Keterkaitan PM dengan Kurikulum, Proses Pembelajaran dan Asesmen – Strategi Implementasi Pembelajaran Mendalam
Implementasi
PM memerlukan penyesuaian kurikulum yang ada saat ini. Penyesuaian pada kurikulum yang diperlukan untuk menerapkan PM adalah terkait:
1) penajaman materi
esensial mata pelajaran, 2) peningkatan keterlibatan belajar peserta didik, 3) pengurangan beban administrasi
bagi guru, dan 4) pemanfaatan teknologi, informasi, komunikasi, dan digital. Dengan demikian,
guru memiliki waktu yang cukup untuk mengembangkan berbagai aktivitas
pembelajaran yang berorientasi pada profil lulusan.
Penajaman
materi mata pelajaran merupakan konsekuensi dari implementasi PMagar lebih
berorientasi pada kedalaman pengetahuan dan kompetensi peserta didik. Dalam
rangka menerapkan PM, struktur dan alokasi
waktu mata pelajaran SD, SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat perlu dievaluasi termasuk evaluasi berbagai
pembelajaran kokurikuler dan ekstrakurikuler untuk penguatan soft skills, seperti
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Kepramukaan, dan lain-lain.
Selain itu, evaluasi juga perlu dilakukan terhadap beban administrasi guru,
serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digital yang saat ini
sudah dilaksanakan.
Karakteristisk
kurikulum dalam Implementasi PM adalah sebagai berikt:
1. Dinamis, Fleksibel, dan Responsif
Kurikulum
bersifat dinamis, fleksibel dan responsif, sehingga memungkinkan adanya pembaruan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang
berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kurikulum yang dinamis, fleksibel
dan responsif terhadap perkembangan teknologi dan sosial budaya akan meningkatkan
relevansi pembelajaran dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, sekolah
dapat mengimplementasikan kurikulum yang disesuaikan dengan konteks
sekolah.
2. Berpusat pada Peserta
Didik
Kurikulum
yang responsif terhadap minat, motivasi, renjana (passion), dan bakat peserta
didik memberikan kesempatan untuk personalisasi dan memberi ruang bagi peserta
didik untuk menjadi agen dalam perjalanan pembelajaran mereka. Kurikulum
yang berpusat pada peserta didik akan mendukung
pengembangan potensi setiap individu dan memungkinkan mereka belajar sesuai
dengan gaya serta ritme masing-masing.
3. Pembelajaran Terpadu
Kurikulum
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti pembelajaran terpadu
multidisiplin dan antardisiplin. Pembelajaran terpadu menyiapkan peserta didik
agar dapat menghubungkan pengetahuan antar bidang ilmu dan menerapkannya dalam
kehidupan masyarakat.
4. Relevan dan Peduli
dengan Kehidupan Masyarakat
Kurikulum
memuat substansi pelajaran terkait dengan isu-isu dan tantangan kehidupan,
mendorong peserta didik untuk mampu hidup, memiliki penghidupan, dan
berkontribusi pada kehidupan. Peserta didik terlibat
dalam proyek-proyek belajar yang berhubungan dengan
antara lain kehidupan sosial, kesehatan masyarakat, politik, perubahan iklim, energi,
dan inovasi teknologi. Pembelajaran yang relevan dengan kehidupan
masyarakat akan memberi kesempatan peserta
didik mengembangkan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif
yang kontekstual.
5. Pengembangan Keterampilan Tingkat Tinggi
Kurikulum berorientasi pada pengembangan keterampilan tingkat tinggi, seperti
kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, dan berpikir kritis.
Oleh karena itu, desain kurikulum harus berfokus pada
pengembangan keterampilan-keterampilan itu melalui pembelajaran berbasis proyek,
pembelajaran berbasis penyelidikan, dan pembelajaran berbasis pengalaman.
6. Pemanfaatan Teknologi Digital
Karakteristik
pedagogi PM memberi perhatian yang besar terhadap interaksi antar peserta
didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan mitra belajar dan
pemangku kepentingan lainnya. Interaksi
memberi umpan balik pada proses pembelajaran yg mencirikan PM. Interaksi
akan lebih optimal terjadi jika pembelajaran memanfaatkan teknologi digital.
Pemanfaatan teknologi digital
bahkan untuk wilayah
yang belum terjangkau fasilitas internet dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti
sekarang, termasuk Semi Online, atau Internet Offline (Digital
Library), WAN, LAN dan sebagainya.
Implementasi PM mendorong partisipasi aktif peserta didik
dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Guru berperan sebagai aktivator dan motivator
yang membantu peserta didik mengeksplorasi, berkreasi, dan mengaitkan hubungan
antar konsep. Beberapa karakteristik pendekatan PM dengan prinsip
berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan antara lain pembelajaran aktif, kolaboratif, pembelajaran terdiferensiasi. Dengan demikian, guru harus memahami
karakteristik peserta didik dengan berbagai strategi pembelajaran untuk
menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Selanjutnya
asesmen pembelajaran yang mengimplementasi PM difokuskan tidak hanya pada
asesmen hasil belajar, tetapi juga asesmen proses yang mengarahkan peserta didik untuk terus
belajar dan berkembang, serta merasakan
kegembiraan dalam proses belajar. Asesmen menjadi sarana refleksi
peserta didik dan guru untuk
mengembangkan pembelajaran yang memotivasi,
berkesadaran, bermakna, bergembira, dan memberikan pengalaman holistik. Asesmen
dalam penerapan PM memiliki prinsip antara lain keadilan, keterbukaan,
objektivitas, keberlanjutan, holistik, keanekaragaman, integritas,
akuntabilitas, responsivitas, dan keterhubungan dengan tujuan pendidikan.
Prinsip-prinsip asesmen ini harus berorientasi pada peningkatan kualitas
pembelajaran, pengembangan kompetensi peserta didik, dan memberikan gambaran
yang akurat tentang pencapaian hasil belajar.
Pembelajaran Mendalam membutuhkan asesmen formatif yang
memberikan umpan balik berkala yang membantu peserta didik memahami kemajuan belajar mereka,
kekuatan, dan area yang perlu diperbaiki agar peserta didik
mampu memperdalam pemahaman mereka dan melakukan perbaikan proses belajar secara
berkelanjutan.
Pada
akhir pembelajaran, asesmen sumatif pada tingkat sekolah memberikan gambaran
yang jelas tentang sejauh
mana peserta didik
telah memahami dan menguasai materi
yang diajarkan. Hasil asesmen
ini menjadi indikator pencapaian kompetensi peserta didik secara keseluruhan.
Asesmen sumatif pada tingkat nasional memastikan bahwa proses pembelajaran
berlangsung efektif dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, baik pada level
individu (peserta didik) maupun sistem
pendidikan secara keseluruhan. Asesmen sumatif dalam skala nasional berfungsi untuk
sertifikasi peserta didik, pemetaan mutu pendidikan, dan pertimbangan seleksi
peserta didik ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, namun tidak menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.
Pembelajaran Mendalam
mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan
merefleksikan kemajuan mereka sehingga mereka mampu melakukan asesmen diri,
merefleksi capaian pembelajaran mereka sendiri dan menetapkan tujuan
pribadi. Hal ini membantu peserta didik mengembangkan keterampilan
metakognitif dan mendorong mereka untuk lebih proaktif dalam pembelajaran
mereka. Asesmen dalam PM relevan dengan pencapaian profil lulusan yang
mendukung pengembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh.
