Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) – Materi Sosialisasi Kurikulum 2013

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

A. Definisi/ Konsep

1. Definisi

Metode Discovery Learning adalah
teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila
pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi
diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be defined as the
learning that takes place when the student is not presented with subject matter
in the final form, but rather is required to organize it him self

(Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Yang menjadikan dasar ide Bruner ialah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam
belajar di kelas.

Bruner memakai metode yang
disebutnya Discovery Learning, dimana
murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono,
1996:41). Metode Discovery Learning
adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery
terjadi bila indifidu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya
untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalaui observasi,
klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive
process
sedangkan discovery itu
sendiri adalah the mental process of
assimilatig conceps and principles in the mind
(Robert B. Sund dalam Malik,
2001:219).

Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip
yang sama dengan inkuiri (inquiry)
dan Problem Solving. Tidak ada
perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau
prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah
bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah
yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil
rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya
untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian,
sedangkan Problem Solving lebih
memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Akan tetapi prinsip
belajar yang nampak jelas dalam Discovery
Learning
adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak
disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong
untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari
informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang
mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.

Dengan mengaplikasikan
metode Discovery Learning secara
berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan.
Penggunaan metode Discovery Learning,
ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah
pembelajaran yang teacher oriented ke
student oriented. Merubah modus
Ekspository siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke
modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri.

2. Konsep

Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan
pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat memungkinkan
terjadinya generalisasi. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang
nampak dalam Discovery, bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori,
atau lebih sering disebut
sistem-sistem
coding
. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan
demikian dalam arti relasi-relasi (
similaritas
& difference
) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian
(events). Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima
unsur, dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur
dari konsep itu, meliputi: 1) Nama; 2) Contoh-contoh baik yang positif maupun
yang negative; 3) Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak; 4) Rentangan
karakteristik; 5) Kaidah (Budiningsih, 2005:43). Bruner menjelaskan bahwa
pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang
menuntut proses berfikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan mengkategori
meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau
peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.

Di dalam proses belajar,
Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik
adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan
memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini
dinamakan Discovery Learning Environment,
yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan
baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.
Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan
dengan baik dan lebih kreatif.

Untuk memfasilitasi proses
belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran
sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran
bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berfikir (merepresentasikan
apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Menurut Bruner
perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh
bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive, iconic,
dan symbolic. Tahap enaktive,
seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan
sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan
pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan
sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui
gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia
sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan
(komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau
gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam
berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui
simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.

Komunikasinya dilakukan
dengan menggunakan banyak simbol. Semakin matang seseorang dalam proses
berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Secara sederhana teori
perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu
melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk
menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive.
Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan
dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini
fase symbolic (Syaodih, 85:2001). Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman, 2005:145). Kondisi
seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented
menjadi student oriented. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang
menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi
seorang problem solver, seorang
scientis, historin, atau ahli matematika. Dalam metode Discovery Learning bahan
ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan
berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat
kesimpulan-kesimpulan.

Hal tersebut memungkinkan
murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka
untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Dengan
demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery
Learning
harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam
belajar yang  lebih mandiri. Bruner
mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan,
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih,
2005:41).

Pada akhirnya yang menjadi
tujuan dalam metode Discovery Learning
menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya
untuk menjadi seorang problem solver,
seorang scientist, historin, atau ahli matematika. Dan melalui kegiatan
tersebut siswa akan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang
bermanfaat bagi dirinya. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery
sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan)
mengajar, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode
mengajar lainnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan
suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan
yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar  diberi responsibilitas yang lebih besar untuk
belajar sendiri.

B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan
Hasil Pembelajaran

Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan, penerapan
pendekatan Discovery Learning dalam
pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan.


1.  Kelebihan Penerapan  Discovery Learning

  • Membantu
    siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan
    proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini,
    seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
  • Pengetahuan
    yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena 
    menguatkan
    pengertian, ingatan dan transfer.
  • Menimbulkan
    rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan 
    berhasil.
  • Metode
    ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya
    sendiri.
  • Menyebabkan
    siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan 
    akalnya
    dan motivasi sendiri.
  • Metode
    ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena 
    memperoleh
    kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  • Berpusat
    pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan- 
    gagasan.
    Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam
    situasi diskusi.
  • Membantu
    siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada  kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  • Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
  • Membantu dan mengembangkan
    ingatan dan transfer kepada situasi proses 
    belajar 
    yang baru;
  • Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
  • Mendorong siswa berfikir
    intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
  • Memberikan
    keputusan yang bersifat intrinsik;
  • Situasi
    proses belajar menjadi lebih terangsang;
  • Proses
    belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan 
    manusia 
    seutuhnya;
  • Meningkatkan
    tingkat penghargaan pada siswa;
  • Kemungkinan
    siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
  • Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan
    individu.


2. Kelemahan Penerapan Discovery Learning

  • Metode
    ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa
    yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau
    mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga
    pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
  • Metode
    ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena 
    membutuhkan
    waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah
    lainnya.
  • Harapan-harapan
    yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan 
    dengan
    siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
  • Pengajaran
    discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan 
    mengembangkan
    aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat
    perhatian.
  • Pada
    beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan 
    yang
    dikemukakan oleh para siswa
  • Tidak
    menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan 
    oleh
    siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

 

C. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses
Pembelajaran

Langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas adalah sebagai
berikut:

1. Langkah Persiapan Metode Discovery Learning

  • Menentukan tujuan pembelajaran
  • Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan
    sebagainya)
  • Memilih materi pelajaran.
  • Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh
    generalisasi)
  • Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan
    sebagainya untuk dipelajari siswa
  • Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke
    abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
  • Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

2. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas, ada
beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar
secara umum sebagai berikut:


a. Stimulation (stimulasi/pemberian
rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada
sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak
memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan,
anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada
persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk
menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu
siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation
dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang
mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai
teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan
siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

b
Problem statement
(pernyataan/ identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation langkah selanjutya adalah
guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas
pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Sedangkan menurut
  permasalahan yang dipilih itu selanjutnya
harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan
(statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisa
permasasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam
membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

c.  Data
collection
(pengumpulan data).

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi
kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).
Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar
tidaknya  hipotesis, dengan demikian anak
didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara
dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari
tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak
disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

d.  Data
processing
(pengolahan data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan
kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik
melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai
hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta
ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Data
processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi
sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa
akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang
perlu mendapat pembuktian secara logis

e
Verification
(pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).
Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan
suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi
yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu
kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

f.  Generalization
(menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi
(Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka  dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari
generalisasi. Setelah menarik kesimpulan 
siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya
penguasaan pelajaran  atas makna dan
kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang,
serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman
itu.

D. Sistem Penilaian

Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan
tes maupun non tes. Sedangkan penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian
kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk
penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery
learning dapat menggunakan tes tertulis. 
Jika bentuk penilaiannya 
menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa,
maka pelaksanaan penilaian  dapat
menggunakan contoh-contoh format penilaian seperti tersebut di bawah ini. 

 1. Penilaian Tertulis

Penilaian  tertulis merupakan tes
dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk
tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk
menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda,
mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. Ada dua bentuk soal  tes tertulis, yaitu:

a. Soal dengan memilih jawaban  

  • pilihan ganda
  • dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
  • menjodohkan

b. Soal dengan mensuplai-jawaban.  

  • isian atau melengkapi
  • jawaban singkat 
  • soal uraian

Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah,
isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai kemampuan
berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda
dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda
mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya
tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak
mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini
menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran
tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan
pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta
didik yang sesungguhnya.

Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta
didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal
yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan
tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan
pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain
cakupan materi yang ditanyakan terbatas. Dalam menyusun instrumen penilaian
tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

  • materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;
  • konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.
  • bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang
    menimbulkan 
    penafsiran ganda.

2.  Penilaian Diri

Penilaian diri (self assessment)
adalah suatu teknik penilaian, di mana subyek yang ingin dinilai diminta untuk
menilai dirinya sendiri berkaitan dengan, status,  proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang
dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu.

Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang
berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam proses
pembelajaran di kelas, berkaitan dengan kompetensi kognitif, misalnya: peserta
didik dapat diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan
berpikir sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu, berdasarkan kriteria
atau acuan yang telah disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi afektif, misalnya,
peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan
perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. Selanjutnya, peserta didik
diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah
disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik,  peserta didik dapat diminta untuk menilai
kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya sebagai hasil belajar
berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan
kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam penilaian di
kelas antara lain sebagai berikut:

  • dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi
    kepercayaan
    untuk menilai dirinya sendiri;
  • peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika
    mereka
    melakukan penilaian, harus
    melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan
    yang dimilikinya;
  • dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur,
    karena
    mereka dituntut untuk jujur dan
    obyektif dalam melakukan penilaian.

3. Penilaian Sikap

Contoh Format Penilaian Sikap

  • Mata Pelajaran  : _________                                       
  • Semester           :   _________
  • Kelompok        :
    _________                                      
  • Kelas                :  
    _________ 

NoNama SiswaSkorJumlah Nilai
Komitmen TugasKerjasamaKetelitian MinatJumlah Skor
1…..…..…..…..…..…..…..
2…..…..…..…..…..…..…..
3…..…..…..…..…..…..…..
dst..…..…..…..…..…..…..…..


4. Penilaian Kinerja 
Contoh Format Penilaian Kinerja 
Nama Siswa: ………………
Tanggal: ………………
Kelas: ………………

NoAspek Yang di NilaiTingkat Kemampuan
123 4
1…..…..…..…..…..
2…..…..…..…..…..
dst…..…..…..…..…..
.Jumlah…..…..…..…..


Kriteria Penskoran                                

  • Baik Sekali           4                             
  • Baik                      3                               
  • Cukup                   2                                
  • Kurang                  1                                

 Kriteria Penilaian

  •  10 – 12  A
  •  7 –   9    B
  •  4 – 6      C
  •  ≤  3        D

  • A: Pengelompokan
    yang dilakukan siswa sangat baik, uraian yang dijabarkan rinci dan diperoleh
    dengan menggunakan seluruh indra disertai dengan gambar-gambar atau diagram.
  • B: Pengelompokan
    yang dilakukan siswa baik, uraian yang dijabarkan kurang rinci dan  diperoleh dengan menggunakan sebagian besar
    indra dengan gambar-gambar atau   diagram.
  • C: Pengelompokan
    yang dilakukan siswa cukup baik, uraian yang dijabarkan tidak rinci dan  diperoleh dengan menggunakan sebagian kecil
    indra dengan gambar-gambar atau  diagram.
  • D: Pengelompokan
    yang dilakukan siswa kurang baik, uraian yang dijabarkan kurang sesuai   dan diperoleh dengan menggunakan sebagian
    besar indra dengan gambar-gambar atau   
    diagram

5.Penilaian Hasil Kerja Siswa

Nama Siswa  : ………………                 
Tanggal         :
………………                   
Kelas             : ………………
Input OutputProsesNilai
…..…..…..…..
…..…..…..…..
…..…..…..…..

Daftar Pustaka

  • Dahar, RW., 1991. Teori-Teori Belajar. Penerbit Erlangga,
    Jakarta.
  • Holiwarni, B., dkk., 2008. Penerapan Metode Penemuan
    Terbimbing pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
    Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan Penelitian). Lemlit UNRI, Pekanbaru.
  • http://darussholahjember.blogspot.com/2011/05/aplikasi-metode-discovery-learning.html
    (23
    Mei 2013).
  • http://ebookbrowse.com/pengertian-model-pembelajaran-discovery-learning-menurut-para-ahli-pdf-d368189396
    (23
    Mei 2013).
  • http://prismabekasi.blogspot.com/2012/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli.html
    (23
    Mei 2013)
  • Jurnal Geliga Sains 3 (2), 8-13, 2009 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas
    Riau ISSN 1978-502X.
  • Rizqi, 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran
    Berorientasi Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning) yang
    Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium untuk Fisika SLTP Bahan Kajian
    Pengukuran. Tesis, UNESA (tidak dipublikasikan).
  • Syamsudini , 2012. 
    Aplikasi Metode Discovery Learning Dalam Meningkatkan Kemampuan
    Memecahkan Masalah, Motivasi Belajar Dan Daya Ingat Siswa.
  • Syah, M., 1996. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan
    Baru. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sumber:  Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Smp – Bahasa Inggris.  Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan  Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. 2013


Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *