Rambu-Rambu Penyusunan RPP Pendekatan Scientifc dan Penilaian Autentik pada Kurikulum 2013 – Materi Sosialisasi Kurikulum 2013

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

 Rambu-Rambu Penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Mengacu pada Standar
Proses dengan Menggunakan Pendekatan Scientific dan Penilaian Autentik

A. Pendahuluan

PP nomor 19 tahun 2005 yang berkaitan dengan standar
proses mengisyaratkan bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan perencanaan
pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara
lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi
pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP).

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005, Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses
pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat
sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber
belajar, dan penilaian hasil belajar
”.

Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun
RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran
berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasiaktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi bagi siswa untuk mengembangkan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.

Dalam rangka
pelaksanaan kurikulum tahun 2013, guru harus menyusun RPP dengan
menyesuaikan  berberapa  komponen dengan dokumen kurikulum
tersebut.  Selain itu didalam rencana
pelaksanaan pembelajarannya harus menerapkan pendekartan scientific dan penilaian autentik.

B. Penyusunan RPP pada Standar Proses

Standar
proses tersebut memuat rambu-rambu tentang prinsip-prinsip pengembangan RPP.
Dengan berlakunya kurikulum 2013, maka rambu-rambu tersebutperlu disesuaikan
dengan kebutuhan.

Pada
Standar Proses (Permendiknas no 41 tahun 2007) terdapat Komponen RPP yang yang
terdiri
Identitas mata pelajaran yang
meliputisatuan pendidikan, kelas, semester,
program studi, mata pela
jaran atau
tema pelajaran, jumlah pertemuan,
standar kompetensikompetensi dasar,  indikator pencapaian kompetensi, tujuan
pembelajaran, materi ajar, alokasiwaktu, metodepembelajaran,
kegiatanpembelajaran  yang
meliputikegiatanpendahuluan, inti dan
penutup,  selanjutnyaterdapat
penilaianhasilbelajar
dan sumber belajar.

Pada kurikulum 2013,
istilah standar kompetensi tidak dikenal lagi. Namun muncul istilah kompetensi
inti. Kompetensi inti merupakan gambaran
mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan kedalam aspek sikap, pengetahuan,
danketerampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari
peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi
Inti adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap
kelas melalui pembelajaran.

Prinsip-prinsip
penyusunan RPP menurut  standar proses
adalah
memperhatikan perbedaan
individu peserta didik, mendorong partisipasi aktif peserta didik,
mengembangkan budaya membaca dan menulis , memberikan umpan balik dan tindak
lanjut, keterkaitan dan keterpaduan dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

1. Langkah-langkah
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari 
mencantumkan Identitas RPP, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Indikator
Pencapaian Kompetensi, Tujuan
Pembelajaran, M
ateri Pembelajaran, Metode Pembelajaran,   Kegiatan Pembelajaran, Sumber Belajar, dan
Penilaian.  Setiap komponen mempunyai
arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan. 

Pada standar proses 
kegiatan pembelajaran terdiri dari langkah-langkah   yang memuat unsur kegiatan
pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

a. Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan 
diharapkan terdapat  kegiatan

  • Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi
    yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan
    illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi, fenomena
    alam, fenomena sosial, atau lainnya.
  • Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik
    tentang materi yang akan diajarkan.
  • Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari
    gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dan
    sebagainya.
  • Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu
    yang akan dipelajari.Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian
    materi pelajaran secara garis besar.
  • Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelak­sana­an
    pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).

b. Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan
inti merupakan proses pem­
belajaran
untuk mencapai Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, me­
motivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta
memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativi­
tas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik, namun tetap efektif.

Kegiatan inti
menggunakan metode yang disesuai­
kan
dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­
jaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada RPP kegiatan eksplorasi,
elaborasi dan konfirmasi sebaiknya dirancang dengan kegiatan-kegiatan yang
sesuai dengan materi dan metode yang digunakan.

c. Kegiatan Penutup

Pada kegiatan penutup di RPP dicantumkan  dengan cara apa guru mengarahkan peserta
didik untuk membuat rangkuman/simpulan. Pemberian tes atau tugas, dan
memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar
kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi­/pengayaan.

Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam
bentuk rangkaian kegiatan, yang sesuai dengan karakteristik model pembelajaran
yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena
itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak
harus ada dalam setiap pertemuan.

Pengembangan Kurikulum memiliki tema seperti pada gambar
dibawah ini. Maka pada langkah pembelajaran di RPP pengembangan sikap,
keterampilan dan pengetahuan harus tampak.

Pada Standar Proses, pembelajaran yang berfokus pada
kegiatan Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi sangat diharapkan.  Pembelajaran pada Kurikulum 2013 disarankan
berbasis pendekatan Sientific yang meliputi mengamati, menanya, mengolah,
menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. RPP yang disusun  sebaiknya berbasisn pendekatan scientific
dengan memperhatikan karakter mata pelajaran dan karakteristik siswa.  Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal,
tetapi melalui pemberitahuan, contoh ,modeling, atau keteladanan, dan
pembiasaan. Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di  lingkungan sekolah dan masyarakat. Dan harus
diingat bahwa guru bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar.

Pembelajaran di SD dikemas dalam suatu tema sehingga
pembelajaran ini disebut PembelajaranTematik. Sedangkan Pembeajaran IPA, IPS di
SMP masing-masing diajarkan secara terpadu. Pemilihan sumber belajar mengacu
pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan.  Sumber belajar mencakup sumber rujukan,
lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara
lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan.
Misalnya,  sumber belajar dalam silabus
dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang
sebenarnya.

Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks
tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu. Jika menggunakan bahan ajar
berbasis ICT, maka harus ditulis nama
file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

2. Penilaian

Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan
memperbaiki pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah
alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau
sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan
proses perbaikan terhadap kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki
seorang atau sekelompok peserta didik.

Penilaian pada kurikulum sebelumnya menekankan pada aspek
kognitif dan test menjadi kegiatan penilaian yang dominan. Pada kurikulum 2013
penilaian menekankan pada aspek kognitif, sikap dan  psikomotor 
secara proporsional. Penilaian tes dan portofolio saling melengkapi (
Mendikbud, 2013)

Pada kurikulum 2013 penilaian dijabarkan atas teknik
penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai. Beberapa hal mengenai
penilaian pada kurikulum 2013 adalah sebagai berikut.

  • Penilaian berbasis kompetensi
  • Pergeseran dari penilain melalui tes (mengukur kompetensi
    pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian autentik(mengukur
    kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).
  • Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian
    hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal
    (maksimal)
  • Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga
    kompetensi inti dan SKL
  • Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa
    sebagai instrumen utama penilaian .     
  • Pelaksanaan penilaian dengan pemanfaatan portofolio
    merupakan salah satu penilaian autentik.

C. Penerapan Pendekatan Scientific dalam RPP

Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah
atau scientific approach pada proses
pembelajaran.  Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran.  (Sudarwan, 2013).  Menurut 
McCollum (2009)   dijelaskan bahwa
komponen-komponen penting  dalam mengajar
menggunakan pendekatan  scientific diantaranya adalah guru
harus  menyajikan pembelajaran yang
dapat  meningkatkan rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder), meningkatkan
keterampilan mengamati (Encourage
observation
), melakukan analisis ( Push
for analysis
) dan berkomunikasi (Require
communication
)

1. Meningkatkan Rasa Keingintahuan

Semua pengetahuan dan pemahaman dimulai dari rasa ingin
tahu dari peserta didik tentang ’siapa, apa, dan dimana‘atau “’who, what and
where” dari apa yang ada di sekitar peserta didik.   Pada kurikulum 2013, peserta didik dilatih
rasa keingintahuannya  sampai   ’mengapa dan bagaimana ‘“why‘and ‘How‘

Pada pembelajaran rasa keingintahuan ini dapat
difasilitasi dalam kegiatan tanya jawab 
baik mulai dari kegiatan pendahuluan kegiatan inti dan penutup. Selain
tanya jawab, dapat juga dengan melalui memberikan suatu masalah,   fakta-fakta 
atau kejadian alam yang ada di sekitar peserta didik.

2. Mengamati

Pembiasaan kegiatan mengamati sangat bermanfaat bagi
pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki
kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik dapat menemukan
fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi
pembelajaran yang disajikan oleh guru (Sudarwan, 2013). Menurut Nuryani, 1995 m
engamati merupakan kegiatan mengidentifikasi
ciri-ciri objek tertentu dengan alat inderanya secara teliti, menggunakan fakta
yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan, menggunakan alat atau bahan
sebagai alat untuk mengamati objek dalam rangka pengumpulan data atau
informasi. 
Pengamatan yang
dilakukan hanya menggunakan indera disebut pengamatan kualitatif,
sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur disebut pengamatan
kuantitatif
. Untuk meningkatkan keterampilan mengamati, maka didalam RPP
sebaiknya dimunculkan kegiatan yang memungkinkan  siswa untukmengunakan berbagai pancaindranya
untuk mencatat hasil pengamatan.  

3. Menganalisis

Analisis dapat berupa analisis
kuantitatif dan kualitatif. Peserta didik perlu dilatih dan dibiasakan
melakukan analisas data yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Misalnya data
pengamatan yang diperoleh sendiri.

Berikan kesempatan kepada peserta  untuk meninjau kembali hasil pengamatan dan
mereka dilatih membuat pola-pola atau grafik 
dari data  yang diperolehnya. Latih peserta
untuk melakukan klasifikasi, menghubungkan dan menghitung.

4. Mengkomunikasikan

Pada pendekatan scientific
guru diharapkan member kesempatan untuk mengkomunikasikan yang peserta didik
telah pelajari.

Berdasarkan uraian di atas, RPP khususnya pada
langkah-langkah pembelajaran, diharapkan 
memunculkan kegiatan-kegiatan seperti yang ada pada pendekatan scientific. 

D. Penerapan
Penilaian Autentik di dalam RPP

Penilaian Autentik merupakan usaha untuk mengukur atau
memberikanpenghargaan atas kemampuan seseorangyang benar-benar menggambarkan
apa yang
dikuasairya. Penilaian ini
dilakukan denganberbagai cara seperti tes tertulis, kolokium,
portofolio, unjuk kerja, unjuk tindak (berdikusi,
berargumentasi, dan lain-lain), 
observasi dan
lain-lain (Permendiknas nomor 4 tahun 2007).

Menurut Jon Mueller (2006) penilaian autentik merupakan suatu bentuk penilaian yang  para 
siswanya diminta untuk menampilkan
tugas pada situasi yang
sesungguhnya yang
mendemonstrasikan penerapan
keterampilan dan pengetahuan esensial yang
bermakna.
Pendapat serupa dikemukakan  
oleh RichardJ.
Stiggins (1987) di dalam
Nuryani (2006) ,menekankan keterampilandan kompetensi spesifik, untuk
menerapkan keterampilan dan  pengetahuan yang sudah  dikuasai

Secara konseptual asesmen autentik lebih bermakna secara
signifikan  dibandingkan dengan  tes tulis pilihan ganda terstandar sekalipun.
Ketika menerapkan asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar
peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi
pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah (
Sudarwan,2013)

Seperti apakah
bentuk penilaian  autentik? Biasanya suatu penilaian  autentik melibatkan
suatutugas (task) bagi para siswa untuk menampilkan, 
dan sebuah kriteria penilaian 
atau rubric (rubrics) yang akan digunakan  untuk
menilai penampilan berdasarkan tugas tersebut.

Asesmen autentik menjadi salah satu tuntutan Kurikulum
2013.Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu
menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka
mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain.Asesmen
autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual,
memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan
yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan dengan
pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar
atau untuk mata pelajaran yang sesuai.

Kata lain dari asesmen autentik adalah penilaian kinerja,
portofolio, dan penilaian proyek. 
Asesmen autentik adakalanya disebut 
penilaian responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai
proses dan hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus, mulai dari
mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus,
hingga yang jenius. Asesmen autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu
tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi
utamanya pada proses atauhasil pembelajaran.

Asesmen autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian
yang menggunkan standar tes berbasis norma, pilihan ganda,  benar–salah, menjodohkan, atau membuat
jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diartikan dalam
proses pembelajaran, karena memang lazim digunakan dan memperoleh legitimasi
secara akademik. Asesmen autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, Sekolompok
guru, atau guru bekerja sama dengan 
peserta didik. Dalam asesmen autentik, seringkali pelibatan siswa sangat
penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik
ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.

Berdasarkan uraian tersebut di dalam RPP khususnya pada
penilaian, bentuk penilaiannya diarahkan kepada penilaian autentik.  Sedangkan untuk soal pilihan ganda dan
uraian,  guru diharapkan merancang soal
dengan memperhatikan konsep Higher Order
Thinking
(HOT), untuk penilaian sikap dibuat skala penilaian sikap,
penilaian kinerja dapat dilaksanakan langsung pada saat pembelajaran  misalnya saa siswa melakukan praktikum atau
praktek lapangan. Guru diharapkan merancang rubric penilaiannya.  Untuk penilaian tugas-tugas yang akan
dijadikan portofolio siswa, guru  harus
membuat rubrik penilaannya.

RPP yang baik dapat dan dibuat oleh guru sendiri akan
membantu guru dalam penyajian pembelajarannya. Kerangka atau lay out RPP  boleh berbeda-beda tetapi semua komponen ada
dan sistematis. Selain itu perlu diperhatikan estetika, efisiensi, kepraktisan
dan kebermaknaan isi RPP. 

Contoh Kerangka RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

  • Satuan
    Pendidikan : ………………
  • Kelas/Semester      :…………………
  • Mata
    Pelajaran     :…………………….
  • Topik                       :……………………..
  • Pertemuan
    Ke-      :……………..
  • Alokasi
    Waktu        :……………..

A. Kompetensi Dasar ( diambil dari KD aspek sikap,
pengetahuan dan keterampilan)

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

C. Tujuan
Pembelajaran

D. Materi
Pembelajaran

E. Metode  ( Pendekatan 
dan Metode Pembelajaran)

  • Pendekatan       : 
  • Metode               : 

( Boleh
ditambah dengan mencantumkan Strategi dan Model pembelajaran yang

digunakan guru
dalam pembelajaran)

F. KKM           
:  

G. Kegiatan
Pembelajaran

KegiatanDeskripsi KegiatanAlokasi Waktu
Pendahuluan…..…..
Kegiatan Inti…..…..
Penutup…..…..

H. Alat dan
Sumber Belajar

  • Alat dan
    bahan Praktikum
  • Sumber 

I. Penilaian

  • Teknik
    penilaian: Tertulis
  • Bentuk Instrumen
  • Kunci Jawaban
  • Kunci Jawaban Soal Pilihan Ganda dan Uraian

 NILAI =   (Skor yang didapat/Skor maks) x 100

Contoh Lembar Pengamatan Sikap

NoNamaPerilaku Menghargai Orang LainPerilaku DisiplinPerilaku AktivitasPerilaku KerjasamaPerilaku Komunikasi
1…..…..…..…..…..…..
2…..…..…..…..…..…..
3…..…..…..…..…..…..
dst…..…..…..…..…..…..

Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 5

Penafsiran angka : 1. sangat kurang, 2. kurang, 3. cukup,
4. baik, 5. amat baik      

Contoh  Lembar
Penilaian Keterampilan (Mapel Bahasa Inggris)

No Aspek Yang Dinilai Nilai 
Knowledge
1Kosa Kata (Vocabulary)…..
2Kelancaran (fluency)…..
3Ketelitian (accuracy)…..
4Pengucapan (pronunciation)…..
5Intonasi (Intonation)…..
6Pemahaman (Understanding)…..
7Pilihan Kata (diction)…..
Attitude
1Rasa hormat (respect)…..
2Jujur (Honest)…..
3Peduli (care)…..
4Berani (brave)…..
5Percaya Diri (confidence)…..
6Berkomunikasi baik (communication)…..
7Peduli Sosial (social awareness)…..
8Ingin tahu (curiosity)…..
Action
1Kerja sama (team work)…..
2Melakukan tindak komunikasi (communication action)…..
Total
Rata-Rata

Catatan: 

  • Skala penilaian 1 – 5. Usahakan tetap berikan penghargaan kepada peserta didik untuk usaha yang dilakukan.
  • Jika terdapat penilaian yang tidak teraplikasi guru dapat menandai dengan N/A (Not Applied – Tidak Terlaksana)

DAFTAR PUSTAKA

  • BSNP. (2007). Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan PendidikanDasar dan Menengah. Jakarta
  • Kementerian Pendidikan Nasional. 2013. Kompetensi Dasar SMP/MTs, Jakarta 
  • Mc Colum (2009) A scientific approach to teaching.http://kamccollum.wordpress.com/2009/08/01/a-scientific-approach-to-teaching/last update januari 2013
  • Nuryani Rustaman (2006). Penilaian Autentik( Authentik Assessment) dan Penerapannya dalam Pendidikan Sains.   FPMIPA& Sekolah Pascasarjana UPI,  http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/195012311979032-
  • Sudarwan ( 2013) Pendekatan-pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran. Pusbangprodik
  • Sudarwan ( 2013) Penilaian Autentik. Jakarta, Pusbangprodik.

Sumber: 

Materi Pelatihan Guru Implementasi
Kurikulum 2013 Smp – Bahasa Inggris. 
Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan  Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. 2013


 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *