Kedudukan Semantics dalam Linguistics
semantik. Pragmatik menelaah makna tuturan (utterance). Tuturan adalah pengujaran kalimat pada konteks yang sesungguhnya.
Kalau semantik mempelajari makna kata, klause, atau kalimat yang tidak terkait dengan konteks (context- independent) sehingga mengasilkan makna yang stabil, sedang pragmatik mempelajari makna yang terkait konteks ( context- dependent).
Sebagai contoh kalimat berbunyi : “It’s already twelve o’clock” – semantiknya adalah pernyataan bahwa sekarang waktunya adalah pukul 12.00 (dua belas). Namun, secara pragmatik kata tersebut bisa bermakna:
- waktu -> merupakan jawaban atas pertanyaan “What time is it ?,
- mengusir tamu yang tidak kunjung pulang, kalau yang mengucapkan adalah ibu kost,
- merupakan pengungkapan rasa cemas seorang anak kecil yang menunggu jemputan yang tidak kunjung datang ( ah ….. udah jam dua belas …… mama kok belum datang juga sih)
- pengungkapan rasa kesal jika diucapkan oleh seseorang yang sedang menunggu kedatangan “someone special”.
yang meneliti hubungan antara bahasa dengan factor-faktor sosial di dalam suatu mayarakat tutur.
Fishman (1972,1976) menyatakan
Sosiolimguistics “….is the study of who speak what language to whom and when’ yang artinya siapa yang berbicara, bahasa apa, dengan siapa, kapan, dan dengan tujuan apa . Sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti pola-pola pemakaian bahasa/ dialek dalam budaya tertentu, pilihan pemakaian bahasa/dialek tertentu yang dilakukan oleh penutur, topic dan latar belakang pembicaraan.
Sumber: Materi Kuliah Semantics Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UT 2017.1
