Pengertian Sistem Pendidikan Terbuka

Last Updated on 13.06.2017 by Zulfahmi M

Sesungguhnya konsep pendidikan terbuka
telah dikenal jauh sebelum tahun 1980-an, yaitu sejak mulai populernya konsep
pembelajaran individual (sekitar tahun 1960-an dan awal 1970-an).  Pembelajaran individu menempatkan siswa
sebagai focus dari segala proses belajar dan proses mengajar.  Siswa berinisiatif dan bertanggung jawab
terhadp pengelolaan proses belajrnya, mereka dapat menentuksn apa yang sksn
dipelajarinya, mereka dapat belajar di mana saja, kapan saja, dengan cara
bagaimana saja, menggunakan apa saja, dan mereka sendiri dapat mengukur kinerja
mereka bilamana diperlukan dan dikehendaki. Di awal tahun 1960-an, Skinner
muncul dengan teori tentang programmed
learning
 dan alatnya yang dikenal
dengan nama the teaching machine sebagai
langkah awal dari pengembangan pembelajaran individual. Selanjutnya, penelitian
tentang pembelajaran individual terus dilakukan, sekaligus dilengkapi dengan perkembangan
teknologi informasi, sampai pada konsep virtual
learning
(proses belajar maya) melalui jaringan Internet. 


Istilah sistem pendidikan terbuka, sebagai
terjemahan dari istilah bahasa Inggris open
education
sering kali digunakan sebagai istilah yang sama maknanya dengan sistem
pendidikan jarak jauh (distance education).  Hal ini disebabkan oleh popularitas nama Open University dari Inggris yang
sesungguhnya merupakan lembaga pendidikan jarak jauh.  Istilah “terbuka” dalam sistem pendidikan
terbuka sebenarnya lebih berarti bebas dari keterbatasan, dan sama sekali tidak
ada hubungannya dengan sistem pendidikan jarak jauh. Dewal (1986) menyatakan
bahwa jika sistem pendidikan jarak jauh lebih mengacu kepada sistem (atau
modus) penyampaian proses pembelajaran, maka sistem pendidikan terbuka mengacu
kepada perubahan struktur organisasi pendidikan menjadi suatu organisasi yang
terbuka dalam hal tempat, waktu, materi pembelajaran, sistem pembelajaran, dan
lain-lain.  Sebuah organisasi pendidikan
jarak jauh dapat saja menerapkan sistem pendidikan terbuka, begitu juga
sebaliknya, sebuah organisasi pendidikan terbuka dapat saja menerapkan sistem
pendidikan jarak jauh. 

Menurut Foks (1987), pendidikan terbuka merupakan pola
pikir dan pendekatan yang digunakan untuk menyediakan beragam pilihan dalam
belajar bagi siswa serta memberikan sebanyak mungkin kendali bagi siswa untuk
menetukan hal yang akan dipelajari dan strategi belajar.   Cunningham (1987) menyatakan bahwa pendidikan
terbuka sama dengan self-managed learning
(proses belajar yang dikelola sendiri).


Pada dasarnya para ahli pendidikan terbuka
berpendapat bahwa pendidikan terbuka membuka kesempatan belajar kepada segala
lapisan dan kelompok masyarakat sehingga memungkinkan lebih memiliki kebebasan
pilihan dalam belajar.  Dalam hal ini,
termasuk juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat terhadap
pendidikan, dan menyediakan kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk
menhgendalikan pengelolaan proses belajar.  
Menurut beberapa ahli, sistem pendidikan terbuka adalah:
  1. Sistem di mana pembatasan terhadap siswa
    diusahakan seminimal mungkin. Sistem pendidikan terbuka menggunakan beragam
    strategi pembelajaran, khususnya belajar mandiri dan pembelajaran individu (independent and individualized learning)
    (Coffey, 1997).
     
  2. Pengaturan yang memungkainakan seseorang
    untuk belajar pada waktu, tempat, dan kecepatan yang dipilihnjya.  Penekanannya adalah pada pemberian kesempatan
    memperoleh pendidikan bagi semua orang  tanpa
    terhambat secara geografis, secara personal (sosial-ekonomi), karena pekerjaan,
    atau karena struktur sistem pendidikan konvensional (Manpower Services
    Commission, 1984).
     
  3. Bentuk pembelajaran yang dirancang secara
    fleksibel untuk memenuhi beragam kebutuhan individual siswa.  Sering kali digunakan sebagai cara untuk
    menghilangkan hambatan belajar bagi siswa yang tidak dapat hadir dalam bentuk
    pembelajaran konvensional, dan sangat berfokus pada siswa (learner centered) (Lewis & Spencer, 1986).
     
  4. Beragam kesempatan belajar yang bertujuan
    untuk memberikan   akses bagi siswa terhadap ilmu pengetahuan,
    dan keterampilan yang tidak mungkin diperoleh melalui kesempatn lain, serta
    memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengendalikan proses belajarnya
    (Dixon, 1987).
     
  5. Merupakan sebuah pola pikir dari pada suatu
    metode pembelajaran yang unik (Jack, 1988).
     
  6. Suatu sistem yang tidak  hanya berurusan dengan masalah akses, tetapi
    juga berurusan dengan masalah pemberian kesempatan yang merata bagi semua orang
    untuk berhasil (Holt & Bonnici, 1988).
Konsep inti dari definisi-definisi yang
diberika adalah “siswa memiliki kebebasan memilih”. Siswa bertanggung jawab
terhadap proses belajar mereka, mereka memiki kebebasan untuk menentukan
kecepatan belajar (pace), tempat
belajar, waktu belajar, dan proses belajar mereka.  Peraturan dan tatatertib yang diberlakukan
oleh organisasi pendidikan terbuka terhadap siswa adalah minimal.

Pada akhirnya, menurut Lewis dan Spencer
(1986), sistem pendidikan terbuka yang sangat berfokus kepada siswa bertujuan
untuk menghasilkan individu yang mandiri dan otonom (independent and autonomous individual).  Untuk mencapai tujuan tersebut, mulai dari
awal proses pembelajaran, siswa sudah diberikan kebebasan untuk memilih dan
mengelola proses belajarnya sendiri. 
Dalam hal ini, organisasi pendidikan terbuka berperan sebagai
fasilitator dalam proses belajar siswa, dengan menyediakan beragam pilihan
(bentuk, jenis, ruang lingkup, isi) bahan ajar, beragam media pembelajaran,
beragam layanan bantuan belajar (learner’s
support system
), dan beragam pilihan penilaian hasil belajar. 

Ragam pilihan bahan ajar yang digunakan
dalam sistem pendidikan terbuka adalah sama dengan pilihan bahan ajar dalam sistem
pendidikan jarak jauh.  Jika dalam sistem
pendidikan jarak jauh ragam pilihan bahan ajar merupakan media penyampaian ilmu
pengetahuan (subject matter) yang
(hampir) menggantikan kehadiran pengajar karena adanya jarak ruang dan waktu
antara siswa dan pengajar, maka dalam sistem pendidikan terbuka ragam pilihan
bahan ajar merupakan media penyampaian ilmu pengetahuan yang disediakan untuk
dipilih siswa secara bebas.  Bahan ajar
dan media pembelajaran dalam sistem pendidikan terbuka dapat dipilih siswa
sebagai sumber utama pengganti kehadiran pengajar, sebagai sumber utama di
samping kehadiran pengajar, sebagai sumber utama ditambah dengan bantuan
layanan bantuan belajar (tutorial, kelompok belajar, dll.). Pilihan siswa dalam
hal bahan ajar tidak hanya mencakup bentuk, jenis, ruang lingkup, dan/atau isi,
tetapi juga mencakup titik awal mulanya proses belajar.  Oleh karena itu, bahan ajar dalam sistem
pendidikan terbuka dikenal dengan nama bahan ajar fleksibel (flexible package).

Pada beberapa organisasi pendidikan yang
menerapkan sistem pendidikan terbuka, istilah “terbuka” juga berarti tebuka
dalam hal kriteria pendaftaran siswa.   Misalnya, Ramkhahaeng
University
di Thailand merupakan organisasi pendidikan yang menerapkan sistem
pendidikan terbuka yang menerima siswa secara terbuka, tanpa ada persyaratan
apapun.  Dapat saja seorang siswa tidak
memiliki ijazah formal sekolah menengah namun ia dapat menjadi siswa perguruan
tinggi melalui proses penilaian experiential
learning
(pengakuan dan penilaian pengalaman seseorang untuk ekuivalensi
matakuliah).

Dengan semua kebebasan yang disediakan dan
untuk mempertahankan kredibilitas, barangkali satu-satunya hal yang
dikendalikan oleh organisasi pendidikan terbuka adalah standardisasi kriteria
pemberian sertifikat atau kriteria kelulusan. 
Namun untuk mencapai kelulusan tersebut, siswa boleh memilih dan
menempuh seribu satu macam cara, sesuai dengan beragam pilihan yang disediakan
oleh organisasi pendidikan.

Jika ada sistem pendidikan terbuka, maka
ada juga sistem pendidikan tertutup. 
Kedua sistem pendidikan tersebut membentuk satu garis kontinum, mulai
dari yang paling terbuka pada satu sisi sampai yang paling tertutup di sisi
lain. Berdasarkan pengertian tentang sistenm pendidikan terbuka, sistem yang
paling terbuka tentunya akan memberikan paling banyak kebebasan untuk memilih kepada
siswa, sedangkan yang paling tertutup akan memberikan paling sedikit atau tidak
ada sama sekali kebebasan memilih kepada siswa.

Ada tiga hal utama yang dapat menjadi kriteria
seberapa terbuka suatu sistem pendidikan, yaitu Siapa yang akan belajar?; Apa
yang akan dipelajari
?; dan Bagaimana
siswa belajar
?  
Siapa
yang akan belajar?
menentukan siswa yang dapat
berpartisipasi dalam organisasi pendidikan terbuka. Semakin terbuka sistem
pendidikan yang diterapkan organisasi tersebut, semakin minimal persayaratan
masuk yang dikenakan kepada siswa. 
Misalnya Open University di
Inggris hanya mempersyaratkan  usia 18
tahun sebagai syarat utama untuk masuk ke universitas tersebut, di samping
pembayaran uang kuliah.

Apa
yang akan dipelajari
? menentukan keragaman bidang
ilmu dan jenjang program yang dapat dipilih siswa, termasuk juga keragaman
kemungkinan penilaian hasil belajar. 
Misalnya seorang siswa boleh memilih satu program studi, yaitu D-I
Perpajakan dari 44 program studi yang ada. 
Dalam program  studi tersebut
siswa bebas memilih komposisi mata kuliah untuk mencapai keterampilan yang
diharapkan oleh suatu program D-I Perpajakan. Siswa juga dapat memilih beragam
kemungkinan penilaian hasil belajar untuk dapat ia dinyatakan lulus, misalnya
menulis makalah, atau melakukan praktek dan menulis laporan, tetapi tidak tes
tertulis, dan lain-lain.  Walaupun kebebasan
memilih sudah relatif cukup banyak diberikan kepada siswa dalam hal ini,
keterbatasan siswa masih tetap ada, misalnya dengan adanya keterampilan baku
yang diharapkan oleh Program D-I Perpajakan (tujuan kurikuler program studi),
dan/atau adanya kriteria baku kelulusan dari organisasi pendidikan. 

Bagaimana
siswa belajar
? menjelaskan beragam cara yang dapat
ditempuh siswa untuk belajar. Cara dalam hal ini meliputi waktu untuk belajar, (kapan
saja), tempat untuk belajar (di mana saja), kecepatan belajar (seberapa cepat),
media belajar, jenis  bantuan belajar
(tutorial, kelompok belajar, sendiri), dan sumber belajar yang digunakan. 

Walaupun garis kontinum ada dua  sisi ekstrim, yang paling terbuka dan yang
paling tertutp, pada prakteknya tidak ada organisasi pendidikan yang terbuka
dalam semua aspek atau yang tertutup dalam semua aspek.  Yang ada derajat keterbukaan dan
ketertutupannya suatu organisasi pendidikan yang berbeda-beda berdasarkan
(kebutuhan) pangsa pasar, kemampuan sistem, dan lingkungan di mana organisasi
pendidikan tersebut berada.
Sumber:
Materi Kursus Pedidikan Jarak Jauh UT 2017.1
Bahan diambil dar: Pennen, P. (2002) Pengertian Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Dalam Belawati, T. (Ed). Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Dedikasikan Kepada Dr. Setijadi MA (11-29)
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *