Macam-Macam Asbabul Nuzul
definisi yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa asbabun nuzul suatu
ayat itu adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan.
Artinya suatu ayat atau beberapa ayat turun untuk menerangkan hal yang
berhubungan dengan peristiwa tertentu atau memberi jawaban terhadap pertanyaan
tertentu. Dalam hal ini asbabun nuzul sifatnya situasional, yakni situasi yang
adakalanya didahului pertanyaan yang diajukan oleh sahabat kepada Nabi SAW
untuk mengetahu hukum syara’, atau juga untuk menafsirkan sesuatu yang
berkaitan dengan agama. Adakalanya juga situasi yang berupa gambaran peristiwa
yang terkandung dalam ayat itu sendiri. Dengan adanya situasi-situasi tertentu
ketika diturunkan ayat Al-Qur’an membuktikan betapa bijaksananya Allah memilih
saat-saat yang tepat untuk menurunkan suatu ayat sebagai pedoman hidup umat
manusia.104
Selain
itu, dari definisi di atas dapat juga disimpulkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an
dari segi sebab-sebab turunnya dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:
- Kelompok
ayat-ayat yang turun tanpa didahului oleh sebab. Kelompok
ayat-ayat yang turun didahului oleh sebab tertentu.
Dengan
demikian, tidak semua ayat harus mempunyai asbabun nuzul. Bahkan ayat-ayat yang
tidak mempunyai asbabun nuzul jumlahnya lebih banyak dari ayat- ayat yang
mempunyai asbabun nuzul. Ayat-ayat yang tidak mempunyai asbabun nuzul kebanyakan
adalah ayat-ayat tentang keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, ayat-ayat tentang
akhlak, ayat-ayat yang mengkisahkan umat-umat terdahulu beserta dengan Nabinya,
ayat-ayat tentang keimanan kepada yang ghaib, dan ayat-ayat tentang kejadian di
hari akhirat nanti.105
Sebagaimana
telah diuraikan sebelumnya bahwa ditinjau dari aspek bentuknya, asbabun
nuzul dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu:
- Asbabun
nuzul yang berbentuk peristiwa. Asbabun
nuzul yang berbentuk pertanyaan.
Bentuk
yang pertama meliputi tiga jenis peristiwa, yaitu berupa pertengkaran, kesalah
seriusan, dan juga cita-cita atau keinginan. Adapun asbabun nuzul bentuk yang
kedua yaitu berupa pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang terjadi di
masa lalu, masa yang sedang berlangsung, dan masa yang akan datang.106
Contoh
asbabun nuzul yang berupa peristiwa diantaranya tentang turunnya surat Maryam
ayat 77-80. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Hubbab bin Al-Arat ia berkata: “Aku
berprofesi sebagai tukang besi, dan Ash bin Wail mempunyai utang kepadaku. Aku dating
kepadanya untuk menagihnya, tetapi ia mengatakan: aku tidak akan membayar
hutangku kepadamu sebelum kamu mau kufur kepada Muhammad serta kamu mau
menyembah kepada berhala Laata atau ‘Uzza. Maka aku menjawab: aku tidak mau kafir
sampai kamu dimatikan dan dibangkitkan kelak oleh Allah. Akan tetapi Ash bin
Wail menjawab: baik, tunggu sajalah aku sampai hari dibangkitkan itu, akan
kubawakan harta dan anak, akan aku bayar hutangku padamu.” Kemudian saat itu
turunlah ayat 77-80 surah Maryam yang berbunyi sebagai berikut:
“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir
kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan
anak.” Adakah ia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi
Tuhan Yang Maha Pemurah? Sekali- kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia
katakan, dan benar-benar Kami akan memperpanjang azab untuknya, dan Kami akan
mewarisi apa yang ia katakan itu dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang
diri.”
Selanjutnya,
contoh asbabun nuzul yang berupa pertanyaan, diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal
bahwa ia berkata: “Ya Rasululllah, orang-orang Yahudi dating kepadaku dan mengemukakan
beberapa pertanyaan tentang bulan. Bukankah bulan itu selalu saja mulanya itu
tampak kecil, kemudian bertambah besar dan membundar, lalu Kembali mengecil
lagi seperti semula?”. Lantas Allah menurunkan ayat 189 surat Al-Baqarah
sebagai berikut:
“Mereka
bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk)
waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah
dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa.
Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar
kamu beruntung.”
Adapun
jika ditinjau dari aspek jumlah asbabun nuzul suatu ayat dan jumlah ayat-ayat
yang turun, maka asbabun nuzul dapat diklasifikasikan juga menjadi dua bagian,107
yaitu:
1. Ta’addud
al-asbab wa al-nazil wahid (sebab turunnya lebih dari satu sedang inti
persoalan yang terkandung dalam satu ayat atau sekelompok ayat yang turun hanya
satu). Sebab turun suatu ayat disebut ta’addud (berbilang) bila ditemukan terdapat
dua riwayat atau lebih yang berbeda isinya tentang sebab turunnya suatu ayat
atau sekelompok ayat tertentu.
Dalam
hal ini, turunnya wahyu bertujuan untuk menanggapi beberapa peristiwa atau
sebab. Contohnya dalam surat Al Ikhlas ayat 1-4:
“Katakanlah
(Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.(Allah)
tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara
dengan Dia.”
Ayat-ayat
tersebut diturunkan sebagai tanggapan terhadap orang-orang musyrik Mekkah
sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah. Ayat tersebut juga diturunkan kepada
kaum ahli kitab yang ditemui di Madinah setelah Rasulullah SAW hijrah.
2. Ta’addud
al-nazil wa al-asbab wahid (inti persoalan dalam satu ayat sekelompok ayat yang
turun lebih dari satu, sedang sebab turunnya hanya satu). Suatu ayat ayat
sekelompok ayat tertentu yang turun disebut dengan ta’addud al-nazil bila inti persoalan
yang terkandung dalam ayat yang turun sehubungan dengan sebab tertentu lebih
dari satu persoalan.
Contohnya
terdapat pada surat Ad-Dukhan ayat 10,15, dan 16. Allah SWT berfirman:
“Maka
tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,” (QS. Ad-Dukhan:
10).
“Sungguh
(kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali
(ingkar).” (QS. Ad-Dukhan: 15).
“(Ingatlah)
pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi
balasan.” (QS. Ad-Dukhan: 16).
Asbabun
nuzul ketiga ayat tersebut terjadi pada saat kaum Quraisy durhaka kepada Nabi
Muhammad SAW. Beliau berdoa agar mereka (kaum Quraisy) mendapatkan kelaparan sebagaimana
pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf AS. Maka, Allah SWT menurunkan penderitaan
kepada kaum Quraisy sehingga turunlah QS. Ad-Dukhan ayat 10.
Kemudian,
para kaum Quraisy menghadap Nabi SAW untuk meminta bantuan. Lalu, Rasulullah SAW
berdoa kepada Tuhan untuk diturunkan hujan. Allah SWT lalu menurunkan hujan dan
turunlah QS. Ad-Dukhan ayat 15.
Namun,
setelah mereka mendapatkan nikmat dari Allah SWT, mereka kembali sesat dan
durhaka maka turunlah ayat ke-16. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa
siksaat yang dimaksud akan turun saat Perang Badar.
Sumber:
Last Modified: 15/05/2024
