Last Updated on 22.08.2026 by Zulfahmi M
Manusia, tidak diragukan lagi, adalah
makhluk pencari kebenaran. Dalam proses pencariannya itu, manusia senantiasa
mempertanyakan berbagai hal dalam hidupnya, mulai dari yang dilihat, disentuh,
dibaui, dirasakan, atau didengarkan. Mulai dari yang remeh temeh hingga yang
sangat esensial dalam hidup (/ultimate questions/), semisal mempertanyakan
keberadaan Tuhan -benarkan Tuhan itu ada atau hanya ilusi belaka,
mempertanyakan hakikat kehidupan- dari mana manusia datang, untuk apa dia hadir
di dunia, dan ke mana ia akan kembali.
makhluk pencari kebenaran. Dalam proses pencariannya itu, manusia senantiasa
mempertanyakan berbagai hal dalam hidupnya, mulai dari yang dilihat, disentuh,
dibaui, dirasakan, atau didengarkan. Mulai dari yang remeh temeh hingga yang
sangat esensial dalam hidup (/ultimate questions/), semisal mempertanyakan
keberadaan Tuhan -benarkan Tuhan itu ada atau hanya ilusi belaka,
mempertanyakan hakikat kehidupan- dari mana manusia datang, untuk apa dia hadir
di dunia, dan ke mana ia akan kembali.
Selain itu kadang ada juga pertanyaan
apakah ada kehidupan setelah mati, apakah hakikat kematian itu, mengapa ada
orang yang dilahirkan untuk menderita akan tetapi ada orang dilahirkan untuk
kaya dan berkuasa, beserta aneka pertanyaan lainnya. Dari proses bertanya dan
mencari jawaban tersebut -beserta proses-proses lain yang hadir bersamanya,
lahirlah tiga jalan yang bisa dilewati manusia untuk mendapatkan kebenaran ,
yaitu ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama .
Sebagaimana bisa kita tebak, ketiga
jalan atau institusi atau fakultas ini memiliki metode tersendiri dalam
mencari, menghampiri, dan menemukan kebenaran yang diinginkannya. Kesimpulan
tentang benar tidaknya sesuatu di antara ketiganya bisa sama bisa juga berbeda.
Menurut ilmu pengetahuan , sesuatu itu dikatakan benar apabila dapat dibuktikan
secara empirik ilmiah dan logis alias masuk akal. Ketika sesuatu tidak dapat
dibuktikan secara empiris dan logis, atau hanya memenuhi satu unsur saja,
sesuatu itu tidak dikatakan benar secara ilmiah. Itulah mengapa, sebelum sampai
pada kesimpulan tentang benar tidak sesuatu, suatu itu harus melewati
serangkaian ujian berupa penyelidikan, pengalaman empiris, dan aneka percobaan
(eksperimen). Dengan landasan ilmu pengetahuan, pemahaman manusia pun tersusun
ke dalam sebuah sistem mengenai tentang kenyataan, struktur, pembagian, bagian
dan hukum-hukum tentang semua objek yang diteliti, seperti alam raya, manusia,
hingga agama , sejauh yang dapat dijangkau oleh kekuatan.
Bagaimana kebenaran menurut filsafat ?
Sesuatu itu dikatakan benar apabila sesuatu itu -baik menyangkut alam, manusia,
maupun agama- dapat diterima oleh akal dan terjangkau oleh nalar. Dengan alat
filsafat, manusia bisa mempertanyakan secara radikal dan bebas segala sesuatu
yang berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan. Dalam pandangan C.E.M. Joad,
filsafat menghampiri kebenaran dengan cara ?mengembarakan? akal pikiran secara
radikal (mendalam), integral (menyeluruh), dan universal (berlaku umum), serta
tidak terikat dengan apa pun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang
bernama logika. Segala sesuatu yang berada di luar jangkauan logika tidak bisa
dianggap kebenaran, demikian filsafat mengatakan. Adapun agama, kebenaran yang
diyakininya didasarkan kepada wahyu atau firman Tuhan. Dengan kata lain, baik
atau buruk, benar atau tidaknya sesuatu sangat ditentukan oleh wahyu. Dalam
agama, manusia berusaha mencari dan menemukan kebenaran dengan jalan
mempertanyakan dan mencari jawaban tentang pelbagai masalah asasi dalam hidup
dengan merujuk kepada Kitab Suci atau kepada hukum-hukum agama yang terkodifikasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kita
dapat menyimpulkan bahwa sumber kebenaran ilmu dan filsafat adalah akal,
sedangkan sumber kebenaran agama adalah wahyu Ilahi. Kebenaran ilmu pengetahuan
bersifat positif, artinya berlaku sampai saat ini dan bisa tidak berlaku pada
saat yang lain. Kebenaran filsafat adalah kebenaran yang spekulatif, artinya
kebenaran yang didasarkan pada dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara
empiris dan eksperimental. Kebenaran yang dimiliki kedua fakultas ini dengan demikian
bersifat nisbi alias relatif dan terbatas. Betapa tidak terbatas, ilmu dan
filsafat diciptakan oleh akal manusia yang terbatas pula kemampuannya. Adapun
agama, kebenaran yang diklaimnya bersifat absolut karena didasarkan kepada
wahyu dari Tuhan Yang Mahasempurna dan Mahabenar, sehingga absolut pula
kebenarannya.
Walaupun demikian, untuk mencapai
kebenaran yang paripurna dan memuaskan, kita tidak cukup mengambil agama dengan
menapikan ilmu pengetahuan dan filsafat. Ketiganya harus seiring sejalan dan saling
menguatkan. Tanpa keterlibatan akal, wahyu Ilahi akan tumpul, tidak bisa kita
pahami atau kita jadikan penuntun yang sempurna dalam kehidupan. Demikian pula
tanpa bimbingan waktu , ilmu dan filsafat akan membutakan manusia dari
kebenaran yang sejati. Ilmu, filsafat, dan agama sejatinya adalah tiga saudara
yang lahir dari rahim yang sama: cinta dan kesempurnaan Tuhan yang tiada
terbatas. Bukankah akal adalah ciptaan Tuhan dan wahyu pun disabdakan oleh
Tuhan.
(Sumber: Catatan Kuliah Ilmu Filsafat)
Last Modified: 16/11/2024
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)
