Jenis-Jenis Kalimat Bahasa Indonesia

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

Pengertian Kalimat
Suatu bagian rentetan kata yang selesai dan
menunjukkan pikiran yang lengkap. Yang dimaksud dengan pikiran yang lengkap
adalah informasi yang didukung oleh pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya 
kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek
atau pokok kal
imat
dan predikat atau sebutan. 

Kalau dilihat dalam hal Predikat, kalimat dalam bahasa
Indonesia ada dua macam, yaitu:

  1. Kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja
  2. Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja 
Contoh:
Tugas itu dikerjakan oleh mahasiswa.

Perhatikan pula contoh berikut.
Dalam ruang itu memerlukan tiga buah kursi.

Pola Dasar Kalimat
  • KB + KK = Mahasiswa berdiskusi.
  • KB + KS = Dosen itu ramah.
  • KB + K.Bil = Harga buku itu seribu rupiah.
  • KB  + (KD +
    KB)

    =
    Tinggalnya di Palembang.
  • KB1 + KK + KB2 = Mereka menonton film.
  • KB1 + KK + KB2 + KB3 = Paman mencarikan saya pekerjaan.
  • KB1 + KB2 = Rustam peneliti.
Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya 
1. Kalimat Tunggal
Kalimat
tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat.

2. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat
majemuk setara terjadi dari dua kalimat

tunggal atau lebih. Kalimat
majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sbb.

a) Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan
oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih
itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara perjumlahan.
Contoh: Kami membaca dan mereka menulis.

Tanda koma
dapat digunakan jika kalimat yang dihubungkan itu lebih dari dua kalimat
tunggal.
Contoh: Direktur
senang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antri.

b) Kedua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara
itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan
pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk pertentangan.
Contoh: Adiknya
tinggi, tetapi kakaknya pendek.

Kata-kata
penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat tunggal
dalam kalimat majemuk setara pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk
setara pertentangan.

Contoh: Ia
bukan peneliti, melainkan pedagang.

c) Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan
oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakan
berurutan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara perurutan.
Contoh: Mula-mula
disebutkan nama-nama juara menyanyi tingkat remaja, kemudian disebutkan
nama-nama juara menyanyi tingkat dewasa.

d) Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih itu
dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan
hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh: Para
debitur sepeda motor dapat membayar cicilannya di kantor pos yang terdekat atau
para petugas menagihnya ke rumah debitur langsung.
  • Kalimat Majemuk Setara Rapatan  

Dalam
kalimat majemuk setara, ada yang berbentuk kalimat rapatan, yaitu suatu bentuk
yang merapatkan dua atau lebih kalimat tunggal. Yang dirapatkan ialah salah
satu unsurnya.

Contoh:
Kami
berlatih, kami bertanding, dan kami berhasil menang.
Kami
berlatih, bertanding, dan be
rhasil menang.
  • Kalimat Majemuk Tidak Setara
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat
yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat
ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan
yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan
pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan
sebagainya dengan aspek gagasan lain diungkapkan dalam anak kalimat.

Contoh:
a. Para pemain sudah lelah.  
b. Para pemain boleh istirahat.
c. Karena para pemain sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
d. Karena sudah lelah, para pemain boleh beristirahat.
  • Kalimat Majemuk Campuran

Kalimat
majemuk campuran terdiri atas kalimat majemuk tak setara (bertingkat) dan
kalimat majemuk setara.

Contoh:
a. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung
pulang.  
b. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena
tugasnya belum selesai.

Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya (retoriknya)
Jika kalimat itu disusun dengan diawali anak kalimat
dan diikuti induk kalimat, gaya penajian kalimat itu disebut berklimaks.
Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak
kalimatnya. Pembaca akan memahami makna kalimat itu setelah membaca induk
kalimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, terasa bahwa ada sesuatu yang masih
ditunggu, yaitu induk kalimat.


Oleh karena
itu, penyajian kalimat yang konstruksinya anak-induk terasa berklimaks, dan
terasa membentuk ketegangan.
Misalnya: Karena
sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya.
(3) Kalimat yang Berimbang
Jika kalimat itu disusun dalam bentuk majemuk setara
atau majemuk campuran, gaya penyajian kalimat itu disebut berimbang karena
strukturnya memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dituangkan ke dalam bangun
kalimat yang bersimetri.
Misalnya: Jika
stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat
beribadat dengan leluasa.

Jenis Kalimat Menurut Fungsinya
  • Kalimat yang melepas

Jika kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama, yaitu induk kalimat dan diikuti unsur tambahan, yaitu kalimat gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepas saja oleh penulisnya  dan kalau pun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap. 

Misalnya: Saya akan dibelikan mobil oleh ayah jika saya lulus ujian sarjana.
  • Kalimat yang berklimaks 

Jika kalimat itu disusun dengan diawali anak kalimat dan diikuti induk kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya. Pembaca memahami makna kalimat setelah membaca induk kalimatnya Sebelum kalimat itu selesai, terasa bahwa ada sesuatu yang masih ditunggu, yaitu induk kalimat. Oleh karena itu, peyajian kalimat yang konstruksinya anak-induk terasa berkimaks, dan terasa membentuk ketegangan.

Misalnya: Karen sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya.
  • Kalimat Pernyataan (Deklaratif) 

Kalimat
pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu
ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan bahasanya (Biasanya, intonasi
menurun; tanda baca titik)

Misalnya: Presiden
SBY mengadakan kunjungan ke luar negeri
  • Kalimat Pertanyaan (Introgatif)
Kalimat
pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi
(jawaban) yang diharapkan (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanya)
Misalnya: Kapan
Saudara berangkat ke
  Singapura?  

  • Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat
perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat
sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca seru)
Misalnya: Tolong
buatkan dahulu rencana pembiayaannya.
 

  • Kalimat Seruan
Kalimat
seruan dipakai jika penutur ingin “mengungkapkan” perasaan yang kuat atau yang
mendadak. (Biasanya, intonasi meningkat; tanda baca titik atau tanda seru)
Misalnya:  
Bukan
main, cantiknya.
Nah, ini dia yang kita tunggu!

(Sumber: Materi Kuliah Morfoligi dan Sitaksis Bahasa IndonesiaUT)
 

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *