Last Updated on 24.05.2018 by Zulfahmi M
Terdapat hal yang menarik dalam ayat 29 surah Al-Baqarah, yaitu (1) ‘makna disempurnakannya’ (fasawahunna) dan (2) ‘tujuh langit’ (sab’a samawati).
Pemahaman bilangan tujuh dalam beberapa hal di dalam Al Qur’an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Hingga ungkapan ‘tujuh langit’ yang sering digambarkan sebagai tujuh ‘tujuh lapisan langit’ oleh para mufasirin lama (apalagi dalam kisah Isra’ Mi’raj) mesti dikaji ulang. Konsep ‘tujuh lapis langit’ sering mengacu pada konsp geosentrik yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta yang dilingkupi oleh lapisan-lapisan langit.
Jadi ‘tujuh langit’ lebih mengena bila dipahami sebagai tatanan benda-benda langit yang takterhitung banyaknya. Langit itu sendiri bermakna sesuatu yang di atas kita hingga semua benda di luar bumi yang kita pandang berada di atas kita.
Dengan penjelasan di atas, kita pahami bahwa ‘tujuh langit’ yang berulang kali diungkapkan di dalam al-qur’an mengacu pada tatanan benda-benda langit (galaksi, bintang, planet, komet, batuan, dan gas) yang takterhitung banyaknya yang terus berevolusi: lahir, menjadi tua, dan akhirnya mati.
Ramadhan Note: 2018 M/1439H. Sumber: Al Qur’anulkarim The Miracle 15 in 1, PT Sygma Examedia Arkanleema, Bandung, 2009.
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)