Landasan Pemikiran dalam Pendekatan Pembelajaran Mendalam

Last Updated on 24.08.2026 by Zulfahmi M

Posted on 20.07.2026  by www.ajoefahmi.com

A. Landasan Sosiologis

Secara sosiologis, hakikat pendidikan yang dimanifestasikan dalam proses Pembelajaran Mendalam sangat berkaitan erat dengan kepentingan nasional, terutama keberadaan dan kondisi bangsa yang majemuk terdiri atas berbagai suku, ras, budaya, dan bahasa, yang perlu dibangun menjadi bangsa yang maju dan berjati diri. Rumusan mencerdaskan kehidupan bangsa bermakna filosofis mendalam dan merupakan tujuan ke-3 dari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Para pendiri bangsa mengamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 bahwa bangsa Indonesia harus membangun kehidupan yang cerdas dan sempurna dalam menggunakan akal budinya di berbagai aspek kehidupan. Di samping itu, mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya berarti cerdas sumber daya manusianya, melainkan seluruh aspek kehidupan bangsa baik menyangkut aspek budaya, sistem, dan lingkungan dalam cakupan yang luas yang menggambarkan kehidupan kebangsaan.

Dari perspektif sosiologis, pembangunan pendidikan mesti diarahkan untuk mencapai kehidupan bangsa yang cerdas, yaitu kehidupan yang (1) sarat oleh perilaku warga yang mengandung kebajikan dan kemajuan bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa serta kemanusiaan sebagai (a) amalan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya dan nilai-nilai Pancasila, dan (b) penerapan Ipteks; (2) jauh dari perilaku destruktif/merugikan bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa serta kemanusiaan; dan (3) didukung oleh kepedulian untuk mengajak kepada dan mempromosikan kebaikan dan keberanian untuk mencegah dan memerangi segala hal yang merugikan masyarakat, bangsa, negara, dan kemanusiaan; serta kehendak untuk tetap menjaga persatuan bangsa yang majemuk (Madya, 2010). Kehidupan cerdas yang demikian akan dicapai melalui pendidikan dan pembelajaran yang bermutu, yang mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik sehingga mencapai tingkat tertinggi daya intelektual, karakter moral dan karakter kinerja, dan kesamaptaan peserta didik. Semua ini memerlukan Pembelajaran Mendalam untuk mencapai penguasaan sejati pengetahuan bersama pengamalannya dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan.

Pembelajaran mendalam sebagai fondasi dari seluruh proses pembelajaran dalam sistem pendidikan nasional merupakan sarana untuk mewujudkan amanat konstitusi untuk membangun kehidupan cerdas bangsa seperti diuraikan di atas. Dalam perspektif ini, Pembelajaran Mendalam akan menjiwai seluruh ekosistem sebagai kesatuan sistem pendidikan nasional secara utuh. Sebagai fondasi ekosistem pendidikan, hakikat Pembelajaran Mendalam akan mewujud dalam fungsi dan peran semua komponen mulai dari sistem terkecil di kelas sampai sistem terbesar.

Hakikat pendidikan holistik pun tergambar dalam peranan strategis pendidikan sebagai instrumen penting dan utama dalam pembangunan nasional. Pembangunan pendidikan yang berkualitas yang diwujudkan dengan Pembelajaran Mendalam yang berkualitas memberikan efek domino bagi berbagai sektor pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan pembangunan pendidikan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang akan berdampak pada kualitas pembangunan di berbagai sektor baik ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sektor lainnya.

Dalam perspektif sosiologis pun, Pembelajaran Mendalam sebagai bagian dari hakikat pendidikan, memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sosiokultural masyarakat Indonesia sebagai pembelajar. Salah satu cara menerapkan Pembelajaran Mendalam dengan membangun kualitas pembelajaran yang berbasis kultur masyarakat. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (Dewantara, 1967).

Aspek sosiologis dari pendidikan yang holistik pun selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Pendidikan menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pembelajaran Mendalam menjadi fondasi utama untuk pengembangan kesadaran diri secara spiritual, sosial, bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan, dan menggembirakan secara lahir batin.

B. Landasan Yuridis

Landasan yuridis dimaksudkan menjadi dasar dalam menetapkan kebijakan pendekatan PM. Beberapa pemaknaan peraturan yang terkait dengan PM dijabarkan sebagai berikut.

1. Pembelajaran Mendalam dan Dimensi Profil Lulusan

Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan hak setiap warga negara dan sarana telah disampaikan dalam Pembukaan dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945. Pembelajaran Mendalam menjadi instrumen penting guna memenuhi hak warga negara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pada suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya Pasal 3 Undang-undang Sisdiknas mengamanatkan agar pendidikan ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, PM diterapkan untuk mewujudkan dimensi profil lulusan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, memiliki keterampilan sosial, dan keterampilan belajar sebagai warga negara.

2. Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan

Pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sejalan dengan penciptaan suasana belajar yang (a) interaktif, (b) inspiratif, (c) menyenangkan, (d) menantang, (e) memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan (f) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik sejalan dengan amanat dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021.

Selanjutnya penjelasan Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021, suasana belajar yang interaktif adalah suasana belajar yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi yang sistematis dan produktif antara pendidik dengan peserta didik, antar peserta didik, dan antara peserta didik dengan materi belajar. Suasana belajar yang inspiratif adalah suasana belajar yang dirancang untuk memberi keteladanan dan menjadi sumber inspirasi positif bagi peserta didik. Suasana belajar yang menyenangkan adalah suasana belajar yang dirancang agar peserta didik mengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif. Selanjutnya suasana belajar yang menantang adalah suasana belajar yang dirancang untuk mendorong peserta didik terus meningkatkan kompetensinya melalui tugas dan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang tepat.

Pembelajaran yang menggembirakan mengakomodasi perbedaan peserta didik, seperti penyandang disabilitas yang dituangkan pada Undang Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas melalui hak pendidikan yang inklusif, dan bermutu. Jenis pendidikan lain seperti pendidikan vokasi pada UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang berkaitan dengan pengaturan dan peluang yang berhubungan dengan pendidikan vokasi. Pada pendidikan ini terkait dengan kemitraan pembelajaran yang merupakan bagian dari Pembelajaran Mendalam seperti kolaborasi antara lembaga pendidikan, pelatihan, dan dunia usaha/dunia industri. Selanjutnya juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang adaptif, seperti penggunaan perangkat digital dalam simulasi kerja. Pelaksanaan pembelajaran pada Pasal 12 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021 menyatakan pendidikan memberikan keteladanan, pendampingan, dan fasilitasi.

C. Landasan Empiris

Landasan empiris terkait dengan penerapan kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia dan mancanegara yang relevan dengan Pembelajaran Mendalam dan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Penerapan Pembelajaran Mendalam di Indonesia dikaitkan dengan pengembangan kompetensi dan prinsip pendekatan Pembelajaran Mendalam.

1. Pengembangan Kompetensi Masa Depan

Pendekatan dan model pembelajaran yang diterapkan di Indonesia mengacu atau mengikuti kebijakan kurikulum. Secara empiris-historis, sejak Indonesia merdeka, telah terjadi pergantian kurikulum lebih kurang 11 kali, yaitu tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan Kurikulum Merdeka yang dimulai pada tahun 2022.

Salah satu kebijakan yang populer pada kurikulum 1964 adalah Pancawardhana, yaitu lima orientasi utama pembelajaran, yaitu moral, intelegensi, emosional/artistik, keterampilan (kaprigelan), dan jasmani (Tilaar, 1995). Selanjutnya Kurikulum Merdeka menetapkan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila tersebut yaitu (1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, (2) Bergotong royong, (3) Bernalar Kritis, (4) Berkebhinekaan global, (5) Mandiri, dan (6) Kreatif. Pengembangan kompetensi masa depan dituangkan dalam berbagai perkembangan kurikulum.

2. Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan

Prinsip PM telah diterapkan salah satunya dengan pendekatan CBSA tahun 1984. Gagasan utama pendekatan CBSA adalah anak adalah subjek, bukan objek. Peserta didik dikondisikan aktif, dimotivasi supaya mampu mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan dan melaporkan berbagai fenomena setelah melalui proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran pada kurikulum 1994 menekankan pada proses dan kebermaknaan pembelajaran. Kurikulum ini ditandai banyak mata pelajaran dan sarat materi, menambah durasi pembelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia dengan konsekuensi mengurangi jam pelajaran Seni dan sejenisnya. Selanjutnya usaha untuk mengembangkan pembelajaran menyenangkan telah diintegrasikan dalam model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) di SD/MI atau Kontekstual di SMP/MTs yang memang telah dicanangkan sejak tahun 2002. Namun belum seluruhnya dapat diwujudkan, karena tidak disertai dengan dukungan legalitas dan belum didukung pelatihan secara komprehensif juga kurang mendapat dukungan meluas dalam pelaksanaan di lapangan.

Selanjutnya terkait dengan Pembelajaran Mendalam dengan pembelajaran multidisiplin telah dilakukan seperti pada pendekatan tematik untuk kelas rendah (kelas 1 hingga 3) Sekolah Dasar (SD) juga dikenalkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di tahun 2006.

Secara konseptual bertujuan membangun kemandirian sekolah untuk mengembangkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik, potensi, budaya dan iklim serta lingkungan sekolah. Pendekatan ilmiah telah diperkenalkan pada kurikulum 2013. Kurikulum ini telah diberlakukan pada Tahun Pelajaran 2013/2014. Pendekatan ini berdampak pada perubahan orientasi pendekatan pembelajaran, pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Pembelajaran SD/MI menggunakan pendekatan tematik-terpadu dan SMP/MTs menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Pendekatan-pendekatan tersebut juga berdampak kepada perubahan sistem penilaian.

Selanjutnya Kurikulum Merdeka memiliki tiga prinsip perancangan yaitu (1) memastikan dan mendukung pengembangan kompetensidankarakter, (2) fleksibel, dan (3) berfokus pada muatan esensial. Kajian akademik tersebut juga mengaitkan tentang 1) fungsi penilaian untuk memahami kebutuhan belajar dan perkembangan proses belajar peserta didik, 2) pemahaman tentang kebutuhan dan posisi peserta didik digunakan untuk penyesuaian pembelajaran, 3) prioritas pada kemajuan belajar pesertadidik, 4) refleksiatas kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara kolaboratif dengan pendidik lain. Sehingga prinsip pembelajaran bermakna, lingkungan pembelajaran yang mendukung pencapaian kompetensi sesuai dengan karakteristik peserta didik.

D. Pembelajaran di Beberapa Negara

Selanjutnya penerapan Pembelajaran Mendalam di mancanegara dilakukan beberapa negara yang menggunakan Pembelajaran Mendalam secara khusus dalam kurikulum dan menerapkan dalam pembelajaran, diuraikan sebagai berikut:

1. Pembelajaran Mendalam sebagai Kerangka Kerja utama dalam Kurikulum Norwegia

Norwegia menerapkan kurikulum baru pada musim gugur tahun 2020 dengan menggunakan kerangka kerja Pembelajaran Mendalam. Pemerintah Norwegia mengurangi konten kurikulum untuk memfasilitasi Pembelajaran Mendalam dan menghindari kurikulum yang overload (Norwegian Ministry of Education and Research, 2015). Kurikulum baru ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas yang dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dan konteks. Pembelajaran Mendalam membutuhkan peserta didik yang aktif, merefleksikan apa yang mereka pelajari, dan mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan apa yang telah mereka ketahui (Norwegian Ministry of Education and Research, 2015). Elemen baru dalam kurikulum ini ada mata pelajaran yang terfokus pada elemen kunci dari pada gambaran detail isi materi dan terfokus pada PM. Secara umum setiap mata pelajaran memiliki core elements yang terdiri dari ‘core concepts, methods, ways of thinking, knowledge areas and ways of expression in the subject (Kunnskaps departementet, 2016). Kurikulum ini mengenalkan tiga topik antar disiplin antara lain kesehatan dan kecakapan hidup, demokrasi dan kewarganegaraan, dan pembangunan berkelanjutan. Secara ringkas kurikulum di Norwegia digambarkan sebagai berikut:

Tabel Aspek
Penerapan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam
dalam Kurikulum Norwegia

AspekDeskripsi
Kompetensi Khusus Mata Pelajaran
  • Pembelajaran mendalam dan pemikiran kritis pada setiap mata pelajaran
  • Pemahaman konsep yang diaplikasikan dalam berbagai konteks kehidupan
  • Interdisiplin dalam berbagai mata pelajaran
Kompetensi Inti
  • Membaca, menulis, keterampilan lisan, keterampilan digital, numerasi
Topik Interdisiplin
  • Kesehatan dan kecakapan hidup, demokrasi dan kewarganegaraan, dan pembangunan berkelanjutan
Pembelajaran Mendalam dan Berpikir Kritis
  • Pemahaman mendalam pada topik yang sedikit dibandingkan dengan pemahaman kurang mendalam pada banyak mata pelajaran
  • Kemampuan berpikir kritis pada setiap mata pelajaran
Perkembangan Holistik
  • Pendekatan holistik pada perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan fisik
  • Perkembangan interpersonal, identitas diri, dan ethical reasoning
Asesmen untuk pembelajaran
  • Penilaian formatif untuk penilaian perkembangan peserta didik.
  • Asesmen-diri, umpan balik sejawat, dan pembelajaran reflektif
Inklusi dan Adaptasi
  • Keadilan dan inklusif untuk seluruh peserta didik
  • Adaptasi konten dan fleksibilitas dalam mengakomodasi konteks lokal dan karakteristik individu

Dengan kerangka kerja di atas, seluruh mata pelajaran memiliki struktur kurikulum yang sama yang terdiri dari enam komponen utama yaitu: 1) Relevansi dan nilai-nilai sentral; 2) Gagasan- gagasan inti; 3) Keterampilan dasar; 4) Tujuan kompetensi; dan 5) Penilaian (Norwegian Directorate for Education & Training, 2021). Upaya mengintegrasikan PM ke dalam kurikulum di Norwegia tercermin pada seluruh mata pelajaran sejalan dengan fokus negara tersebut pada inovasi, keberlanjutan, dan mempersiapkan peserta didik untuk tantangan masa depan.

2. Prinsip Pembelajaran Mendalam  dalam Kurikulum dan Pembelajaran yang diimplementasikan oleh beberapa negara.

Prinsip Pembelajaran Mendalam diterapkan di mancanegara dengan menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Beberapa negara menerapkan pembelajaran yang inklusif untuk menciptakan kenyamanan peserta didik untuk berpartisipasi mencapai kompetensinya, seperti di Inggris, Australia dan Finlandia. Pendidikan di Finlandia terfokus pada pendekatan yang berpusat pada peserta didik, inklusif, dan holistik. Pembelajaran diharapkan dapat menstimulasi keingintahuan, kesejahteraan peserta didik, keterampilan berpikir kritis. Fleksibilitas yang lebih besar bagi guru di Inggris untuk memutuskan tentang pendekatan belajar mengajar yang paling tepat dan aspek-aspek peserta didik secara mendalam (Department for Education, 2011).

Maka daripada itu, jika dikaitkan dengan Pembelajaran Mendalam, pengalaman pembelajaran yang diciptakan untuk mengakomodasi karakteristik peserta didik dalam mencapai kompetensinya. Pembelajaran yang mendalam dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang menstimulasi keaktifan peserta didik dalam belajar dan lingkungan pembelajaran yang nyaman.

Pembelajaran Mendalam diterapkan dengan subject-related, area-related atau interdisciplinary bahkan transdisiplin pada semua mata pelajaran seperti yang telah diterapkan di Jerman. Pendekatan antardisiplin, seperti integrasi mata pelajaran STEM, Humaniora, dan Seni, digunakan untuk mengatasi isu-isu permasalahan kompleks di dunia.

Pembelajaran dirancang secara tematik pada isu-isu terkait keberlanjutan, transformasi digital, migrasi, dll. Pembelajaran di Australia dilakukan untuk membekali peserta didik isu-isu yang relevan dengan kehidupan, kontemporer dan menarik baik pada level lokal, global, maupun internasional. Prioritas Pembelajaran Lintas Kurikulum di Australia terdiri Sejarah dan Budaya Aborigin dan Kepulauan Selat Torres, Hubungan Asia dan Australia dan Berkelanjutan. Kurikulum menekankan pada kecakapan lintas kurikulum diterapkan di Jepang seperti kemampuan menyelesaikan masalah, kreativitas, dan kebiasaan belajar yang baik. Pembelajaran ditekankan pada pembelajaran yang relevan, penekanan pada pendidikan moral dengan pendekatan antar disiplin. Hal ini juga dilakukan di Korea Selatan, pembelajaran dilakukan dengan memberikan pemahaman otentik tentang konsep-konsep kunci dalam mata pelajaran serta mengembangkan keterampilan berpikir integratif (mempertimbangkan hubungan pengetahuan konten di dalam dan lintas mata pelajaran). Dengan demikian, pembelajaran lintas disiplin ini dapat mengembangkan kompetensi yang tidak terbatas pada pemahaman konten mata pelajaran, namun juga pada perkembangan personal, sosial, dan profesional.

Pembelajaran bermakna telah diterapkan di beberapa negara dengan mengaitkan aplikasi mata pelajaran dalam kehidupan. Salah satunya pembelajaran di Jerman dengan menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pelatihan kejuruan di lingkungan kerja nyata, yang memberikan contoh pembelajara berdasarkan pengalaman. Sekolah-sekolah di Finlandia mengintegrasikan proyek keberlanjutan, seperti membangun perangkat bertenaga surya atau berpartisipasi dalam program konservasi, yang mengaitkan antara teori dan praktik. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi sebagai bagian dari menilai apa yang dipelajari dan mengaitkan dengan kehidupan mereka. Progra seperti “MINT Zukunft schaffen” (STEM untuk Masa Depan) melibatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan inovasi melalui kompetisi dan proyek secara langsung.

Sekolah di Finlandia melaksanakan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan tema-tema antardisiplin, seperti proyek “perubahan iklim” dengan menggabungkan biologi, etika, dansosial. Oleh karenaitu, jika dikaitkan dengan PM, pembelajaran yang kontekstual dengan kehidupan peserta didik menstimulasi perkembangan peserta didik secara holistik. Pembelajaran dilakukan secara antardisiplin dan secara langsung dalam bentuk proyek nyata berdampak kepada pencapaian kompetensi masa depan. Sehingga pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan karakteristik peserta didik, relevan dengan kehidupan, serta memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan pendekatan pembelajaran yang menyertai perubahan kurikulum dan studi internasional dan nasional, perlu dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran efektif yang didukung oleh ekosistem pendidikan yang kondusif untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.

Sumber: Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu. Pusat Kuriklum dan Pembelajaran. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, 2025