Last Updated on 20.08.2026 by Zulfahmi M
BAB II
Ditinjau dari segi teori menulis, terdapat aspek aspek dalam ketrampilan
menulis harus diperhatikan untuk menghasilkan suatu karya. Oshima dan Hogue
(1988) menulis adalah mengungkapkan ide atau pokok pokok pikiran yang
dijabarkan dalam 3 bagian, bagian pendahuluan, isi, dan penutupan/konklusi yang
diatur dalam organisasi tertentu. Ketiga bagian tersebut diuraikan dalam
beberapa paragraf sehingga bagian pendahuluan kemungkinan terdiri dari lebih 1
paragraf, bagian ini terjabar dalam lebih dari 2 paragraf, dan bagian
penutupnya terdiri dari lebih dari 1 paragraf.
adalah rangkaian beberapa kalimat penunjang. Dengan demikian, sebuah karya
merupakan pengorganisasian beberapa ide pokok yang terangkum dalam beberapa
paragraf.
kita baca. Istilah teknisnya, teks bukan satuan kata melainkan satuan semantis
atau semantic unit (Halliday 1980). Makna ini kemudian direalisasikan dalam
kata, klausa atau kalimat. Contoh “kata kursi” disepakai orang Indonesia
sebagai realisasi makna sebuah benda yang biasa diduduki orang. Entah bagaimana
sejarahnya, kalau orang mengatakan kursi yang terbayang orang benda itu untuk
diduduki. Menurut Tri Wiratno (2003:3) teks adalah satuan bahasa yang
mengungkapkan makna secara kontektual. Jadi teks tidak diukur dari jumlah
kalimat atau halaman yang dikandung, tetapi dari makna yang diungkapkan dan
konteks yang melingkupnya.
teks mencakup makna yang diucapkan melalui jalur lisan maupun tulis. Ketika
kita bercakap-cakap itu berarti sudah menciptakan teks, sedemikian juga ketika
kita menulis. Sebuah percakapan atau tulisan yang maknanya dapat dipahami dan dinalar
disebut teks. Maka, jika ada 2 orang sama-sama berbicara tetapi masing-masing
berbicara semaunya tidak nyambung, maka apa yang mereka katakan sulit disebut
teks karena tidak terlihat hubungan semestinya. Demikian juga apabila kita
menulis sepuluh kalimat secara acak, kalau hasilnya sulit dipahami itu berarti
bukan teks, karena membingungkan pembacanya, berati apabila kita melakukan
komunikasi setiap hari, setiap saat itu adalah bahwa kita sedang menciptakan
teks, baik itu dilakukan bersama (dalam percakapan) maupun sendiri dalam
ceramah, tulisan dan sebagainya. Halliday (1985:11) pada saat kita mendengarkan
dan membaca kita terlibat dalam pertukaran tersebut berarti kita sudah
membangun teks. Teks tersebut sebagai “a sosial exchange of meanings”
hanya suatu objek abstrak yang dipelajari, tapi sesuatu yang digunakan orang
setiap hari. Dalam mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi, perlu disadari
adanya makna-makna bahasa yang perlu dikuasai. Menurut Halliday (1973), ada dua
macam makna yang terangkum dalam semua bahasa. Makna ideasional dan makna
interpersonal. Makna ideasional adalah merupakan wujud dari pengalaman
seseorang, baik pengalaman nyata maupun imajiner. Yang oleh Halliday disebut “in
the sense of content”. Makna interpersonal adalah makna sebagai bentuk dari
tingkah laku (sebagai pembicara atau penulis) yang kita tujukan kepada orang
lain (sebagai pendengar atau pembaca). (Panduan Pengembangan Silabus mapel
Bahasa Inggris SMP, 2006: 5 )
Media menurut Gagne (1970) bahwa berbagai jenis komponen. Media pendidikan
menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT) adalah bentuk jamak
dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Segala
sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan/ informasi yang dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik yang dilakukan dengan
sengaja dan terarah guna memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar pada
diri peserta didik dengan mudah.
digunakan peneliti untuk meningkatkan hasil belajar adalah rancangan
pembelajaran yang memodifikasi antara teori, sikap belajar kreatif sehingga
modelnya sebagai berikut :
1. Menanamkan arti pentingnya alat peraga sebagai media pembelajaran
2. Menciptakan interaksi belajar
mengajar yang memungkinkan murid dapat pengalaman, tambahan wawasan pengetahuan
tentang konsep pelajaran yang diperjelas dengan media pembelajaran
Berdasarkan pada teori kerangka berpikir dan realita
di atas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas sebagai
berikut :“Melalui penggunaan gambar gambar seri sebagai media pembelaiaran
dapat meningkatkan hasil belaiar siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris dalam
kemampuannya menulis teks narrative berbasis genre.”
Baca Juga: Bab I: Pendahuluan, Bab II: Kajian Teori, Bab III:
Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaram, Bab IV: Hasil Penelitian dan
Pembahasan, Bab V: Kesimpula dan Daftar Pustaka
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)