunakan istilah ini untuk menunjuk berbagai periode
kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia
sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Agak sulit menentukan garis batas yang jelas
antara abad pertengahan, zaman renaisans, dan zaman modern. Sementara orang
menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan dari zaman renaisans.[24]
Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau
sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era
sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi
perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme,
sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat
dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat
humanisme.
Pengaruh ilmu
pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu
menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance) pusaka Yunani di Eropa
pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah
melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan
kembali ke dalam bahasa latin.[25]
Walaupun Islam
akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia
telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah
kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad ke-14 M,
rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.[26]
Mulai itulah ilmu pengetahuan semakin berkembangan dengan pesat hingga
sekarang.
4. Zaman
Kontemporer
Filsafat
kontemporer, yang diawali pada awal abad ke-20, ditandai oleh variasi pemikiran
filsafat yang sangat beragam dan kaya. Mulai dari analisis bahasa, kebudayaan
(antara lain, postmodernisme), kritik sosial, metodologi (fenomenologi,
heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (eksistensialisme), filsafat ilmu,
sampai filsafat tentang perempuan (feminisme). Tema-tema yang banyak dibahas dalam oleh para filusuf dari periode ini
antara lain tentang manusia dan bahasa manusia, ilmu pengetahuan, kesetaraan
gender, kuasa dan struktur yang mengungkung hidup manusia, dan isu-isu aktual
yang berkaitan dengan budaya, sosial, poloitik, ekonomi, teknologi, moral, ilmu
pengetahuan dan hak asasi manusia.[27]
kontemporer, yang diawali pada awal abad ke-20, ditandai oleh variasi pemikiran
filsafat yang sangat beragam dan kaya. Mulai dari analisis bahasa, kebudayaan
(antara lain, postmodernisme), kritik sosial, metodologi (fenomenologi,
heremeutika, strukturalisme), filsafat hidup (eksistensialisme), filsafat ilmu,
sampai filsafat tentang perempuan (feminisme). Tema-tema yang banyak dibahas dalam oleh para filusuf dari periode ini
antara lain tentang manusia dan bahasa manusia, ilmu pengetahuan, kesetaraan
gender, kuasa dan struktur yang mengungkung hidup manusia, dan isu-isu aktual
yang berkaitan dengan budaya, sosial, poloitik, ekonomi, teknologi, moral, ilmu
pengetahuan dan hak asasi manusia.[27]
Ciri lainnya adalah filsafat dewasa ini
ditandai oleh profesionalisasi disiplin filsafat. Maksudnya, para filusuf bukan
hanya profesional di bidangnya masing-masing, tetapi juga mereka telah
membentuk komunitas-komunitas dan asosiasi-asosiasi profesional di
bidang-bidang tertentu berdasarkan pada minat dan keahlian mereka
masing-masing. Oleh sebab itu, profesionalisasi disiplin filsafat pun tampak
dengan jelas dari munculnya jurnal-jurnal terkemuka dalam bidang filsafat. Ada
cukup banyak jurnal filsafat, baik yang diterbitkan dalam bentuk cetak maupun
elektronik (online atau e-journal).
Dengan demikian, tentunya dewasa ini
sesungguhnya menuntut kita untuk mampu berpartisipasi aktif dalam menyumbangkan
ide-ide dan gagasan filosofis sesuai bidang kita masing-masing. Hal tersebut
dapat dilakukan melalui budaya menulis karya ilmiah untuk kemudian diterbitkan
dalam berbagai jurnal ilmiah.
D.
Aliran-Aliran
dalam Filsafat Ilmu
Aliran-Aliran
dalam Filsafat Ilmu
Persoalan pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber
pengetahuan, dijawab oleh aliran berikut:
pengetahuan, dijawab oleh aliran berikut:
1. Rasionalisme
Latar belakang
munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala
pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah diterima tetapi ternyata
tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang
ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh
khayalan-khayalan.
munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala
pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah diterima tetapi ternyata
tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang
ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh
khayalan-khayalan.
Secara etimologis rasionalisme berasal dari
kata bahasa Inggris rationalism. Kata ini berakar dari kata dalam bahasa latin
ratio yang berarti “akal”. Menurut A.R. lacey berdasarkan akar katanya
rasionalisme adalah : sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan
sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Rasionalisme adalah merupakan faham
atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Selain
itu tidak ada sumber kebenaran hakiki.
Sementara itu, secara terminologis aliran ini
dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi
peranan utama dalam penjelasan. ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber
utama pengetahuan, mendahului dan bebas dari pengamatan indrawi. Hanya pengetahuan
yang diperoleh melalui akal yang memenuhi semua syarat pengetahuan ilmiah alat
terpenting dalam memperoleh pengatahun dan mengetes pengetahuan. “Pengalaman
hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal”.[28]
Rasionalisme
dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang disebut sebagai bapak filsafat
modern. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ia
menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandinganya, harus disusun
oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang
umum.
Rene Descartes
yang mendirikan aliran rasionalisme berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang
dapat dipercaya adalah akal. Hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah
yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan
akal dapat diperoleh kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan
dalam ilmu pasti.
Descartes
menginginkan cara yang baru dalam berpikir, maka diperlikan titik tolak
pemikiran yang pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan, Cogito ergo
sum (saya berfikir maka saya ada). Jelasya, bertolak dari keraguan untuk
mendapatkan kepastian.[29]
Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah:
1)
Blaise Pascal
Blaise Pascal
2)
Cristian Wolf
Cristian Wolf
3)
Rene Descartes
Rene Descartes
4)
Baruch Spinoza
Baruch Spinoza
5)
G.W Leibnitz[30]
G.W Leibnitz[30]
2. Empirisme
Empirisme secara etimologis berasal dari kata
bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata
bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman.[31]
Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran
dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau
parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.[32]
bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata
bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman.[31]
Sementara menurut A.R. Lacey berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran
dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau
parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.[32]
Selanjutnya
secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme, di
antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam
pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan
menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber
pengetahuan, dan bukan akal.[33]
Dengan demikian, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang
sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari
panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata
lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai Empirisme, di
antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam
pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan
menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber
pengetahuan, dan bukan akal.[33]
Dengan demikian, empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang
sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari
panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata
lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Aliran
empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobes (1588-1679),
namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke (1632-1704)
Berkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776).[34]
3. Realisme
Dengan memasuki
abad ke-20, realisme muncul,khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Real
berarti yang aktual atau yang ada, kata tersebut menunjuk kepada benda‑benda atau
kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh, artinya yang bukan sekadar khayalan
atau apa yang ada dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah
keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada, yakni bertentangan dengan
yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada
apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan
tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
abad ke-20, realisme muncul,khususnya di Inggris dan Amerika Utara. Real
berarti yang aktual atau yang ada, kata tersebut menunjuk kepada benda‑benda atau
kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh, artinya yang bukan sekadar khayalan
atau apa yang ada dalam pikiran. Real menunjukkan apa yang ada. Reality adalah
keadaan atau sifat benda yang real atau yang ada, yakni bertentangan dengan
yang tampak. Dalam arti umum, realisme berarti kepatuhan kepada fakta, kepada
apa yang terjadi, jadi bukan kepada yang diharapkan atau yang diinginkan. Akan
tetapi dalam filsafat, kata realisme dipakai dalam arti yang lebih teknis.
Dalam arti
filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah
real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita
ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Bagi
kelompok realis, alam itu, dan satu‑satunya hal
yang dapat kita lakukan adalah: menjalin hubungan yang baik dengannya. Kelompok
realis berusaha untuk melakukan hal ini, bukan untuk menafsirkannya menurut
keinginan atau kepercayaan yang belum dicoba kebenarannya. Seorang realis
bangsa Inggris, John Macmurray mengatakan:
Kita tidak bisa
melpaskan diri dari fakta bahwa terdapat perbedaan antara benda dan ide. Bagi
common sense biasa, ide adalah ide tentang sesuatu benda, suatu fikiran dalam
akal kita yang menunjuk suatu benda. Dalam hal ini benda dalah realitas dan ide
adalah ‘bagaimana benda itu nampak pada kita’. Oleh karena itu, maka fikiran
kita harus menyesuaikan diri dengan benda-benda, jika mau menjadi benar, yakni
jika kita ingin agar ide kita menjadi benar, jika ide kita cocok dengan
bendanya, maka ide itu salah dan tidak berfaedah. Benda tidak menyesuaikan
dengan ide kita tentang benda tersebut. Kita harus mengganti ide-ide kita dan
terus selalu menggantinya sampai kita mendapatkan ide yang benar. Cara berpikir
common sense semacam itu adalah cara yang realis; cara tersebut adalah
realis karena ia menjadikan ‘benda’ adalah bukan ‘ide’ sebagai ukuran
kebenaran, pusat arti. Realisme menjadikan benda itu dari real dan ide itu
penampakkan benda yang benar atau yang keliru.[35]
melpaskan diri dari fakta bahwa terdapat perbedaan antara benda dan ide. Bagi
common sense biasa, ide adalah ide tentang sesuatu benda, suatu fikiran dalam
akal kita yang menunjuk suatu benda. Dalam hal ini benda dalah realitas dan ide
adalah ‘bagaimana benda itu nampak pada kita’. Oleh karena itu, maka fikiran
kita harus menyesuaikan diri dengan benda-benda, jika mau menjadi benar, yakni
jika kita ingin agar ide kita menjadi benar, jika ide kita cocok dengan
bendanya, maka ide itu salah dan tidak berfaedah. Benda tidak menyesuaikan
dengan ide kita tentang benda tersebut. Kita harus mengganti ide-ide kita dan
terus selalu menggantinya sampai kita mendapatkan ide yang benar. Cara berpikir
common sense semacam itu adalah cara yang realis; cara tersebut adalah
realis karena ia menjadikan ‘benda’ adalah bukan ‘ide’ sebagai ukuran
kebenaran, pusat arti. Realisme menjadikan benda itu dari real dan ide itu
penampakkan benda yang benar atau yang keliru.[35]
Maka dengan
demikian realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa
objek-objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya dan tidak bergantung pada
yang mengetahui, atau pun pikiran. Dunia ada sebelum dan sesudah pikiran.
demikian realisme adalah aliran yang menyatakan bahwa
objek-objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya dan tidak bergantung pada
yang mengetahui, atau pun pikiran. Dunia ada sebelum dan sesudah pikiran.
4. Kritisisme
Secara harfiah,
kata kritik berarti pemisahan. Jadi filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran
atas kemampuan-kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan batas-batas
kemampuannya untuk memberi tempat iman dan kepercayaan.[36]
kata kritik berarti pemisahan. Jadi filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran
atas kemampuan-kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan batas-batas
kemampuannya untuk memberi tempat iman dan kepercayaan.[36]
Tokoh aliran
kritisisme adalah Imanuel Kant.
Filsafat Kant merupakan titik tolak periode baru bagi filsafat barat. Ia
menyimpulkan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme.[37]
Pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian tepengaruh oleh
empirisnya (Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya
karena ia mengetahui bahwa empirisme terkadang skeptisisme. Untuk itu, ia tetap
mengakui kebenaran ilmu, dan dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran.[38]
kritisisme adalah Imanuel Kant.
Filsafat Kant merupakan titik tolak periode baru bagi filsafat barat. Ia
menyimpulkan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme.[37]
Pada awalnya, Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian tepengaruh oleh
empirisnya (Hume). Walaupun demikian, Kant tidak begitu mudah menerimanya
karena ia mengetahui bahwa empirisme terkadang skeptisisme. Untuk itu, ia tetap
mengakui kebenaran ilmu, dan dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran.[38]
Akhirnya Kant
mengakui peranan akal dan keharusan empiri, kemudian dicobanya mengadakan
sintesis. Walaupun pengetahuan bersumber dari akal (rasionalisme), tetapi
adanya pengertian timbul dati benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus
mempunyai sayap (rasio) dan udara (empiri). Jadi, metode berpikirnya disebut
kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi
ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Sehingga
akal mengenal batas-batasnya.[39]
Adapun
ciri-ciri Kritisisme adalah adalah sebagai berikut:
- Menganggap
obyek pengenalan berpusat pada subyek dan bukan pada obyek - Manegaskan
keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat
sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja. - Menjelaskan
bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara
peranan unsur apriori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan
peranan unsure aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.[40]
Maka dapat
disimpulkan bahwa kritisisme adalah aliran yang berusaha menjawab
persoalan pengetahuan dengan tokohnya Imanuel Kant yang pemikirannya bertolak
pada ruang dan waktu sebagai dua bentuk pengamatan. Akal menerima bahan-bahan
pengetahuan dari empiri (indera dan pengalaman) dan mengaturnya dalam bentuk
pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pegetahuan,
sedangkan pengolahan oleh akal merupakan pembentuknya.
disimpulkan bahwa kritisisme adalah aliran yang berusaha menjawab
persoalan pengetahuan dengan tokohnya Imanuel Kant yang pemikirannya bertolak
pada ruang dan waktu sebagai dua bentuk pengamatan. Akal menerima bahan-bahan
pengetahuan dari empiri (indera dan pengalaman) dan mengaturnya dalam bentuk
pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pegetahuan,
sedangkan pengolahan oleh akal merupakan pembentuknya.
5. Idalisme
Idealime adalah
sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz
pada awal abad 18. ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya
memperlawankan dengan materialisme. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat
yang memandang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas.[41]
selain itu, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia
fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah
idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan
ini telah dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern dipelopori oleh J.G. Fichte,
Sckelling, dan Hegel.[42]
sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz
pada awal abad 18. ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya
memperlawankan dengan materialisme. Istilah Idealisme adalah aliran filsafat
yang memandang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas.[41]
selain itu, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia
fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah
idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan
ini telah dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern dipelopori oleh J.G. Fichte,
Sckelling, dan Hegel.[42]
Pokok utama
yang diajukan oleh idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam
alam semesta. Sebenarnya, idealisme tidak mengingkari materi. Namun, materi
adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab, seseorang akan
memikirkan materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus memikirkan roh atau
akal. Jika seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya materi itu, dia harus
meneliti apakah pikiran itu, apakah nilai itu, dan apakah akal budi itu,
bukannya apakah materi itu.
Paham ini
beranggapan bahwa jiwa adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia ada karena ada
unsur yang tidak terlihat yang mengandung sikap dan tindakan manusia. Manusia
lebih dipandang sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Untuk menjadi manusia maka
peralatan yang digunakannya bukan semata-mata peralatan jasmaniah yang mencakup
hanya peralatan panca indera, tetapi juga peralatan rohaniah yang mencakup akal
dan budi. Justru akal dan budilah yang menentukan kualitas manusia.[43]
6. Positivisme
Pendiri dan sekaligus tokoh terpenting dari
aliran filsafat positivisme adalah Aguste Comte. Aliran positivisme
berpendirian bahwa kepercayaan-kepercayaan yang dogmatis harus digantikan
dengan pengetahuan faktawi. Apa pun yang di luar dunia pengalaman tidak perlu diperhatikan.
Manusia harus menaruh perhatian pada dunia ini. Beberapa tokoh diantaranya mengatakan bahwa pernyataan yang
mengandung arti adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara empiris.
Pengalaman yang tidak berdasar dan tidak dapat diverifikasi dianggap tidak
bermakna atau bukan merupakan pengetahuan.[44]
aliran filsafat positivisme adalah Aguste Comte. Aliran positivisme
berpendirian bahwa kepercayaan-kepercayaan yang dogmatis harus digantikan
dengan pengetahuan faktawi. Apa pun yang di luar dunia pengalaman tidak perlu diperhatikan.
Manusia harus menaruh perhatian pada dunia ini. Beberapa tokoh diantaranya mengatakan bahwa pernyataan yang
mengandung arti adalah pernyataan yang dapat diverifikasi secara empiris.
Pengalaman yang tidak berdasar dan tidak dapat diverifikasi dianggap tidak
bermakna atau bukan merupakan pengetahuan.[44]
Ide-ide pokok
positivisme, antara lain :
- 1)
Bahwa ilmu
pengetahuan merupakan jenis pengetahuan yang paling tinggi tingkatannya, dan
karenanya kajian filsafat harus juga bersifat ilmiah (that science is the
highest form of knowledge and that philosophy thus must be scientific). - 2)
Bahwa hanya ada
satu jenis metode ilmiah yang berlaku secara umum, untuk segala bidang atau disiplin
ilmu, yakni metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu alam. - 3)
Bahwa
pandangan-pandangan metafisik tidak dapat diterima sebagai ilmu, tetapi
“sekadar” merupakan pseudoscientific.[45]
Jadi, kebenaran
yang dianut positivisme dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori
korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat
fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain,
suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan
tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh
pernyataan tersebut.[46]
yang dianut positivisme dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori
korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat
fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain,
suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan
tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh
pernyataan tersebut.[46]
7. Pragmatisme
Pragmatisme
diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.
pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914).
Sebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk
memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.[47]
Sedangkan, Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat
yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan),
serta kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan,
definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara
berguna.[48]
diambil dari kata Pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.
pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914).
Sebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk
memperjelas suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.[47]
Sedangkan, Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat
yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan),
serta kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan,
definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara
berguna.[48]
Aliran
pragmatisme pertama kali tumbuh di Amerika sekitar abad 19 hingga awal 20.
Aliran ini melahirkan beberapa nama yang cukup berpengaruh mulai Charles
Sanders Pierce (1839-1914), William James (1842-1910), John Dewey, dan seorang
pemikir yang juga cukup menonjol bernama George Herbert Mead (1863-1931).
Charles S. Pierce-lah yang membiasakan istilah ini dengan ungkapannya,
“Tentukan apa akibatnya, apakah dapat dipahami secara praktis atau tidak. Kita
akan mendapat pengertian tentang objek itu, kemudian konsep kita tentang akibat
itu, itulah keseluruhan konsep objek tersebut.” Ia juga menambahkan, untuk
mengukur kebenaran suatu konsep, kita harus mempertimbangkan apa konsekuensi
logis penerapan konsep tersebut. Bila suatu konsep yang dipraktekkan tidak mempunyai
akibat apa-apa, maka konsep itu tidak mempunyai pengertian apa-apa bagi kita.
Selain itu, menurut John Dewey, kegunaan atau kemanfaatan
untuk umum hendaknya menjadi ukuran, sedangkan daya untuk mengetahui dan daya
untuk berpikir merupakan sarana.[49]Dengan demikian aliran ini tidak
mempersoalkan apa hakekat pengetahuan melainkan menanyakan apa guna pengetahuan
tersebut.
E.
Kesimpulan
Kesimpulan
Perkembangan
ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara
mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Di dalam banyak
literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal
berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia.
Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola
pikir yang berkembang saat itu. Dengan paradigma tersebut, ilmu pengetahuan
berkembang sangat pesat hingga saat ini.
ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara
mendadak, melainkan melalui proses bertahap, dan evolutif. Di dalam banyak
literatur menyebutkan bahwa periode Yunani merupakan tonggak awal
berkembangnnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia.
Perkembangan ilmu ini dilatarbelakangi dengan perubahan paradigma dan pola
pikir yang berkembang saat itu. Dengan paradigma tersebut, ilmu pengetahuan
berkembang sangat pesat hingga saat ini.
Secara garis
besar, periodeisasi sejarah perkembangan filsafat ilmu pengetahuan menjadi
empat periode: pada zaman Yunani kuno, pada zaman Islam, pada zaman renaisans
dan modern, dan pada zaman kontemporer.
Adapun
aliran-aliran dalam filsafat ilmu terbagi ke dalam:
aliran-aliran dalam filsafat ilmu terbagi ke dalam:
1.
Rasionalisme
Rasionalisme
2.
Empirisme
Empirisme
3.
Realisme
Realisme
5.
Idealisme
Idealisme
6.
Positivisme
Positivisme
7.
Pragmatisme
Pragmatisme
F. Daftar Pustaka
Ahmad Tafsir. 1990. Filsafat
Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya.
___________. 2000. Filsafat
Umum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Umum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Amsal Bakhtiar. 2013. Filsafat
Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Anton Baker. 1986. Metode-metode
Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Asoro Achmadi. 2008. Filsafat
Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Atang Abdul Hakim. 2008. Filsafat
Umum dari Metologi sampai Teofiologi. Bandung: Pustaka Setia
Umum dari Metologi sampai Teofiologi. Bandung: Pustaka Setia
Delfgaauw, Bernard. 1992. Sejarah
Singkat Fisafat Barat.Yoyakarta: Tiara Wacana.
Singkat Fisafat Barat.Yoyakarta: Tiara Wacana.
Felix Klein-Franke. 2003. Ensiklopedi
Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman.
Bandung: Mizan.
Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman.
Bandung: Mizan.
Harold H.Titus,
dkk. Tth. Living in
Philosophy. Jakarta: Bulan Bintang
dkk. Tth. Living in
Philosophy. Jakarta: Bulan Bintang
Harun Nasution. 1998. Islam Rasional.
Bandung: Mizan.
Bandung: Mizan.
Jerome R. Ravertz. 2004. Filsafat
Ilmu : Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cetakan Ke-IV. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Ilmu : Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan. Cetakan Ke-IV. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
K. Bertens. 1986. Ringkasan
Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Lorens Bagus. 2005. Kamus
Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mohammad Muslih. 2004. Filsafat
Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.
Yogyakarta: Belukar.
Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.
Yogyakarta: Belukar.
Rasjidi. 1997. Filsafat Agama.
Jakarta: Bulan Bintang.
Jakarta: Bulan Bintang.
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir.
2002. Filsafat Ilmu. Cet Ke-II.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
2002. Filsafat Ilmu. Cet Ke-II.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Russell, Betrand. 2002. Sejarah
Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno
hingga sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno
hingga sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat
Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara
_______. 2007. Filsafat
Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas
Filsafat UGM. 1996. Filsafat Ilmu. Yogykarta: Liberty.
Filsafat UGM. 1996. Filsafat Ilmu. Yogykarta: Liberty.
W. Montgomery Watt. 1997.
Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Zainal Abidin. 2012. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Rajawali Pers
[2] Rizal Mustansyir dan Misnal
Munir, Filsafat Ilmu, Cet Ke-II, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2002), hlm. 128
Munir, Filsafat Ilmu, Cet Ke-II, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2002), hlm. 128
[3] K.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm.
32.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm.
32.
[4] K.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat
[5] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2013), hlm. 21-67.
Grafindo Persada, 2013), hlm. 21-67.
[7] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, hlm
30
30
[8] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu :
Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan, cetakan Ke-IV (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2004), hlm 10
Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan, cetakan Ke-IV (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 2004), hlm 10
[9] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu, hlm.
30
30
[10] Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat 1
[11] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan
Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2007), hlm.
85
Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2007), hlm.
85
[12] Surajiyo, Filsafat Ilmu
[13] Jerome R. Ravertz, Filsafat
Ilmu, hlm. 16
Ilmu, hlm. 16
[14] Baca lebih lanjut Joseph A.
Schumpeter, A History of Economic Analysis, (New york : Oxford
University Press, 1954), dan Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro
Islami, Edisi Ketiga. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm
10-11
Schumpeter, A History of Economic Analysis, (New york : Oxford
University Press, 1954), dan Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro
Islami, Edisi Ketiga. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm
10-11
[15] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat
Ilmu,Cet Ke-II (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2002),
hlm. 128
Ilmu,Cet Ke-II (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2002),
hlm. 128
[16] Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung:
Mizan, 1998), hlm.7
Mizan, 1998), hlm.7
[17] W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban
Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm. 44-45
Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm. 44-45
[18] Pembahasan lebih detil tentang sosok, karya,
dan pengaruh Abū Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī bisa dibaca dalam: Lenn
E. Goodman, “Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī”, dalam Ensiklopedi Tematis
Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (Bandung:
Mizan, 2003), hlm. 243-265.
dan pengaruh Abū Bakar Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī bisa dibaca dalam: Lenn
E. Goodman, “Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī”, dalam Ensiklopedi Tematis
Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (Bandung:
Mizan, 2003), hlm. 243-265.
[19] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat
UGM, Filsafat Ilmu, (Yogykarta : Liberty, 1996), hlm 42.
UGM, Filsafat Ilmu, (Yogykarta : Liberty, 1996), hlm 42.
[21] Felix Klein-Franke, “Al-Kindī”, dalam Ensiklopedi
Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman
(Bandung: Mizan, 2003), hlm. 209-210
Tematis Filsafat Islam, Vol. 1, ed. Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman
(Bandung: Mizan, 2003), hlm. 209-210
[22] Russell, Betrand, Sejarah Filsafat
Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga
sekarang. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm 567.
Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga
sekarang. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm 567.
[23] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat
UGM, Filsafat Ilmu, hlm. 42-43
UGM, Filsafat Ilmu, hlm. 42-43
[24] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, hlm.
50
50
[25] K.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, hlm. 32.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, hlm. 32.
[26] K.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat
[29]
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm. 137-141
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm. 137-141
[30] Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu
Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara,2005), hlm. 66
Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara,2005), hlm. 66
[31]Mohammad
Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori
Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004), hlm. 52
Muslih, Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori
Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004), hlm. 52
[32] http://id.wikipedia.org/wiki/Empirisme diakses pada
tanggal 20 oktober 2014
tanggal 20 oktober 2014
[33]
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu.
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu.
[34]
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu,
hlm 53.
Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu,
hlm 53.
[36] Ahmad
Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung:
Rosda, 1990), hlm. 157
Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, (Bandung:
Rosda, 1990), hlm. 157
[37]
Anton Baker, Metode-Metode Filsafat, (Jakarta Ghalia Indonesia,1986),
hlm. 88
Anton Baker, Metode-Metode Filsafat, (Jakarta Ghalia Indonesia,1986),
hlm. 88
[38]
Asoro Achmadi, Filsafat Umum, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008),
hlm. 140
Asoro Achmadi, Filsafat Umum, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008),
hlm. 140
[40]
Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofiologi,
(Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 283
Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofiologi,
(Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 283
[41]
Lorens Bagus., Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)
Lorens Bagus., Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005)
[42] Delfgaauw,
Bernard, Sejarah Singkat Fisafat Barat, (Yoyakarta: Tiara Wacana, 1992),
hlm. 59
Bernard, Sejarah Singkat Fisafat Barat, (Yoyakarta: Tiara Wacana, 1992),
hlm. 59
