Last Updated on 16.08.2026 by Zulfahmi M
Posted on 17 Juli 2026 by www.ajoefahmi.com
Landasan empiris terkait dengan penerapan kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia dan mancanegara yang relevan dengan PM dan prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Penerapan PM di Indonesia dikaitkan dengan pengembangan kompetensi dan prinsip pendekatan PM.
1. Pengembangan Kompetensi Masa Depan
Pendekatan dan model pembelajaran yang diterapkan di Indonesia mengacu atau mengikuti kebijakan kurikulum. Secara empiris-historis, sejak Indonesia merdeka, telah terjadi pergantian
kurikulum lebih kurang 11 kali, yaitu tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006,
2013, dan Kurikulum Merdeka yang dimulai pada tahun 2022.
Salah satu kebijakan yang populer pada kurikulum 1964 adalah Pancawardhana, yaitu lima orientasi utama pembelajaran, yaitu moral, intelegensi, emosional/artistik, keterampilan (kaprigelan), dan jasmani (Tilaar, 1995). Selanjutnya Kurikulum Merdeka menetapkan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila tersebut yaitu (1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, (2) Bergotong royong, (3) Bernalar Kritis, (4) Berkebhinekaan global, (5) Mandiri, dan (6) Kreatif. Pengembangan kompetensi masa depan dituangkan dalam berbagai perkembangan
kurikulum.
2. Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
Prinsip PM telah diterapkan salah satunya dengan pendekatan CBSA tahun 1984. Gagasan utama pendekatan CBSA adalah anak adalah subjek, bukan objek. Peserta didik dikondisikan aktif, dimotivasi supaya mampu mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan dan melaporkan berbagai fenomena setelah melalui proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran pada kurikulum 1994 menekankan pada proses dan kebermaknaan pembelajaran. Kurikulum ini ditandai banyak mata pelajaran dan sarat materi, menambah durasi pembelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia dengan konsekuensi mengurangi jam pelajaran Seni dan sejenisnya. Selanjutnya usaha untuk mengembangkan pembelajaran menyenangkan telah diintegrasikan dalam model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) di SD/MI atau Kontekstual di SMP/MTs yang memang telah dicanangkan sejak tahun 2002. Namun belum seluruhnya dapat diwujudkan, karena tidak disertai dengan dukungan legalitas dan belum didukung pelatihan secara komprehensif juga kurang mendapat dukungan meluas dalam pelaksanaan di lapangan.
Selanjutnya terkait dengan PM dengan pembelajaran multidisiplin telah dilakukan seperti pada pendekatan tematik untuk kelas rendah (kelas 1 hingga 3) Sekolah Dasar (SD) juga dikenalkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di tahun 2006.
Secara konseptual bertujuan membangun kemandirian sekolah untuk mengembangkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik, potensi, budaya dan iklim serta lingkungan sekolah. Pendekatan ilmiah telah diperkenalkan pada kurikulum 2013. Kurikulum ini telah diberlakukan pada Tahun Pelajaran 2013/2014. Pendekatan ini berdampak pada perubahan orientasi pendekatan pembelajaran, pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Pembelajaran SD/MI menggunakan pendekatan tematik-terpadu dan SMP/MTs menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu. Pendekatan-pendekatan tersebut juga berdampak kepada perubahan sistem penilaian.
Selanjutnya Kurikulum Merdeka memiliki tiga prinsip perancangan yaitu (1) memastikan dan mendukung pengembangan kompetensidankarakter, (2) fleksibel, dan (3) berfokus pada muatan esensial. Kajian akademik tersebut juga mengaitkan tentang 1) fungsi penilaian untuk memahami kebutuhan belajar dan perkembangan proses belajar peserta didik, 2) pemahaman tentang kebutuhan dan posisi peserta didik digunakan untuk penyesuaian pembelajaran, 3) prioritas pada kemajuan belajar pesertadidik, 4) refleksiatas kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara kolaboratif dengan pendidik lain. Sehingga prinsip pembelajaran bermakna, lingkungan pembelajaran yang mendukung pencapaian kompetensi sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Selanjutnya penerapan PM di mancanegara dilakukan beberapa negara yang menggunakan PM secara khusus dalam kurikulum dan menerapkan dalam pembelajaran, diuraikan sebagai berikut.
a. Pembelajaran Mendalam sebagai Kerangka Kerja utama dalam Kurikulum Norwegia
Norwegia menerapkan kurikulum baru pada musim gugur tahun 2020 dengan menggunakan kerangka kerja PM. Pemerintah Norwegia mengurangi konten kurikulum untuk memfasilitasi PM dan menghindari kurikulum yang overload (Norwegian Ministry of Education and Research, 2015). Kurikulum baru ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas yang dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dan konteks. Pembelajaran Mendalam membutuhkan peserta didik yang aktif, merefleksikan apa yang mereka pelajari, dan mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan apa yang telah mereka ketahui (Norwegian Ministry of Education and Research, 2015). Elemen baru dalam kurikulum ini ada mata pelajaran yang terfokus pada elemen kunci dari pada gambaran detail isi materi dan terfokus pada PM. Secara umum setiap mata pelajaran memiliki core elements yang terdiri dari ‘core concepts, methods, ways of thinking, knowledge areas and ways of expression in the subject (Kunnskaps departementet, 2016). Kurikulum ini mengenalkan tiga topik antar disiplin antara lain kesehatan dan kecakapan hidup, demokrasi dan kewarganegaraan, dan pembangunan berkelanjutan. Secara ringkas kurikulum di Norwegia digambarkan sebagai berikut.
Tabel Aspek
Penerapan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam
dalam Kurikulum Norwegia
| Aspek | Deskripsi |
|---|---|
| Kompetensi Khusus Mata Pelajaran |
|
| Kompetensi Inti |
|
| Topik Interdisiplin |
|
| Pembelajaran Mendalam dan Berpikir Kritis |
|
| Perkembangan Holistik |
|
| Asesmen untuk pembelajaran |
|
| Inklusi dan Adaptasi |
|
Dengan kerangka kerja di atas, seluruh mata pelajaran memiliki struktur kurikulum yang sama yang terdiri dari enam komponen utama yaitu: 1) Relevansi dan nilai-nilai sentral; 2) Gagasan- gagasan inti; 3) Keterampilan dasar; 4) Tujuan kompetensi; dan 5) Penilaian (Norwegian Directorate for Education & Training, 2021). Upaya mengintegrasikan PM ke dalam kurikulum di Norwegia tercermin pada seluruh mata pelajaran sejalan dengan fokus negara tersebut pada inovasi, keberlanjutan, dan mempersiapkan peserta didik untuk tantangan masa depan.
b. Prinsip Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum dan Pembelajaran yang diimplementasikan oleh beberapa negara
Prinsip PM diterapkan di mancanegara dengan menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Beberapa negara menerapkan pembelajaran yang inklusif untuk menciptakan kenyamanan peserta didik untuk berpartisipasi mencapai kompetensinya, seperti di Inggris, Australia dan Finlandia. Pendidikan di Finlandia terfokus pada pendekatan yang berpusat pada peserta didik, inklusif, dan holistik. Pembelajaran diharapkan dapat menstimulasi keingintahuan, kesejahteraan peserta didik, keterampilan berpikir kritis. Fleksibilitas yang lebih besar bagi guru di Inggris untuk memutuskan tentang pendekatan belajar
mengajar yang paling tepat dan aspek-aspek peserta didik secara mendalam (Department for Education, 2011).
Maka daripada itu, jika dikaitkan dengan Pembelajaran Mendalam, pengalaman pembelajaran yang diciptakan untuk mengakomodasi karakteristik peserta didik dalam mencapai kompetensinya. Pembelajaran yang mendalam dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang menstimulasi keaktifan peserta didik dalam belajar dan lingkungan pembelajaran yang nyaman.
Pembelajaran Mendalam diterapkan dengan subject-related, area-related atau interdisciplinary bahkan transdisiplin pada semua mata pelajaran seperti yang telah diterapkan di Jerman. Pendekatan antardisiplin, seperti integrasi mata pelajaran STEM, Humaniora, dan Seni, digunakan untuk mengatasi isu-isu permasalahan kompleks di dunia.
Pembelajaran dirancang secara tematik pada isu-isu terkait keberlanjutan, transformasi digital, migrasi, dll. Pembelajaran di Australia dilakukan untuk membekali peserta didik isu-isu yang relevan dengan kehidupan, kontemporer dan menarik baik pada level lokal, global, maupun internasional. Prioritas Pembelajaran Lintas Kurikulum di Australia terdiri Sejarah dan Budaya Aborigin dan Kepulauan Selat Torres, Hubungan Asia dan Australia dan Berkelanjutan. Kurikulum menekankan pada kecakapan lintas kurikulum diterapkan di Jepang seperti kemampuan menyelesaikan masalah, kreativitas, dan kebiasaan belajar yang baik. Pembelajaran ditekankan pada pembelajaran yang relevan, penekanan pada pendidikan moral dengan pendekatan antar disiplin. Hal ini juga dilakukan di Korea Selatan, pembelajaran dilakukan dengan memberikan pemahaman otentik tentang konsep-konsep kunci dalam mata pelajaran serta mengembangkan keterampilan berpikir integratif (mempertimbangkan hubungan pengetahuan konten di dalam dan lintas mata pelajaran). Dengan demikian, pembelajaran lintas disiplin ini dapat mengembangkan kompetensi yang tidak terbatas pada pemahaman konten mata pelajaran, namun juga pada perkembangan personal, sosial, dan profesional.
Pembelajaran bermakna telah diterapkan di beberapa negara dengan mengaitkan aplikasi mata pelajaran dalam kehidupan. Salah satunya pembelajaran di Jerman dengan menggabungkan pembelajaran di kelas dengan pelatihan kejuruan di lingkungan kerja nyata, yang memberikan contoh pembelajara berdasarkan pengalaman. Sekolah-sekolah di Finlandia mengintegrasikan proyek keberlanjutan, seperti membangun perangkat bertenaga surya atau berpartisipasi dalam program konservasi, yang mengaitkan antara teori dan praktik. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi sebagai bagian dari menilai apa yang dipelajari dan mengaitkan dengan kehidupan mereka. Progra seperti “MINT Zukunft schaffen” (STEM untuk Masa Depan) melibatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan inovasi melalui kompetisi dan proyek secara langsung.
Sekolah di Finlandia melaksanakan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan tema-tema antardisiplin, seperti proyek “perubahan iklim” dengan menggabungkan biologi, etika, dansosial. Oleh karenaitu, jika dikaitkan dengan PM, pembelajaran yang kontekstual dengan kehidupan peserta didik menstimulasi perkembangan peserta didik secara holistik. Pembelajaran dilakukan secara antardisiplin dan secara langsung dalam bentuk proyek nyata berdampak kepada pencapaian kompetensi masa depan. Sehingga pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan karakteristik peserta didik, relevan dengan kehidupan, serta memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyat
Berdasarkan pendekatan pembelajaran yang menyertai perubahan kurikulum dan studi internasional dan nasional, perlu dikembangkan suatu pendekatan pembelajaran efektif yang didukung oleh ekosistem pendidikan yang kondusif untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.
Sumber: Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu. Pusat Kuriklum dan Pembelajaran. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, 2025
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)
