Manusia Berfilsafat

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah apa yang dipelajari dikupas sebagai bahan (matei) pembicaraan, yaiu gejala “manusia di dunia mengembara menuju akhirat”. Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia dan akhirat. Maka ada filsafat tentang menusia (antropologi), filsafat tentang ala (kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan: kata akhirat dalam kontek hidup beriman dapat dengah mudah diganti dengan kata Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepas dari yang lain. Juga pembicaraan filsafat tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh  yang dikenal manusia dalam dunianya. 

Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata
sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan
fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan
(realitas) itu.  Proses itu mencari tahu
itu menghasilkan kesadaran, yang
disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri
metodis,  sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat
dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.

Ilmu
pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren
(“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas),
dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang
(pengetahuan) tersebut.

Makin ilmu pengetahuan menggali dan
menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan
untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas).

Filsafat
adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan
(realitas).
Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan). 

Al-Kindi (801 – 873 M) : “Kegiatan
manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan
benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia …  Bagian filsafat yang paling mulia adalah
filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari
segala kebenaran”.

Unsur “rasional” (penggunaan
akal budi) dalam kegiatan ini merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk
mempelajari dan mengungkapkan “secara mendasar” pengembaraan manusia
di dunianya menuju akhirat.  Disebut
“secara mendasar” karena upaya itu dimaksudkan menuju kepada rumusan dari
sebab-musabab pertama, atau sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab
terdalam dari obyek yang dipelajari 
(“obyek material”), yaitu “manusia di dunia dalam
mengembara menuju akhirat”. Itulah scientia
rerum per causas ultimas
— pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan
sebab-musabab yang paling dalam.

Karl Popper (1902-?) menulis “semua
orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan
kematian.  Ada yang berpendapat bahwa
hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir.  Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang
terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir,
maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu  hadir yang membuat kita dapat kehilangan
hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari
hidup”.  Mengingat berfilsafat
adalah berfikir tentang hidup, dan “berfikir” = “to think”
(Inggeris) = “denken” (Jerman), maka – menurut Heidegger (1889-1976
), dalam “berfikir” sebenarnya kita “berterimakasih” =
“to thank” (Inggeris) = “danken” (Jerman) kepada Sang
Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.

Menarik juga untuk dicatat bahwa kata
“hikmat” bahasa Inggerisnya adalah “wisdom”, dengan akar
kata “wise” atau “wissen” (bahasa Jerman) yang artinya
mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah “viten”, yang memiliki akar
sama dengan kata bahasa Sansekerta “vidya” yang diindonesiakan
menjadi “widya”. Kata itu dekat dengan kata “widi” dalam
“Hyang Widi” =  Tuhan.  Kata “vidya” pun dekat dengan kata
Yunani “idea”, yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan
digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.

Menurut Aristoteles (384-322 sM),
pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere
 = menjauhkan diri dari, mengambil
dari).  Tiap jenis abstraksi melahirkan
satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu
disebut filsafat:

Aras
abstraksi pertama – fisika
.  Kita mulai berfikir kalau kita
mengamati.  Dalam berfikir, akal dan budi
kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu
“materi yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular
dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual.
Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu
pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).

Aras
abstraksi kedua – matesis.
Dalam proses abstraksi
selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan.  Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari
materi hanya segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang
dihasilkan oleh jenis abstraksi dari
semua ciri material
ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis =
pengetahuan, ilmu).

Aras
abstraksi ketiga – teologi atau “filsafat pertama”.
  Kita dapat meng-“abstrahere” dari
semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan
tujuannya, tentang asas pembentukannya, dsb. 
Aras fisika dan aras matematika jelas telah kita tinggalkan.  Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu
pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat pertama”.  Akan tetapi 
karena ilmu pengetahuan ini “datang sesudah” fisika, maka dalam tradisi
selanjutnya disebut metafisika.
Secara singkat, filsafat mencakup
“segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut
“sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari
filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi
pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya. 

Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik
pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasangagasan tentang wujud itu
dengan inteleknya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan
bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari
pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Tetapi jika
gagasan-gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan
yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan
atas mereka disebabkan oleh metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu
menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika
pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasive digunakan,
maka agama yang memuat mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara
umum, dan bersifat eksternal. 

(Sumber: Catatan Kuliah Ilmu Flsafat)
Last Modified: 15/11/2024
 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *