Asesmen Formatif pada Kurikulum Merdeka

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Penilaian
atau asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses
pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini
dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hambatan atau
kesulitan yang mereka hadapi, dan juga untuk mendapatkan informasi perkembangan
peserta didik. Informasi
tersebut merupakan umpan balik bagi peserta didik dan juga pendidik.

Bagi
peserta didik,
asesmen formatif berguna untuk berefleksi, dengan memonitor kemajuan
belajarnya, tantangan yang dialaminya, serta langkah- langkah yang perlu ia
lakukan untuk  meningkatkan
terus capaiannya. Hal ini merupakan proses belajar yang penting untuk menjadi
pembelajar sepanjang hayat.

Bagi
pendidik,
asesmen formatif berguna untuk merefleksikan strategi pembelajaran
yang digunakannya, serta untuk meningkatkan efektivitasnya dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran. Asesmen ini juga memberikan
informasi tentang kebutuhan belajar individu peserta didik yang diajarnya.

Agar
asesmen memberikan manfaat tersebut kepada peserta didik dan pendidik, maka
beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam merancang asesmen formatif,
antara lain sebagai berikut:

  • Asesmen
    formatif tidak berisiko tinggi (high stake). Asesmen formatif dirancang untuk
    tujuan pembelajaran dan tidak seharusnya digunakan untuk menentukan nilai
    rapor, keputusan kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusan-keputusan penting
    lainnya.
  • Asesmen
    formatif dapat menggunakan berbagai teknik dan/atau instrumen. Suatu asesmen
    dikategorikan sebagai asesmen formatif apabila tujuannya adalah untuk
    meningkatkan kualitas proses belajar.

  • Asesmen
    formatif dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang
    berlangsung sehingga asesmen formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan.

  • Asesmen
    formatif dapat menggunakan metode yang sederhana, sehingga umpan balik hasil
    asesmen tersebut dapat diperoleh dengan cepat.

  • Asesmen
    formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan memberikan informasi kepada
    pendidik tentang kesiapan belajar peserta didik. Berdasarkan asesmen ini,
    pendidik perlu menyesuaikan/memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajarannya
    dan/ atau membuat diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan
    peserta didik.

  •  Instrumen
    asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi tentang kekuatan, hal-hal
    yang masih perlu ditingkatkan oleh peserta didik dan mengungkapkan cara untuk
    meningkatkan kualitas tulisan, karya atau performa yang diberi umpan balik.
    Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka.

Contoh-contoh
pelaksanaan asesmen formatif.

  • Pendidik
    memulai kegiatan tatap muka dengan memberikan pertanyaan berkaitan dengan
    konsep atau topik yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
  • Pendidik
    mengakhiri kegiatan pembelajaran di kelas dengan meminta peserta didik untuk
    menuliskan 3 hal tentang konsep yang baru mereka pelajari, 2 hal yang ingin
    mereka pelajari lebih mendalam, dan 1 hal yang mereka belum pahami.

  • Kegiatan
    percobaan dilanjutkan dengan diskusi terkait proses dan hasil percobaan,
    kemudian pendidik memberikan umpan balik terhadap pemahaman peserta didik.

  • Pendidik
    memberikan pertanyaan tertulis, kemudian setelah selesai menjawab pertanyaan,
    peserta didik diberikan kunci jawabannya sebagai acuan melakukan penilaian
    diri.

  • Penilaian
    diri, penilaian antarteman, pemberian umpan balik antar teman dan refleksi.
    Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk menjelaskan secara lisan atau
    tulisan (misalnya, menulis surat untuk teman) tentang konsep yang baru
    dipelajari.

  • Pada
    PAUD, pelaksanaan asesmen formatif dapat dilakukan dengan melakukan observasi
    terhadap perkembangan anak saat melakukan kegiatan bermain-belajar.

  • Pada
    pendidikan khusus, pelaksanaan asesmen diagnostik dilakukan untuk menentukan
    fase pada peserta didik sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan
    karakteristik peserta didik, misalnya: salah satu peserta didik pada kelas X
    SMALB (Fase E) berdasarkan hasil asesmen diagnostik berada pada Fase C sehingga
    pembelajaran peserta didik tersebut tetap mengikuti hasil asesmen diagnostik
    yaitu Fase C.

 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *