Asbabul Wurud Hadist

Pengertian Asbabul Wurud

Secara etimologis,
“asbabul wurud” merupakan gabungan (idhafah)dari dua suku kata yaitu dari kata
asbab dan al-wurud. Kata “asbab” adalah bentuk jamak dari kata “sabab”, yang
berarti sebab atau segala sesuatu yang dapat menghubungkan kepada sesuatu yang
lain. Sedangkan kata “al-wurud” merupakan bentuk isim masdar dari kata
warada-yaridu-wurudan yang berarti datang atau sampai.

Menurut as-Suyuthi, secara
terminologi asbabul wurud diartikan sebagai berikut:
أنه مايكون طريقا
لتحديد املراد من احلديث من عموم أو خصو ص أو إطالق أو تقييد أو نسخ أو حنوذلك
. “Sesuatu yang menjadi thariq (metode)
untuk menentukan maksud suatu hadis yang bersifat umum, atau khusus, mutlak
atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya nasikh (pembatalan) dalam
suatu hadis.” Menurut Hasbi ash-Shiddiqie asbabul wurud sebagai berikut:
علم يعرف به السبب
الذى وردالجله احلديث والزمان الذى جاءبه
. “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW. menuturkan
sabdanya dan masa-masa Nabi SAW. menuturkannya.” Sementara itu, ada pula ulama
yang memberikan definisi asbabul wurud, agak mirip dengan pengertian asbabun
nuzul, yaitu:
ماورد احلديث أيام وقوعه.

Dengan demikian, secara
sederhana dapat diartikan bahwa asbabul wurud adalah sebab-sebab datangnya
sebuaah hadis. Artinya ilmu ini membahas mengenai sebab mengapa suatu hal itu
disabdakan, dilakukan atau ditetapkan Nabi Muhammad SAW. Maka, asbabul wurud
sangat erat kaitannya dengan waktu dan tempat terjadinya peristiwa yang
melatarbelakangi lahirnya suatu hadis.

Macam-macam Asbabul
Wurud

Menurut Imam As-Suyuthi
asbabul wurud itu dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu:

1. Sebab yang berupa ayat
Al-Quran , artinya di sini ayat Al-Quran itu menjadi penyebab Nabi SAW.
Mengeluarkan sabdanya.  Contohnya antara
lain Firman Allah SWT. Yang artinya “ Orang-orang yang beriman, dan mereka
tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang
yang mendapat keamanan dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S
Al-An’Am: 82)

Ketika itu sebagian
sahabat memahami kata “azh-zhulmu” dengan pengertian al jaur yang berarti
berbuat aniaya atau melanggar aturan Nabi SWA. Kemudian memberikan penjelasan
bahwa yang dimaksud “azh-zhulmu” dalam firman tersebut adalah asy-syirku yakni
perbuatan syirik, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Lukman yang
artinya “Sesungguhnya syirik merupakan kezhaliman yang besar.”

2. Sebab yang berupa
hadis,artinya pada waktu itu terdapat suatu hadis,namun sebagian sahabat merasa
kesulitan memahaminya,maka kemudian muncul hadis lain yang memberikan
penjelasan terhadap hadis tersebut.contoh adalah hadis yang artinya”
sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat dibumi,yang dapat berbicara
melalui mulut manusia mengenai kebaikan dan keburukan seseorang.” (HR.Hakim )


 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *