Faktor – Faktor Terbentuknya Brand Image Madrasah atau Sekolah

Menurut Schiffman dan Kanuk brand image dapat terbentuk
oleh beberapa faktor di antaranya yaitu :

  1. Kualitas yang diberikan oleh produsen merek tertentu berhubungan
    langsung dengan kualitas barang dan jasa yang diberikan oleh produsen tersebut.
    Kualitas ini juga dipengaruhi oleh kompetensi tenaga pengajar dan kemampuan
    lulusan. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan kemudahan lulusan untuk
    melanjutkan pendidikan lebih lanjut.
  2. Dapat dipercaya atau dapat diandalkan mengacu pada
    persepsi atau kesepakatan yang dikembangkan oleh masyarakat mengenai kualitas
    dan keandalan layanan yang dikonsumsi.
  3. Mempunyai kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan
    fungsi dari suatu produk atau jasa yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen untuk
    memenuhi kebutuhannya.
  4. Pelayanan mengacu pada tanggung jawab produsen atau
    lembaga pendidikan dalam memenuhi kebutuhan konsumen atau pengguna layanan pendidikan.
  5. Risiko dikaitkan dengan keuntungan dan kerugian finansial
    yang dihadapi konsumen saat memilih atau mendaftar di lembaga pendidikan.
  6. Harga ditentukan oleh pengeluaran yang dikeluarkan
    konsumen ketika menempuh pendidikan lebih lanjut, baik tinggi maupun rendahnya pengeluaran.
  7. Image dari brand itu sendiri mencakup persepsi, dukungan,
    dan pengetahuan yang terkait dengan suatu merek.

Ketujuh aspek tersebut membentuk suatu kesatuan yang
kohesif dan saling bergantung. Sebab, dalam proses penciptaan brand image perlu
adanya bantuan dari banyak pihak. Pada akhirnya, brand image mengacu pada
persepsi terhadap suatu produk atau layanan seperti yang disampaikan oleh konsumennya.

Dijelaskan pula oleh Alma beberapa faktor yang dapat membentuk image pada lembaga pendidikan, yaitu:

  1. Kualitas tenaga pengajar, produk, dan layanan yang
    ditawarkan suatu lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh kehadiran
    tenaga-tenaga profesional yang bertalenta dan berketerampilan tinggi di
    bidangnya masing-masing.
  2. Perpustakaan memainkan peran penting dalam kemajuan
    pengetahuan ilmiah dan pertumbuhan lembaga pendidikan.
  3. Teknologi pendidikan dalam bentuk alat sangat bermanfaat
    bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam proses belajar mengajar.
  4. Biro Konsultan: Suatu lembaga pendidikan memerlukan
    seorang staf yang mengelola hubungan masyarakat agar dapat berfungsi sebagai penghubung
    antara lembaga dan masyarakat.
  5. Kegiatan olahraga dapat dimanfaatkan oleh lembaga
    pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan minat siswa terhadap lembaganya,
    yaitu dengan memberikan beasiswa kepada individu yang berbakat di bidang olahraga.
  6. Instansi pendidikan dapat memperoleh keuntungan promosi
    dengan mengikuti acara-acara resmi melalui keterlibatannya dalam kegiatan Marching
    Band dan Tim Seni.
  7. Kegiatan keagamaan, bukan hanya berupa bangunan yang
    merepresentasikan suatu agama tertentu, tetapi kegiatan-kegiatan khusus di
    dalamnya yang bisa dijadikan alat promosi oleh lembaga.
  8. Kunjungan orang tua, melalui kegiatan ini orang tua dapat
    secara langsung melihat fasilitas serta kegiatan yang diberikan, selain itu melaui
    kunjungan orang tua ini, mereka dapat berinteraksi dengan warga sekolah.
  9. Terdapat fasilitas konseling yang tersedia untuk membantu
    siswa dalam mengambil keputusan mengenai rencana pasca-kelulusan mereka, baik
    untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau memasuki dunia kerja.
  10. Publikasi seperti majalah, buletin, komedi, dan sketsa
    diperlukan untuk meningkatkan komunikasi antar warga sekolah. Selain itu, ini
    dapat berfungsi sebagai alat untuk mengajarkan keterampilan menulis kepada
    anak-anak yang sangat berbakat.
  11. Kelompok alumni memfasilitasi pertukaran informasi antar
    alumni mengenai universitas dan peluang kerja. Institusi pendidikan juga dapat
    memanfaatkan asosiasi ini untuk meningkatkan reputasinya.

Syafii sebagaimana dikutip oleh Saidil mengatakan bahwa
kebijakan pendidikan yang harus diutamakan adalah membantu setiap peserta didik
dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan:

  1. Menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya
    dicurahkan untuk menjadi pendidik;
  2. Menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik
    dapat belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang
    bermain yang memadai;
  3. Menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang
    memungkinkan peserta didik dapat secara terus menerus belajar melalui membaca buku
    rujukan, kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta
    didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar; Evaluasi secara komprehensif dan
    obyektif.
Sumber:

  • Buchari Alma, Manajemen Pemasaran Dan Pemasaran Jasa (Bandung
    : Alfabeta, 2013), hal 377-382 .
  • L.G. Schiffman & LL Kanuk, Consumer Behavior (New jersey
    prenticehall.inc, 2000), hal 185.
  • Saidil Mustar, Implementasi Kebijakan Pembiayaan Pendidikan (Studi di SMPN 1 Curup Timur, Rejang Lebong, Bengkulu), Tarbiyatuna: Kajian Pendidikan Islam 5, No 1 Tahun 2021, hal 64 
Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *