Materi Fikih MTs Kelas IX – Jual Beli

A. Pengertian Jual Beli

Secara etimologis
(bahasa)
jual beli  berarti
tukar menukar secara
mutlak (mutlaq al-mubadalah) atau berarti tukar menukar sesuatu
dengan sesuatu (muqabalah syai’ bi syai’).
Sedangkan jual beli menurut istilah adalah pertukaran harta dengan harta untuk keperluan pengelolaan yang disertai
dengan lafal ijab dan kabul menurut tata aturan yang ditentukan dalam syariat Islam.

B. Dasar Hukum Jual Beli

Hukum asal jual beli adalah
mubah atau boleh. Ini artinya setiap orang  Islam bisa melakukan akad jual beli
ataupun tidak, tanpa ada efek hukum apapun. Adapun dasar disyariatkannya jual beli sebagai berikut:

1. Al Quran 

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

Artinya: “… Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan  riba…. (QS.
Al-Baqarah [2]: 275).

2. Hadist Nabi 

Hadist
Rasulullah SAW Artinya: “Dari Rifa’ah bin
Rafi’ Ra. bahwasannya Nabi Saw. ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, beliau menjawab,
seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang
mabrur
.” (HR. Al-Bazzar dan ditashih
oleh Hakim). Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah jual-beli yang terhindar
dari usaha tipu-menipu yang dapat merugikan orang lain.

C. Rukun jual beli

Mayoritas ulama menyatakan bahwa rukun jual beli ada empat yaitu:

  1. Penjual dan pembeli
    (aqidain).
  2. Barang yang diperjual belikan
    (ma’qud alaih).
  3. Alat nilai
    tukar pengganti barang.
  4. Ucapan serah
    terima antara penjual
    dan pembeli (ijab kabul).

D. Syarat Jual Beli

Setiap rukun jual beli harus memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Syarat penjual
dan pembeli (aqidain)

Jual beli dianggap sah apabila:

  • Kedua belah pihak harus baligh, maksudnya
    baik penjual atau pembeli sudah
    dewasa.
  • Keduanya berakal
    sehat. 
  • Bukan pemboros
    (tidak suka memubazirkan barang).
  • Bukan
    paksaan, yakni atas kehendak sendiri. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Nabi saw. bersabda sesungguhnya jual beli itu sah, apabila    dilakukan atas dasar suka sama suka.”
    (HR. Ibnu Hiban dan Ibnu Majah).

2. Syarat
barang jual beli (ma’qud alaih)

Syarat
barang yang diperjual belikan sebagai berikut:

  • Barang
    harus ada saat terjadi transaksi. 
  • Barang
    yang diperjualbelikan berupa
    harta yang bermanfaat.
  • Barang itu suci.
  • Milik penjual.
  • Barang
    yang dijual dapat dikuasai oleh pembeli. Sebagaia mana hadis Nabi Muhammad
    Saw. yang artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah
    kamu sekalian membeli ikan yang masih dalam air, karena sesungguhnya hal itu mengandung gharar (tipu
    muslihat, belum jelas).”
    (HR. Ahmad).

3. Alat untuk
tukar menukar barang

  • Harga harus disepakati
    kedua belah pihak dan disepakati jumlahnya.
  • Nilai
    kesepakatan itu dapat diserahkan langsung pada waktu transaksi jual beli.
  • Apabila
    jual beli dilakukan secara barter (al-muqayyadah), bukan berupa uang tetapi berupa barang, maka tidak boleh barang yang diharamkan.

4. Ijab dan kabul

Ijab
dilakukan oleh pihak penjual barang dan kabul dilakukan oleh pembeli barang. Ijab kabul dapat dilakukan dengan
kata-kata penyerahan dan penerimaan  atau dapat juga berbentuk
tulisan seperti faktur,
kuitansi atau nota dan lain sebagainya.

E. Macam-macam jual beli

1. Jual beli yang sah, yaitu jual
beli yang boleh dilakukan karena memenuhi rukun dan syarat jual beli sebagaimana yang dijelaskan dalam Fikih Islam.

 

2. Jual beli terlarang, antara
lain:

  • Jual beli sistem ijon yaitu jual beli hasil tanaman
    yang masih belum nyata buahnya
    ataupun belum ada isinya. Rasulullah Saw. bersabda:
    Artinya: “Nabi Saw. telah melarang jual beli
    buah-buahan sehingga nyata baiknya buah itu (pantas
    untuk diambil dan dipetik buahnya).”
    (HR. Muttafaq Alaih).
  • Jual beli barang haram. Seperti jual khamar, bangkai, darah atau daging babi.
  • Jual beli sperma hewan. Hal ini karena sperma tidak dapat diketahui kadarnya dan tidak dapat diterima wujudnya.
    Rasulullah Saw. bersabda:
    Artinya: “Rasulullah Saw. telah melarang
    jual beli kelebihan
    air (sperma).”
    (HR. Muslim).
  • Jual beli anak binatang
    yang masih dalam
    kandungan induknya. Hal ini dilarang karena belum jelas kemungkinannya ketika lahir hidup atau mati.
    Rasulullah Saw. bersabda:
    Artinya: Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah melarang
    jual beli anak  binatang yang masih dalam
    kandungan induknya.” (
    HR. Muttafaq
    Alaih).
  • Jual beli barang yang belum dimiliki. Maksudnya adalah
    jual beli yang barangnya belum diterima oleh pembeli dan masih berada
    di tangan penjual
    pertama. Sedangkan pembeli
    kedua akan menjualnya kembali sebelum menerima
    barang itu. Rasulullah Saw. bersabda:
    Artinya: “Nabi Saw. telah bersabda: “Janganlah engkau menjual
    sesuatu
    yang baru saja engkau beli  sehingga
    engkau menerima (memegang) barang itu”.
    (HR.
    Al-Baihaqi).
  • Jual beli barang yang belum jelas. Jual beli ini masih ada unsur gharar (ketidakjelasan) dan cenderung berspekulasi, seperti menjual buah-buahan yang belum nyata buahnya. Namun, dikecualikan menjual buah yang
    masih muda yang memang bisa dimanfaatkan ketika masih muda, seperti jual beli nangka muda yang memang sudah umum digunakan untuk lauk maupun sayuran. Sabda Nabi Saw. dari Ibnu Umar Ra.:
    Artinya:
    “Nabi saw. telah melarang menjual
    buah-buah yang belum tampak    manfaatnya”
    (HR. Muttafaq Alaih).

3. Jual beli yang sah, tetapi dilarang
agama

  • Jual beli pada saat khutbah dan shalat Jum’at. Hal ini
    selaras dengan firman Allah Swt.:
    Artinya:
    ”Hai orang-orang yang beriman, apabila
    diserukan untuk menunaikan shalat, maka bersegeralah kamu
    untuk mengingat Allah, dan tinggalkanlah
    jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
    (QS.
    Al-Jumu’ah [62]: 9).  Larangan
    tersebut berlaku untuk orang yang masuk dalam kategori wajib untuk melaksanakan
    shalat Jum’at.
  • Jual beli dengan cara menghadang di jalan sebelum
    sampai pasar. Ini memungkinkan penjual tidak mengetahui harga pasar yang sebenarnya di harga. Kemudian barang dibeli tadi dijual kembali
    di pasar dengan
    harga yang tinggi. Rasulullah Saw. bersabda:
    Artinya: “janganlah kamu menghambat orang-orang yang akan ke pasar.”
    (HR. Al-Bukhari).

  • Jual beli dengan niat menimbun barang. Praktik
    penimbunan biasanya ditujukan untuk menaikkan harga, stok menjadi langka dan orang menjadi berani untuk membeli dengan
    harga yang tinggi.
    Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah
    akan menimbun barang                  kecuali orang-orang yang
    durhaka”
    (HR. Muslim).
  • Jual beli dengan cara mengurangi ukuran dan timbangan.
  • Jual beli dengan
    cara mengecoh. Misalnya ada penjual buah-buahan meletakkan buah yang bagus dan segar di atas,
    sedangkan yang kurang
    bagus ditempatkan di bawah. Hal itu berdasarkan hadis
    Rasulullah Saw.:
    Artinya: ”Nabi melarang
    memperjual belikan barang yang mengandung    tipuan.”
    (HR. Muslim).
  • Jual beli barang yang masih
    dalam tawaran orang lain. Larangan ini berdasarkan sabda Nabi Saw.: Artinya: “Janganlah seseorang
    menjual sesuatu yang telah dibeli orang lain.”
    (HR. Muttafaq Alaih).

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *