Pembelajaran Kelas Rangkap

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Multigrade teaching
atau pembelajaran kelas rangkap di SD sudah banyak dilaksanakan di
Indonesia di negara-negara maju hal ini sudah menjadi bagian dari sistem
pendidikan secara utuh. Pengembangan dan penggunaan model ini dilakukan karena
faktor kekurangan tenaga guru, letak geografis yang sulit dijangkau, jumlah
siswa relatif kecil, keterbatasan ruangan, atau ketidakhadiran guru.

Pembelajaran Kelas
Rangkap merupakan model pembelajaran dengan mencampur beberapa siswa yang
terdiri dari dua atau tiga tingkatan kelas dalam satu kelas dan pembelajaran
diberikan oleh satu guru saja untuk beberapa waktu. Pembelajaran kelas rangkap
sangat menekankan dua hal utama, yaitu kelas digabung secara terintegrasi dan
pembelajaran terpusat pada siswa sehingga guru tidak perlu berlari-lari antara
dua ruang kelas untuk mengajar dua tingkatan kelas yang berbeda dengan program
yang berbeda.

Namun murid dari
dua kelas bekerja secara sendiri-sendiri di ruangan yang sama, masing-masing
duduk di sisi ruang kelas yang berlainan dan diajarkan program yang berbeda
oleh satu guru. Pembelajaran Kelas Rangkap adalah suatu bentuk
pembelajaran yang mensyaratkan seorang guru mengajar dalam satu ruangan kelas
atau lebih, dalam saat yang sama, dan menghadapi dua atau lebih tingkat kelas
yang berbeda (IG.AK.Wardhani, 1998).

Alasan dilakukannya
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) tidak hanya karena faktor kekurangan guru. PKR
juga sering diterapkan karena alasan letak geografis yang sulit dijangkau,
ruangan kelas terbatas, kekurangan tenaga guru, jumlah siswa yang relatif
sedikit, guru berhalangan hadir, atau mungkin faktor keamanan seperti di daerah
pengungsi.

Katz (1992),
menegaskan bahwa kelas rangkap dilaksanakan tidak hanya karena alasan-alasan
letak gegorafis, kekurangan murid, atau kekurangan tenaga guru, akan tetapi
lebih dari itu adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalui fasilitasi
yang tinggi bagi perkembangan dan potensi siswa. Oleh karena itu dia
mengembangkan tiga jenis kelas rangkap dalam rangka pembelajaran; 1) Combined
grades, 2) continuous progress, 3) mixed age/multiage grouping
.

Model pertama
Combine grades
; atau juga
dikatakan sebagai combined classess, dimana dalam satu kelas terdapat
lebih dari satu tingkatan kelas anak. Membagi kelas menjadi beberapa bagian
sesuai dengan tuntutan kurikulum untuk beberapa tingkatan atau hanya dua
tingkatan. Tujuan utamanya adalah untuk memaksimalkan kemampuan siswa dan
pemahaman lingkungan juga meningkatkan sikap dan pengalaman dalam
kelompok-kelompok umur yang berbeda.

` Model kedua
Continuous progrees
; model ini
berupa kelompok anak dengan pencapaian kurikulum yang tinggi dimana proses
belajar mengajar melihat keberlanjutan pengalaman dan tingkat perkembangan
anak, dalam model ini setiap anak berkesempatan untuk terus berkelanjutan dalam
mengikuti setiap tingkatan kelas sesuai dengan lama sekolah, tujuannya adalah
setiap anak berkesempatan untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan umur dan
perbedaan sikap dan kemampuan ketika belajar bersama.

Model ketiga
mixed age/multiage grouping
;
dimana proses pembelajaran dan praktek kurikulum memaksimalkan keuntungan dari
berinteraksi dan bekerjasama dari beragam umur. Dalam model ini grup dibuat
secara fleksibel atau proses re gruping anak dibuat dalam kelompok umur, jenis
kelamin, kemampuan, mungkin terjadi satu guru mengajar untuk lebih dari satu
tahun.

Alasan dengan
menggunakan model berbagai tingkatan umur ini multiage grouping ini
adalah;
  1. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar tanpa rasa takut dan salah.
  2. Siswa disediakan kegiatan dengan berbagai jenis.
  3. Dengan model ini memungkinkan anak dapat belajar tentang aspek sosial,
    pemahaman tentang diri dan orang lain, kepercayaan diri dan konsep diri,
    partisipasi anak dalam kelompok, pada akhirnya dapat meningkatkan hubungan sosial
    dan pertemanan.
  4. Tidak ada titik signifikansi antara kelompok umur.
Alasan di
Adakannya Kelas rangkap
Pembelajaran kelas
rangkap merupakan suatu kajian strategi pembelajaran, yang menjadi pilihan
dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran kelas rangkap yang
disingkat (PKR) relatife baru di dalam dunia pendidikan dan tidak banyak
sekolah yang melaksanakan PKR ini.

Pengertian
pembelajaran kelas rangkap sesungguhnya di mana seorang guru atau sekelompok
guru mengelola kelas, yang terdapat berbagai siswa dari tingkatan kelas yang
berbeda atau usia yang bervariasi dengan kemampuan yang bervariasi pula dalam
satu ruangan untuk tujuan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.Pada ringkasan
materi ini akan dibahas lebih mendalam tentang alasan di perlukannya oleh guru
dan calon guru.

Alasan Psikologis-Pedagogis
Menurut statistik
persekolahan tahun 1990 di Indonesia sedikitnya terdapat 12.000 SD yang hanya
memiliki guru-3 orang per SD. Sedangkan menurut UNESCO (Djalil: 1997) pada
tahun 1980-an di Indonesia terdapat sekitar 20.000 SD yang memiliki guru 1-3
orang. SD-SD tersebut pada umumnya memiliki jumlah murid yang sedikit. Karena
jumlah guru dan jumlah muridnya sedikit maka pelaksanaan pembelajaran
sehari-hari menerapkan pendekatan pembelajaran kelas rangkap (PKR)

Di Indonesia selama
ini pelaksanaan PKR hanya disikapi sebagai suatu keterpaksaan atau keadaan
darurat. Berbeda dengan Negara lain Australia, Amerika Serikat, Belanda, RRC
Meksiko, Kolumbia, dan negara-negara kecil di Samudra Pasifik PKR sudah lama di
praktekkan dengan sengaja. Di Australia kajian Ilmiah mengenai PKR dan
kepustakaan mengenai PKR sudah cukup banyak. Sementara di Indonesia kajian dan
kepustakaan tentang PKR sangat terbatas. Baru tercatat satu penelitian tentang
PKR (Soemardi dkk: 1996) dan baru satu seri modul PKR Universitas Terbuka
(Arial Djalil dkk, : 1997)

Bila dilihat dari
bidang kajian psikologi pendidikan terdapat konsep “perbedaan individual” atau
“Individual differences”. Konsep ini memberi informasi bahwa setiap anak didik
bersifat unik. Artinya di samping memiliki persamaan juga memiliki perbedaan.
Perbedaan ini mungkin terjadi karena perbedaan jenis kelamin, usia dan
lingkungan.

Secara psikologis
seperti diteorilkan oleh Piaget dan Bell-Gredler (1986), setiap anak memiliki
tingkat perkembangan atau “cognitive development” sesuai rentang usianya mulai
dari tingkat terendah sensori motor (masa bayi) samapai tingkat tertinggi
operasi formal (usia 12 tahun ke atas). Secara psikologis-sosiologis setiap
anak memiliki tuntutan perilaku peran yang berbeda-beda sebagaimana diteorikan
oleh Havighurst (Alberty: 1958) dalam konsep tugas-tugas perkembangan atau
development task. Misalnya, tuntutanperilaku pera anak laki-laki dan perempuan
walaupun usianya sama, memiliki perbedaan. Anak laki-laki biasanya mengikuti perilaku pera ayah, sedangkan anak
perempuan biasanya mengikuti perilaku
peran ibu.
Secara moral anak juga memiliki tingkat perkembangan moralita, sebagaimana diteorikan oleh Kohlberg
(1975) dalam konsep cognitive moral development.

Semua unsur
perbedaan dalam diri anak baik dari sudut perkembangan berfikir dan  moralita maupun dari sudut tugas-tugas
perkembangan , dalam arti kondisi dan situasi pereskolahannya secara pedagogis (pendidikan) seyohyanya
mendapatkan perhatian dan layanan yang sesuai. 
Bentuk perhatian
dan layanan pendidikan dapat berupa penggunaan pendekatan pembelajaran yang
mampu mewadahi perbedaan individual anak. Pembelajaran klasikal-individual
dapat dinilai jauh lebih sesuai untuk itu dari pada pembelajaran
klasikal-massal.

Dalam pembelajaran
klasikal-individual walaupun anak berada dalam satu kelas tetapi layanan
pembelajaran diberikan secara individual atau kelompok sesuai tingkatan
keunikannya. Sedangkan dalam pembelajaran klasikal-massal anak dalam satu kelas
cenderung mendapat perlakuan yang serba sama.

Konsep dan model
PKR yang di dalam berbagai kepustakaan dikenal dengan multigrade teaching”
(Miller: 1989) “the multiage classroom” (Fogarty: 1992) atau “multiple claas
teaching” (UNESCO:1988) merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk
memberi perhatian dan melayani perbedaan individual anak untuk satu atau lebih
dari satu kelas, kedalam satu atau lebih dari satu ruangan.

Secara teoritik
sesungguhnya PKR itu dirancang terutama untuk memberi layanan perbedaan
individual dalam proses pembelajaran dan bukan semata-mata untuk mengatasi
kekurangan guru dalam satu kelas. Selain itu dapat ditambahkan alasan lain
yakni sebagai upaya pembentukan keterampilan sosial atau social skills dealam
konteks sosial atau kelompok seperti dalam penerapan konsep Open Classroom di
USA. (Raka Joni: 1998).

Karena itu PKR
dapat diterapkan baik disekolah kecil, misalnya SD dengan jumlah guru dan
jumlah muridnya kecil, maupun di sekolah biasa yang jumlah guru dan jumlah
muridnya memadai. Dengan kata lain PKR, sesungguhnya berkembang sejalan dengan
konsep dan prinsip psikologis dan pedagogis yang berlaku.
(Sumber: Materi Kuliah Classroom Management UT)
 

 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *