Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M
Beberapa faktor
penyebab terjadinya alih kode atau campur kode dipengaruhi oleh konteks dan
situasi berbahasa yang dapat diuraikan sebagai berikut:
penyebab terjadinya alih kode atau campur kode dipengaruhi oleh konteks dan
situasi berbahasa yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pembicara
dan Pribadi Pembicara
Pembicara kadang-kadang sengaja beralih kode terhadap mitra bahasa karena dia
mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Dipandang dari pribadi pembicara, ada
berbagai maksud dan tujuan beralih kode antara lain pembicara ingin mengubah
situasi pembicaraan, yakni dari situasi formal yang terikat ruang dan waktu ke
situasi non-formal yang tidak terikat ruang dan waktu. Pembicara kadang-kadang
melakukan campur kode bahasa satu ke dalam bahasa yang lain karena kebiasaan.
dan Pribadi Pembicara
Pembicara kadang-kadang sengaja beralih kode terhadap mitra bahasa karena dia
mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Dipandang dari pribadi pembicara, ada
berbagai maksud dan tujuan beralih kode antara lain pembicara ingin mengubah
situasi pembicaraan, yakni dari situasi formal yang terikat ruang dan waktu ke
situasi non-formal yang tidak terikat ruang dan waktu. Pembicara kadang-kadang
melakukan campur kode bahasa satu ke dalam bahasa yang lain karena kebiasaan.
b. Mitra Bicara
Mitra bicara dapat berupa individu atau kelompok. Dalam masyarakat bilingual,
seorang pembicara
yang mula-mula menggunakan satu bahasa dapat beralih kode
menggunakan bahasa lain dengan mitra bicaranya yang mempunyai latar belakang
bahasa daerah yang sama. Seorang bawahan yang berbicara dengan seorang atasan
mungkin menggunakan bahasa Indonesia dengan disisipi kata-kata dalam bahasa
daerah yang nilai tingkat tuturnya tinggi dengan maksud untuk menghormati.
Sebaliknya, seorang atasan yang berbicara dengan bawahan mungkin menggunakan
bahasa Indonesia dengan disisipi kata-kata daerah (Jawa ngoko) yang memiliki
tingkat tutur rendah dengan maksud untuk menjalin keakraban. Pertimbangan mitra
bicara sebagai orang ketiga juga dapat menimbulkan alih kode jika orang ketiga
ini diketahui tidak dapat menggunakan bahasa yang mula-mula digunakan kedua
pembicara. Misalnya, pembicara dan mitra bicara menggunakan bahasa Jawa beralih
kode menggunakan bahasa Inggris karena hadirnya seorang penutur Inggris yang
memasuki situasi pembicaraan.
c. Tempat
Tinggal dan Waktu Pembicaraan Berlangsung
Pembicaraan yang terjadi di sebuah terminal bus di Indonesia, misalnya,
dilakukan oleh masyarakat dari berbagai etnis. Dalam masyarakat yang begitu
kompleks semacam itu akan timbul banyak alih kode dan campur kode. Alih bahasa
atau campur kode itu dapat terjadi dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang
lain, dan dari tingkat tutur suatu bahasa ke tingkat tutur bahasa yang lain.
Seorang penjual karcis bus di sebuah terminal yang multilingual pada jam-jam
sibuk beralih kode dengan cepat dari bahasa satu ke dalam bahasa yang lain dan
juga melakukan campur kode atau bahasa.
d. Modus
Pembicaraan
Modus pembicaraan merupakan sarana yang digunakan untuk berbicara. Modus lisan
(tatap muka, melalui telepon,atau melalui audio visual) lebih banyak
menggunakan ragam non-formal dibandingkan dengan modus tulis (surat dinas,
surat kabar, buku ilmiah) yang biasanya menggunakan ragam formal. Dengan modus
lisan lebih sering terjadi alih kode dan campur kode daripada dengan
menggunakan modus tulis.
e. Topik
Dengan menggunakan topik tertentu, suatu interaksi komunikasi dapat berjalan
dengan lancar. Alih kode dan campur kode dapat terjadi karena faktor topik.
Topik ilmiah disampaikan dalam situasi formal dengan menggunakan ragam formal.
Topik non-ilmiah disampaikan dalam situasi “bebas”, “santai” dengan menggunakan
ragam non-formal. Dalam ragam non-formal kadang kadang terjadi “penyisipan”
unsur bahasa lain, di samping itu topik pembicaraan non-ilmiah (percakapan
sehari-hari) menciptakan pembicaraan yang santai. Pembicaraan yang santai juga
dapat menimbulkan campur kode.
f. Fungsi dan
Tujuan
Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaraan didasarkan pada tujuan
berkomunikasi. Fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dengan tujuan
tertentu, seperti perintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi, dan sebagainya.
Pembicara menggunakan bahasa menurut fungsi yang dikehendakinya sesuai dengan
konteks dan situasi komunikasi. Alih kode dapat terjadi karena situasi
dipandang tidak sesuai atau tidak relevan. Dengan demikian, alih kode
menunjukkan adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan
situasional yang relevan dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.
g. Ragam dan
Tingkat Tutur Bahasa
Pemilihan ragam dan tingkat tutur bahasa banyak didasarkan pada pertimbangan
pada mitra bicara. Pertimbangan ini menunjukkan suatu pendirian terhadap topik
tertentu atau relevansi dengan situasi tertentu. Alih kode dan campur kode
lebih sering timbul pada penggunaan ragam non-formal dan tutur bahasa rendah
dibandingkan dengan penggunaan ragam bahasa tinggi.
Sumber: Materi Kuliah Sosiolinguistik PBI UT 2017.1
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)
