Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M
2. Manusia sebagai Makhluk Sosial
Menurut pandangan Islam, hidup bermasyarakat bagi manusia adalah sunnatullah. Prinsip hidup bermasyarakat banyak diuraikan dalam Al-Qur’an diantaranya Al Anfal (72), Al Hasyr (9), Ali Imran (103), Al Hujarat (10) dan Al Maidah (2). Adapun dari pandangan ilmu pengetahuan, keniscayaan manusia sebagai makhluk sosial sudah menjadi kesepakatan umum. Individu yang tidak berhubungan dengan individu lainya adalah sesuatu yang tak lengkap, dan jarang sekali ditemui di kenyataan. Dari tinjauan psikologis, manusia memiliki dua dorongan hidup, yakni dorongan keakuan dan kekitaan. Kedua dorongan inilah yang menjadi dasar munculnya dua hakikay sifat manusiam, yaitu sebagai mahkluk individu sekaligus makhluk sosial.
Islam memandang bahwa bermasyarakat adalah suatu keharusan. Mustahil manusia dapat hidup memencil seorang diri. Setiap manusia memiliki kelebihi dan kekurangan, sehingga sikap tolong menolong menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan setiap muslim diwajibkan untuk memikirkan keadaan masyarakat di sekitarnya. Islam sangat menekankan pentingnya menghormati dan mencintai sesama. Rasulullah saw, bersabda: “Tidaklah beriman seorang di antara kalian hingga ia dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (H.R. Bukhari)
Selain hidup tolong menolong dan bermasyarakat, kecendrungan manusia lainnya adalah berorganisasi. Karena untuk mencapai tujuan dan maksud tertentu mem butuhkan bantuan orang lain. Pencapaian tujuan yang melibatkan banyak orang juga membutuhkan sebuah pengaturan. Dengan kata lain pengaturan ini biasa disebut pengorganisasian. Dengan pengorganisasian, tujuan atau keinginan akan lebih mudah tercapai karena proses pencapaiannya lebih teratur dan terarah.
Muhammadiyah merupakan wujud nyata bahwa tujuan besar perlu dicapai dengan proses atau pengaturan yang besar pula. Mewujudkan baldatun tayyibatun wa rabbun gafur bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan oleh orang seorang. Perlu sebuah rencana dan langkah-langkah terarah agar segala gerak yang dilakukan tidak melenceng dari tujuan. Oleh karena itu tidaklah salah jika K.H. Ahmad Dahlan membangun gerakannya dalam bentuk perserikatan yang terorganisir.
3. Manusia sebagai Makhluk Individu
Secara individu, manusia pada hakikatnya berposisi sebagai hamba sekaligus khalifah Allah (khalifatullah fi al-ard). Dalam arti bahasa, khalifah berarti ‘wakil’, jadi dapat diartikan sebagai wakil Allah di bumi. Artinya kita diberi wewenang penuh untuk mengelola bumi. Pengelolaan itu tentunya akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan-Nya kelak. Penunjukan sebagai khalifatullah ini sekaligus menandakan bahwa manusia pada dasarnya dibekali kemampuan untuk mengelola. Manusia memiliki potensi untuk terus berkembang mangikuti perubahan zaman. dengan begitu, tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi dapat terlaksana.
Sebagai khalifatullah fi al-ard, manusia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya sendiri dan juga masyarakat. Sebagai wujud tanggung jawab terhadap diri, kita harus memiliki etos kerja Islami dalam menjalani kehidupan. Etos kerja itu antara lain berupa kerja keras, disiplin, tidak menyia-nyiakan waktu, dan berupaya maksimal dalam mencapai tujuan. tak kalah penting pula, semangat pantang putus asa harus dimiliki oleh seorang muslim. Hal ini dikarenakan disetiap kesusahan senantiasa beriringan dengan kemudahan (QS Al Insyirah: 5-8)
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)
