Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, langkah berikutnya dalam perencanaan pembelajaran adalah menyusun alur tujuan pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran sebenarnya memiliki
fungsi yang serupa
dengan apa yang dikenal selama ini sebagai “silabus”, yaitu untuk perencanaan dan pengaturan
pembelajaran dan asesmen secara
garis
besar untuk jangka waktu satu tahun.
Oleh karena itu, pendidik dapat menggunakan alur tujuan pembelajaran saja, dan alur tujuan
pembelajaran ini dapat diperoleh pendidik dengan:
(1) merancang sendiri berdasarkan CP, mengembangkan dan memodifikasi contoh yang disediakan, ataupun (3) menggunakan contoh
yang disediakan pemerintah.

Bagi pendidik yang merancang alur tujuan pembelajarannya
sendiri, tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya akan disusun sebagai
satu alur (sequence) yang berurutan secara
sistematis, dan logis dari awal hingga akhir fase. Alur
tujuan pembelajaran juga perlu
disusun secara linier, satu arah, dan tidak bercabang,
sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, ada beberapa prinsip
yang perlu diperhatikan:

  1. Tujuan pembelajaran adalah
    tujuan yang lebih umum bukan tujuan pembelajaran harian (goals,
    bukan objectives);
  2. Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan;

  3. Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara
    kolaboratif, (apabila guru mengembangkan, maka perlu
    kolaborasi
    guru lintas kelas/tingkatan
    dalamsatufase.Contoh:kolaborasi antara guru kelas
    I dan II untuk Fase A;

  4. Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata pelajaran. Oleh karena
    itu sebaiknya dikembangkan oleh pakar
    mata pelajaran, termasuk guru yang mahir dalam mata pelajaran tersebut;

  5. Penyusunan alur tujuan pembelajaran tidak perlu lintas fase (kecuali pendidikan khusus);

  6. Metode penyusunan alur tujuan pembelajaran harus logis, dari kemampuan yang sederhana ke yang lebih rumit, dapat dipengaruhi oleh karakteristik mata pelajaran,
    pendekatan pembelajaran yang digunakan
    (misal: matematik realistik);

  7. Tampilan tujuan pembelajaran diawali dengan alur tujuan pembelajarannya terlebih dahulu,
    baru proses berpikirnya
    (misalnya, menguraikan dari elemen menjadi tujuan pembelajaran) sebagai lampiran agar lebih sederhana dan langsung
    ke intinya untuk guru;

  8. Karena alur tujuan pembelajaran yang
    disediakan
    Kemendikbudristek merupakan
    contoh, maka alur tujuan pembelajaran dapat
    bernomor/huruf (untuk menunjukkan urutan dan tuntas penyelesaiannya dalam satu fase);

  9. Alur tujuan pembelajaran menjelaskan SATU alur tujuan pembelajaran, tidak bercabang (tidak meminta guru untuk memilih). Apabila sebenarnya urutannya dapat
    berbeda, lebih baik membuat alur tujuan pembelajaran lain sebagai
    variasinya, urutan/alur perlu jelas sesuai pilihan/keputusanpenyusun, dan untuk itu dapat diberikan
    nomor atau kode; dan

  10. Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian CP, bukan profil pelajar pancasila dan tidak perlu  dilengkapi dengan pendekatan/strategi pembelajaran (pedagogi). 

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, pendidik dapat
mengacu pada berbagai cara yang diuraikan di bawah ini (Creating Learning Materials
for Open and Distance Learning
, 2005;
Doolittle, 2001; Morrison,
Ross, & Kemp,
2007; Reigeluth &
Keller, 2009):

  • Pengurutan dari           yang
    Konkret ke      yang Abstrak:
    Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke
    konten yang lebih abstrak dan
    simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan
    menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum
    mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).
  • Pengurutan Deduktif: Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh: mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum
    mengajarkan tentang tipe database, seperti
    hierarki atau
    relasional.

  • Pengurutan dari Mudah ke yang lebih  Sulit: Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh:
    mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa
    sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.

  • Pengurutan Hierarki: Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan
    komponen konten yang lebih mudah
    terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: siswa perlu
    belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep
    perkalian.

  • Pengurutan Prosedural: Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama
    dari sebuah prosedur, kemudian membantu siswa untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh: dalam
    mengajarkan cara menggunakan t-test
    dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap
    prosedur yang harus dilalui,sepertimenulishipotesis,menentukan tipetesyangakandigunakan,memeriksaasumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat
    lunak statistik.

  • Scaffolding: Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa
    sekaligus mengurangi bantuan secara
    bertahap. Contoh: dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika siswa mencobanya,
    guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang
    secara bertahap. Pada akhirnya, siswa dapat
    berenang sendiri.

Sumber: Panduan Pembelajaran
dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah: Badan
Standar, Kurikulum dan Asesmen, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknoligi Republik Indoneisa: 2022

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *