Model Supervisi Akademik (Supervisi Tradisional dan Supervisi Tak Langsung)

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Kepala madrasah selaku supervisor 
dapat melakukan supervisi dengan memilih model
yang tepat. Berbagai model supervisi sebagaimana berikut ini: 

A. Model Supervisi   Tradisional

Model
supervisi tradisional yang masih digunakan adalah Observasi Langsung.Supervisi
model ini dapat dilakukan dengan observasi langsung kepada guru yang sedang
mengajar melalui prosedur: pra- observasi dan post-observasi.

  1. Pra-Observasi. Sebelum
    observasi kelas, supervisor seharusnya melakukan wawancara serta
    diskusi dengan guru yang akan
    diamati. Isi diskusi
    dan wawancara tersebut mencakup kurikulum, pendekatan, metode dan
    strategi pembelajaran, media pengajaran, evaluasi
    dan analisis.
  2. Observasi. Setelah wawancara dan diskusi mengenai apa yang akan
    dilaksanakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian supervisor
    mengadakan observasi kelas. Observasi kelas meliputi keseluruhan jalannya
    pembelajaran, yaitu pendahuluan (apersepsi), pengembangan, penerapan dan penutup.
  3. Post-Observasi. Setelah observasi kelas selesai, mengadakan wawancara dan diskusi tentang: kesan guru terhadap penampilannya, identifikasi keberhasilan dan kelemahan guru,
    identifikasi ketrampilan-ketrampilan mengajar yang perlu ditingkatkan, gagasan-gagasan baru yang akan dilakukan.

B. Supervisi akademik
dengan cara tidak
langsung

  1. Diskusi kasus. Diskusi
    kasus berawal dari kasus-kasus yang ditemukan pada observasi proses
    pembelajaran, laporan- laporan atau hasil studi dokumentasi. Kepala madrasah
    bersama guru mendiskusikan kasus demi kasus, mencari
    akar permasalahannya dan
    mencari alternatif jalan keluarnya.
  2. Metode angket. Supervisi
    melalui metode angket dilakukan dalam upaya penggalian data permasalahan
    guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Angket ini berisi yang
    berkaitan erat dan mencerminkan penampilan guru di kelas, kinerja guru,
    strategi pembelajaran, hubungan guru dengan siswanya dan sebagainya.
  3. Model
    kontemporer (masa kini).
    Supervisi
    akademik model kontemporer dilaksanakan dengan pendekatan klinis, sehingga
    sering disebut juga sebagai model supervisi klinis. Supervisi akademik dengan
    pendekatan klinis, merupakan supervisi akademik yang bersifat kolaboratif.
    Prosedur supervisi klinis sama dengan supervisi akademik langsung, yaitu: dengan
    observasi kelas, namun pendekatannya berbeda. Pada supervisi klinis, inisiatif
    lebih dominan berasal dari guru yang ingin disupervisi. Supervisi klinis adalah
    pembinaan performansi guru mengelola proses pembelajaran (Sullivan & Glanz,
    2005). Sedangkan menurut
    Achenson (1987) klinis berarti: hubungan tatap muka (temu muka) antara guru dan
    supervisor, berfokus pada tingkah laku aktual guru di dalam kelas.

Karakteristik
supervisi klinis antara lain:

  1. Perbaikan
    keterampilan pembelajaran spesifik
  2. Fungsi
    utama supervisor (kepala madrasah) adalah pada keterampilan mengamati, menganalisis implementasi kurikulum, dan membuat catatan,
  3. Fokus
    pada perbaikan cara mengajar
  4. Analisis
    berdasar bukti pengamatan
  5. Instrumen
    disusun atas kesepakatan guru dan supervisor
  6. Umpan
    balik diberikan secara cepat dan obyektif


Pelaksanaan
supervisi klinis mengikuti prinsip-prinsip berikut: (1) bersahabat, (2)
demokratis, (3) terbuka, objektif, konstruktif, (4) kesepakatan bersama
(5) berpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru, (6)
siklus perencanaan, pelaksanaan, dan balikan, (7) berkesinambungan dan
berkelanjutan. Menurut Sullivan & Glanz (2005), ada empat langkah dalam
supervisi klinis yaitu:

  • perencanaan pertemuan; 

  • observasi; 
  • pertemuan berikutnya;  
  • dan refleksi kolaborasi
Sumber: Modul PKB Kepala Madrasah, Kompetensi Supervisi Akademik,
Kemenag RI, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, 2020

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *