Ranah Penilaian Pembelajaran

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak. Benjamin S Bloom, dkk berpendapat bahwa pengelompokan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu (a) Ranah proses berfikir atau cognitive domain, (b) Ranah nilai skiap  atau affective domain, (c) Ranah keterampila atau psychomotor domain

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai  isi bahan pengajaran. 

1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami, menghafal, mengaplikasi, menganalisi, mensintesis  dan kemampuan mengevaluasi. Cakupan yang diukur dalam ranah kognitif adalah ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6).

Contohnya siswa dibina kompetensinya menyagkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Namun untuk dapat melukis jaring-jaring kubus setidaknya diperlukan pengetahuan (kognitif) tentang bentuk-bentuk jaring kubus dan cara-cara melukis garis-garis tegak lurus.

2. Ranah Afektif 
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nalai. Ranah afektif  menjajdi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu (1) receiving, (2) responding, (3) valuing, (4) organization, (5) characterization by evalue or calue complex. Ciri-ciri ranah penilaian afektif yaitu pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasi sebagai ranag afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku haris tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedangkan kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. 

Ranag afektif tidak dapat diukut seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: menerima, merespon, menghargai, mengorganisasi.

  • Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarhkan perhatian.
  • Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan.
  • Menghargai, meliputi meneriam suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
  • Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai. 

Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu (a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim, (b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengataman.

3. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini   tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.
Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama prosis pembelajar praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi: (a) gerak reflek, (b) gerak dasar fundamen, (c) keterampilan perseptual, diskriminnasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perptual yang terkoordinasi, (d) keterampilan fisik, (e) gerak terampil, (f) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerak ekspresif, gerak interprestatif. 
Tes untuk mengukur psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat berupa tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes untuk kerja.
     

 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *