Last Updated on 22.08.2026 by Zulfahmi M
Beberapa prinsip metodologi oleh
beberapa ahli, di antaranya:
beberapa ahli, di antaranya:
A.
Rene Descartes
Dalam karyanya Discourse On
Methoda, dikemukakan 5 (Lima ) prinsip metodologi yaitu:
Rene Descartes
Dalam karyanya Discourse On
Methoda, dikemukakan 5 (Lima ) prinsip metodologi yaitu:
1. Membicarakan
masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal sehat (common sense)
yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat menurut Descartes ada
yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting
adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal sehat (common sense)
yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat menurut Descartes ada
yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya, namun yang terpenting
adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.
2. Menjelaskan
kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas
ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat) langkah atau aturan
yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu:
kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan dalam aktivitas
ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat) langkah atau aturan
yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu:
a) Jangan
pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak mempunyai
pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya. Artinya, dengan cermat hindari
kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan jangan memasukkan
apapun ke dalam pertimbangan anda lebih dari pada yang terpapar dengan begitu
jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi,
pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak mempunyai
pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya. Artinya, dengan cermat hindari
kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan jangan memasukkan
apapun ke dalam pertimbangan anda lebih dari pada yang terpapar dengan begitu
jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi,
b) Pecahkanlah
setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat
dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.
setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan sebanyak yang dapat
dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara lebih baik.
c) Arahkan
pemikiran anda secara jernih dan tertib, mulai dari objek yang paling sederhana
dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, setahap demi
setahap ke pengetahuan yang paling kompleks, dan dengan mengandaikan sesuatu
urutan bahkan di antara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban baru.
pemikiran anda secara jernih dan tertib, mulai dari objek yang paling sederhana
dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi sedikit, setahap demi
setahap ke pengetahuan yang paling kompleks, dan dengan mengandaikan sesuatu
urutan bahkan di antara objek yang sebelum itu tidak mempunyai ketertiban baru.
d) Buatlah
penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan adakan tinjauan
ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak suatu pun yang
ketinggalan.
penomoran untuk seluruh permasalahan selengkap mungkin, dan adakan tinjauan
ulang secara menyeluruh sehingga anda dapat merasa pasti tidak suatu pun yang
ketinggalan.
e) Langkah
yang digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam
memperoleh kebenaran yang pasti.
yang digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam
memperoleh kebenaran yang pasti.
3. Menyebutkan
beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai
berikut.
beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan metode sebagai
berikut.
a) Mematuhi
undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang
diajarkan sejak masa kanak-kanak.
undang-undang dan adat istiadat negeri, sambil berpegang pada agama yang
diajarkan sejak masa kanak-kanak.
b) Bertindak
tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling
meragukan.
tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun yang paling
meragukan.
c) Berusaha
lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia.
lebih mengubah diri sendiri dari pada merombak tatanan dunia.
4. Menegaskan
pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak
berubah namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi,
karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena
itu, kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin
meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu.
pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera. Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak
berubah namun kita tidak dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi,
karena terbukti kita dapat menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena
itu, kita dapat saja meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin
meragukan kita sendiri yang sedang dalam keadaan ragu-ragu.
5. Menegaskan
perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi yaitu
RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani yang meluas). Tubuh
(Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya karena ciptaan Tuhan, maka
tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua kodrat ialah jiwa bernalar
dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat
tidak mungkin mati bersama dengan tubuh.
Jiwa manusia itu abadi.
perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua substansi yaitu
RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani yang meluas). Tubuh
(Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya karena ciptaan Tuhan, maka
tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua kodrat ialah jiwa bernalar
dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat
tidak mungkin mati bersama dengan tubuh.
Jiwa manusia itu abadi.
B.
Alfred Julesayer
Alfred Julesayer
Dalam karyanya yang
berjudul Language, Truth and Logic yang terkait dengan prinsip metodologi
adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu:
berjudul Language, Truth and Logic yang terkait dengan prinsip metodologi
adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu:
1. Verifikasi
dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu
proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan
dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu
proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan
2. Verifikasi
dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima
pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai
pernyataan yang mengandung makna
dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima
pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai
pernyataan yang mengandung makna
3. Ayer
menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-pernyataan
metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang MEANING LESS
(tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi apapun.
menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-pernyataan
metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang MEANING LESS
(tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi apapun.
C.
Karl Raimund Popper
Karl Raimund Popper
K.R. Popper seorang filsuf
kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat
pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada. K.R. Popper
mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut:
kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip verifikasi berupa sifat
pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada. K.R. Popper
mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut:
1.
Popper menolak anggapan
umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui
prinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan
sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk
digantikan oleh teori lain yang lebih tepat.
Popper menolak anggapan
umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat dibuktikan kebenarannya melalui
prinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu bersifat hipotetis (dugaan
sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk
digantikan oleh teori lain yang lebih tepat.
2.
Cara kerja metode induksi
yang secara sistematis dimulai dari pengamatan (observasi) secara teliti gejala (simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang berulang
-ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumuskan menjadi
hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti
empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil dibenarkan
(justifikasi) akan berubah menjadi hukum. K.R. Popper menolak cara kerja di
atas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa
sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi
pengamatan empiris.
Cara kerja metode induksi
yang secara sistematis dimulai dari pengamatan (observasi) secara teliti gejala (simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang berulang
-ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumuskan menjadi
hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan bukti-bukti
empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil dibenarkan
(justifikasi) akan berubah menjadi hukum. K.R. Popper menolak cara kerja di
atas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa
sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi
pengamatan empiris.
3.
K.R Popper menawarkan
pemecahan baru dengan mengajukan prinsip falsifa bilitas, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat
dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori
kebenarannya bersifat sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan
yang ada di dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa semua angsa berbulu
putih melalui prinsip falsifiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang
bukan berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah
pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan segala
usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh (CORROBORATION).
K.R Popper menawarkan
pemecahan baru dengan mengajukan prinsip falsifa bilitas, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat
dibuktikan kesalahannya. Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori
kebenarannya bersifat sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan
yang ada di dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa semua angsa berbulu
putih melalui prinsip falsifiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang
bukan berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah
pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan segala
usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh (CORROBORATION).
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)