Peran Bimbingan Konseling dalam Kegiatan Proses Pembelajaran

Guru bimbingan konseling berpartisipasi secara aktif
dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan
keteladanan, seperti tertera dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan
dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas
peserta didik dalam proses pembelajaran, dan Pasal 12 Ayat (1b) yang menyatakan
bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan
pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Pelaksanaan
kegiatan pelayanan bimbingan: di dalam jam pembelajaran sekolah/tatap muka dan
di luar jam pembelajaran sekolah berupa layanan orientasi, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, dan mediasi (layanan yang membantu peserta
didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka), serta
kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

Kita sering melihat siswa menunjukkan sikap yang berbeda
satu dengan yang lainnya, padahal kita dapat mengenali secara pasti mana siswa
yang sedang bermasalah dan mana siswa yang tidak sedang bermasalah dalam
pembelajaran. Indikator siswa mengalami kesulitan dalam belajar dapat diketahui
dari berbagai jenis gejalanya sepertinya dikemukakan Ahmadi (1977) sebagai
berikut:

  • Hasil belajarnya rendah, di bawah rata-rata kelas.
  • Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang
    dilakukannya.
  • Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang,
    dusta, tidak mau menyelesaikan tugas-tugas dan sebagainya.

Apabila peserta didik berada dalam indikator tersebut di
atas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam:

  • Bimbingan belajar,
  • Bimbingan sosial
  • Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.

Dalam hal apa dan bagaimanakah
bimbingan konseling bisa berperan dalam peningkatan mutu pendidikan? Jawabannya
harus dimulai dari tiga hal yang bisa menjadi indikator dari kesuksesan
pendidikan itu sendiri, yakni administrasi sekolah, pengajaran dan pembelajaran
yang dilakukan, dan tentu saja hasil yang diperoleh oleh siswa.

Pertama, kaitan antara bimbingan konseling dengan
administrasi sekolah, di mana yang dimaksud dengan administrasi sekolah
bukanlah aspek tata usaha, melainkan lebih pada aspek manajerial dan
kepemimpinan sekolah. Secara khusus bimbingan konseling dan administrasi
sekolah mempunyai hubungan yang bersifat mutualistik. Administrasi sekolah
membutuhkan bimbingan konseling dalam hal masukan, saran-saran, dam
laporan-laporan yang terutama berkaitan dengan kebutuhan siswa, tujuannya
adalah supaya terjadi peningkatan mutu dan layanan yang diberikan pihak sekolah
terhadap siswa (Winkel, 2005).

Kedua, kaitan antara bimbingan konseling dengan aspek
pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Aspek pengajaran dan pembelajaran di
sekolah identik dengan kurikulum yang ada, di mana kemudian tujuannya adalah
menyediakan pengalaman belajar bagi siswa. Sedangkan bimbingan konseling
membantu siswa untuk meresapi pengalaman belajar tersebut. Dengan kata lain, bidang
pengajaran menyajikan pengalaman belajar, sedangkan bimbingan konseling
mengajak siswa untuk merefleksikan pengalaman belajar itu dalam konteks
personal dan sosialnya (Winkel, 2005). Artinya dengan masukan dari bimbingan
konseling, kurikulum bisa menjadi lebih personal bagi siswa. Bimbingan
konseling juga dapat membantu peningkatan aspek pengajaran dan pembelajaran
dalam hal pengembangan kurikulum (agar sesuai dengan kebutuhan dan kapabilitas
siswa) dan juga dalam penentuan penjurusan siswa, terutama agar penjurusan
siswa tidak hanya didasarkan pada hasil tes IQ semata, tetapi juga
memperhitungkan aspek minat, bakat, psikologis, dan kompetensi siswa.

Ketiga, keterkaitan antara bimbingan konseling dengan
siswa. Di mana sesungguhnya, bimbingan konseling punya peran besar dalam
meningkatkan kualitas siswa. Hal ini sejalan dengan tujuan utama dari bimbingan
dan konseling di sekolah yakni untuk membantu individu (siswa) mengembangkan
diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang
dimilikinya (seperti: kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar
belakang yang ada (seperti: latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial
ekonomi) serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini
bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna
dalam hidupnya yang memiliki wawasan, pandangan, interpretasi,
pilihan, penyesuaian dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri
dan lingkungannya (Prayitno, 2004). 

Bimbingan konseling bertugas untuk membantu
siswa dalam hal perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis),
mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi
mereka, sekarang maupun kelak, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya,
serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu, serta
mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah atau hubungan
dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup (Kartono, 2007).

Sumber: Modul Mata Kuliah Profesi Kependidikan oleh Markus Deri Gilik Allo, M.Pd (Untuk Kalangan Sendiri UKI Toraja)) 2018

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *