Last Updated on 16.08.2026 by Zulfahmi M
1. Ayat al-Hadhari
dan as-Safari
Contoh-contoh
dari ayat-ayat al-Hadhari (yang turun pada saat Rasulullah SAW berada di
kampung halaman) itu banyak. Adapun ayat-ayat as-Safari (yang diturunkan pada
saat Rasulullah saw. Dalam bepergian) itu ada beberapa contoh, antara lain
sebagai berikut:
Firman
Allah: وَٱتَّخِذُواْ مِن
مَّقَامِ إِبۡرَٲهِـۧمَ مُصَلًّ۬ىۖ (QS. al- Baqarah: 125).
Ayat ini turun di Makkah pada saat Haji Wada’, berdasarkan hadits yang dikeluarkan
oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Jabir, ia berkata: ketika Nabi saw.
sedang melakukan thawaf, maka Umar berkata kepadanya, “Apakah ini maqam ayah kita
Ibrahim?” Nabi saw. menjawab, “Iya.” Umar berkata, “Mengapa kita tidak
menjadikannya sebagai mushala (tempat shalat)?” Maka turunlah ayat tersebut.
Ibnu Mardawaih juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui ‘Amr bin Maimun dari Umar
bin Khathab: sesungguhnya Umar pernah melewati maqam Ibrahim (ketika thawaf), maka
ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak shalat di maqam kekasih Tuhan
kita?” Nabi saw. menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Mengapa kita tidak
menjadikannya sebagai mushala?” Maka tidak begitu lama kemudian turun ayat
tersebut. Ibnu al- Hashshar berkata, “Ayat ini turun, mungkin pada saat
Rasulullah melakukan umrah al-Qadha’ atau ketika Ghazwah al-Fath (Penaklukan Makkah)
atau ketika peristiwa Haji Wada’.”
Firman
Allah: وَلَيۡسَ ٱلۡبِرُّ بِأَن تَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا (QS. Al- Baqarah:
189).
Imam
Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari az-Zuhri, bahwa ayat ini turun pada
saat (Rasulullah saw.) sedang umrah Al-Hudaibiyah. Menurut as-Sudy bahwa ayat
ini turun pada saat Haji Wada’.
Firman
Allah: وَأَتِمُّواْ
ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ (QS. Al-Baqarah:196). Ibnu Abi
Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Shafwan bin Umayyah, ia berkata, “Datang
seorang laki-laki kepada Rasulullah saw. dengan mengenakan minyak za’faran dan dia memakai jubah (pakaian
panjang), kemudian berkata, ‘Bagaimana engkau menyuruhku dalam umrahku?’ maka turun
ayat ini, kemudian Nabi saw. bertanya, ‘Siapakah yang bertanya tentang umrah
tadi? Lepaskanlah bajumu kemudian mandilah.’” (al-Hadits)
Firman
Allah: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦۤ أَذً۬ى
مِّن رَّأۡسِهِۦ (QS. Al-Baqarah: 196).
Ayat ini turun di al-Hudaibiyah, sebagaimana riwayat yang
dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Ka’ab bin ‘Ajazah yang ayat itu turun
kepadanya, dan al-Wahidi dari Ibnu Abbas.
2. Ayat an-Nahari
dan al-Laili
Contoh-contoh
dari an-Nahari (ayat-ayat yang turun di siang hari) banyak sekali. Ibnu Hubaib berkata,
“Sebagian besar Al-Qur’an turun di siang hari, sedangkan yang turun di malam
hari ada beberapa contoh, sebagai berikut:
Ayat mengenai
perpindahan arah kiblat.
Disebutkan
dalam Shahihain (kedua kitab Shahih Bukhari dan Muslim) dari hadits Ibnu Umar: ketika
para shahabat sedang melaksanakan shalat Subuh di Masjid Quba’, tiba-tiba ada
seseorang yang datang, kemudian ia berkata, “Sesungguhnya telah diturunkan kepada
Nabi saw. Qur’an pada malam ini, dan beliau diperintahkan untuk menghadap ke
kiblat.” Imam Muslim juga meriwayatkan dari Anas: sesungguhnya Nabi saw. ketika
sedang shalat ke arah Baitulmaqdis, maka turunlah firman Allah: “Qad naraa taqallu
bi wajhika fissamaa” (QS. al-Baqarah: 144), maka ada seorang laki-laki dari
bani Salamah, dan mereka sedang rukuk dalam shalat Subuh dan mereka telah
shalat satu rakaat, maka laki-laki itu memanggil-manggil, “Ingat bahwa (arah) kiblat
telah dipindahkan,” kemudian mereka semua condong ke arah kiblat.
3. Ayat-ayat
terakhir dalam surat Ali’ Imran
Ini berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, Ibnul Mundzir, Ibnu
Mardawaih, dan Ibnu Abi ad-Dunya di dalam kitab al-Fikr, dari Aisyah,
“Sesungguhnya Bilal telah datang kepada Nabi SAW memberitahukan kepadanya untuk
shalat Subuh, tetapi dia mendapatkan Nabi dalam keadaan menangis maka Bilal
berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis?’ Nabi bersabda,
‘Apa yang menghalangiku untuk menangis, padahal telah turun kepadaku pada malam
ini: inna fii khalqissamaawaati wal ardhi wakhtilaafillaili wannahaari la
aayaatil li ulil albaab. (QS. Ali ‘Imran: 190),’ kemudian Nabi berkata, ‘Celaka
bagi orang yang membacanya tetapi tidak merenungkannya.”
Surat
Al-An’am
Imam
Thabrani telah mengeluarkan sebuah riwayat, demikian juga Abu Ubaid di dalam kitab
Fadhail-nya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Surat al-An’am ini turundi Makkah pada
waktu malam secara keseluruhan/langsung, dan sekelilingnya terdapat tujuh puluh
ribu malaikat yang gemuruh dengan tasbih.”
4. Ayat Ash-Shaifi
dan Ash-Syita’i
Imam al-Wahidi
mengatakan bahwa Allah telah menurunkan dalam masalah “al- Kalaalah” dua ayat,
salah satunya di waktu musim dingin. Itulah yang ada di awal surat an-Nisa’, sedangkan
yang lainnya di waktu musim panas (kemarau), dan itulah yang ada di akhir surat
an-Nisa’. Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, dari Umar: belum pernah aku
berkonsultasi tentang suatu masalah sebagaimana aku berkonsultasi tentang
masalah “al-Kalaalah”, dan tidak pernah Nabi bersikap keras tentang suatu masalah
sebagaimana beliau bersikap keras terhadapku tentang masalah tersebut, sehingga
beliau menusuk dadaku dengan jari telunjuk beliau, dan beliau berkata, “Wahai Umar,
tidak cukupkah bagimu ayat ash- Shaif (musim panas) yang ada di akhir surat
an-Nisa’?”
Diriwayatkan
pula di dalam kitab al-Mustadrak, dari Abu Hurairah, sesungguhnya ada seorang
laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al- kalaalah?” Nabi bersabda, “Apakah
kamu belum pernah mendengar ayat yang turun pada musim kemarau, yaitu ‘yastaftuunaka
qulillahu yuftiikum fill kalaalah’?” (QS. an-Nisa’: 176).
Telah
dijelaskan bahwa ayat tersebut turun pada saat Nabi dalam perjalanan Haji Wada’
maka dianggap ash-Shifi semua ayat yang diturunkan pada waktu Haji Wada’
seperti awal surat al-Ma’idah, dan seperti firman Allah: “Al-yauma akmaltu
lakum diinakum” (QS. al-Ma’idah: 3) serta ayat: “wattaquu yauman turja’uuna …”
(QS. al- Baqarah: 281). Demikian juga ayat “ad-dain” dan surat an-Nashr.
Sedangkan
Di antara contoh ayat-ayat asy-Syita’i adalah firman Allah SWT: “innalladziina
jaa’u bil ifki” hingga “wa rizqun kariim” (QS. an-Nur: 11-26).
Di dalam
hadits shahih diriwayatkan dari Aisyah bahwa sesungguhnya ayat-ayat tersebut
diturunkan pada hari musim dingin. Demikian juga ayat-ayat mengenai Perang Khandaq
(menggali parit) yang ada di dalam surat al-Ahzab, turun pada saat musim
dingin.
Dalam
hadits Hudzaifah diterangkan: bahwa pada malam (Perang) al-Ahzab itu para
shahabat berpencar dari Rasulullah saw. kecuali dua belas orang, maka
Rasulullah saw. mendatangiku, kemudian beliau berkata, “Bangkitlah dan
berangkatlah ke tentara al-Ahzab (koalisi).” Aku katakan, “Wahai Rasulullah, demi
Allah yang telah mengutus engkau dengan benar, aku tidak bangkit untuk taat
kepadamu kecuali merasa malu dari rasa dingin”(al-Hadits).
Dalam
hal ini Allah menurunkan firman-Nya: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu udz kuruu
ni’matallahi ‘alaikum idz jaa’atkum junuudun” (QS. al-Ahzab: 9). Riwayat ini
dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya, ad-Dalaail.
4. Ayat Al-Ardhi
dan As-Samaa’i
Telah
berlalu perkataan Ibnu al-‘Arabi: sesungguhnya di antara Al-Qur’an itu ada yang
Sama’i (diturunkan di langit), dan ada yang Ardhi (diturunkan di bumi), dan ada
juga yang diturunkan di antara langit dan bumi serta ada yang diturunkan di
bawah dasar bumi, yaitu di gua. Ibnu al-Arabi berkata: telah menceritakan
kepada kami Abu Bakar al-Fihri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami at-Tamimi
(ia berkata): telah menceritakan kepada kami Hibatullah al-Mufassir, ia
berkata: telah diturunkan Al-Qur’an di antara Makkah dan Madinah kecuali enam ayat,
yaitu yang diturunkan tidak di bumi dan tidak pula di langit: tiga berada di
surat ash-Shaffat, yaitu: “wa maa minna illa lahuu maqaamun ma’ luum.” (QS.ash-Shaffat:
164-166), satu ayat di surat az-Zukhruf:45, yaitu: “was’al man arsalnaa min
qablika min rusulinaa”, dan dua ayat di akhir surat al-Baqarah diturunkan pada
malam Mi’raj. Ibnu al-‘Arabi berkata, “Mungkin yang dimaksud (tidak di langit dan
tidak di bumi) adalah di angkasa antara langit dan bumi.” Ibnu al-‘Arabi juga
berkata, “Adapun yang diturunkan di bawah bumi adalah surat al-Mursalat, sebagaimana
disebutkan di dalam hadits shahih dari Ibnu Mas’ud.”
Imam Suyuthi
berpendapat: adapun ayat-ayat yang telah disebutkan maka tidak mendapatkan ada
mustanad (sandaran/dalil) terhadap apa yang beliau kemukakan, kecuali akhir
surat al-Baqarah yang mungkin berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim, dari Ibnu Mas’ud: “ketika Rasulullah saw. diisra’kan hingga sampai
ke Sidratil Muntaha” (al-Hadits), dan di dalamnya terdapat ungkapan sebagai
berikut: ‘Maka Rasulullah saw. diberi tiga hal: diberi shalat lima waktu, akhir
surat al-Baqarah, dan diampuni bagi orang yang tidak musyrik dari umatnya atas
dosa-dosa yang merusak.’ Disebutkan di dalam kitab al-Kamil karya Al-Hudzali: “aamanar
rasuulu” (QS. al-Baqarah: 285-286 hingga akhir).
Sumber:
Last Modified:3/3/2024
Mengajar di MTs Muhammadiyah Lima Kaum 2001-2019, SMPN 5 Batusangkar 2017-2019, SMA Muhammadiyah Batusangkar 2014-2017 , STAIN Batusangkar 2005-2019, MTs Balah Aie Padang Pariaman 2021-2026. Admin: Ajoefahmi Course (www.zulfahmi.blog) Pustaka E-Book Ajoefahmi (www.zulfahmi.my.id)
