Landasan Fisiologis, Sosiologis, Psikologis dan Teoritis dalam Kurikulum PAI

Last Updated on 15.08.2026 by Zulfahmi M

1.  Landasan Filosofis   

Dalam
pengembangan kurikulum, filsafat menempati peranan yang penting dalam
pengembangan suatu kurikulum pendidikan. Dalam filsafat pendidikan terdapat
berbagai aliran filsafat seperti perenialis, idealis, pragmatis, rekonstruktif,
eksistensialis,realis dan konstruktivis. Aliran filsafat dalam pendidikan
tersebut menjadi pijakan pengembangan kurikulum.

Dalam
filsafat pendidikan, pentingnya filsafat bagi pendidikan nyata besar manfaatnya
bagi kurikulum karena menentukan arah kemana anak-anak harus dibimbing. Sekolah
ialah lembaga yang didirikan oleh masyarakat untuk mendidik anak menjadi
manusia dan warga negara yang dicita-citakan oleh masyarakat itu. Jadi filsafat
menentukan tujuan pendidikan. Landasan filosofis (philosophical foundation)
memiliki peranan penting dalam pengembangan kurikulum, ajaran filsafat
memberikan ruang bagi pemikiran manusia dalam melakukan pengkajian ilmiah terkait
dengan aspek kehidupan yang universal sehingga dapat menghasilkan pemikiran
yang hakiki, hal ini tentunya bersifat relatif dan subyektif.

Asas
filosofis berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesui dengan filsafat negara.
Sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi manusia yang “baik”. “baik’’ pada
hakikatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut
negara, tetapi juga guru, orang tua, masyarakat bahkan dunia. Kurikulum
mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat bangsa dan negara terutama dalam
menentukan manusia yang dicitacitakan sebagai tujuan yang harus di capai
melalui pendidikan formal.

Di
Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 telah diterima secara resmi sebagai falsafah
dan dasar pendidikan nasional kita demikian halnya tidak bertentangan dengan
filsafat pendidikan Islam dan agama lain. Hal ini didasarkan pada filsafat
pendidikan nasional yang selaras dengan filsafat pendidikan Islam yakni berada
pada tujuan filosofisnya masingmasing, hal ini dapat ditemukan dalam UU No. 20
Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.32 Dalam tujuan filsafat
pendidikan Islam menurut Ramayulis dan Syamsul Nizar ada dua dimensi pokok
yaitu abadi dan positif. Abadi, karena tujuan akhir filsafat pendidikan Islam
menembus dimensi ruang dan waktu yaitu keselamatan di dunia dan keselamatan di
akhirat. Sedangkan positif, karena tujuan yang akan dicapai senantiasa
diarahkan pada bentuk bimbingan potensi manusia yang fitri: jasmani, akal,
qalb, dan ruh. Penempatan pemikiran dan tindakan sejalan dengan prinsip Al-Qur’an
dan Hadis.

Dari
hal tersebut di atas dapat dipahami bahwa kedua tujuan filosofis tersebut
tidaklah bertentangan namun bahkan saling melengkapi, tujuan pendidikan
nasional menitikberatkan pada perkembangan potensi iman, keterampilan serta
tanggung jawabnya sebagai manusia. Pada tujuan filsafat pendidikan Islam lebih
bersifat pada hal yang mutlak dan hakiki, keselamatan jasad dan ruh di dunia
dan akhirat. Dengan demikian disinilah pentingnya landasan filosofis tersebut
sebagai landasan dalam pengembangan kurikulum khususnya kurikulum Pendidikan
Agama Islam.

2. Landasan Sosiologis

Landasan
sosiologis (sociological foundation) sangat berkenaan dengan kebutuhan,
perkembangan dan karakteristik suatu masyarakat yang mengalami suatu proses
sosial. mempertimbangkan pola-pola interaksi suatu masyarakat yang mengalami
dinamika dalam proses sosial. Asas sosiologis mempunyai peranan penting dalam
mengembangkan kurikulum pendidikan pada masyarakat dan bangsa di muka bumi ini.
Suatu kurikulum pada prinsipnya mencerminkan keinginan, cita-cita tertentu dan
kebutuhan masyarakat. Karena itu sudah sewajarnya kalau pendidikan
memperhatikan aspirasi masyarakat, dan pendidikan mesti memberi jawaban atas
tekanan-tekanan yang datang dari kekuatan sosio-politikekonomi yang dominan.
Pendidikan pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan aspekaspek lain seperti
politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Oleh karena itu dalam system pendidikan
dan lembaga-lembaga pendidikan sangat berfungsi untuk kepentingan suatu
masyarakat bangsa. Jika ditinjau khususnya di Indonesia yang heterogen−aneka
ragam kultur dan latarbelakang sosial masyarakatnya, pendidikan selama ini yang
telah berjalan dengan semestinya merangkul dan mewujudkan fungsi utamanya dalam
perubahan sosial terhadap masyarakat.

Dalam
mengambil suatu keputusan mengenai kurikulum, para pengembang mesti merujuk
pada lingkungan atau dunia di mana mereka tinggal, merespon berbagai kebutuhan
yang dilontarkan atau diusulkan oleh beberapa golongan dalam masyarakat dan
memahami tuntutan pencantuman nilai-nilai falsafah pendidikan bangsa dan
berkait dengan falsafah pendidikan yang berlaku.

Sangat
banyak kebutuhan masyarakat yang perlu dipilah-pilah, disaring dan diseleksi.
Agar kebutuhan itu menjadi suatu keputusan dalam pengembangan kurikulum, maka
tugas pengembangan kurikulum pun sangat kompleks. Abdullah Idi mengutip Abu
Ahmad dan Nur Uhbiyati (1991), kompleksnya kehidupan dalam masyarakat
disebabkan karena (1) dalam masyarakat terdapat tata kehidupan yang beraneka
ragam, (2) kepentingan antarindividu berbeda-beda, dan (3) masyarakat selalu
mengalami perubahan dan perkembangan. Kurikulum sedapat mungkin dibangun dan
dikembangkan dengan tetap merujuk pada asas kemasyarakatan sekaligus dengan
kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu pengembangan kurikulum dalam landasan
sosiologisnya dipengaruhi oleh kekuatan sosial, kemajuan IPTEK, perubahan pola
hidup dan perubahan social politik.

3. Landasan Psikopedagogis (Psikologis)

Psikopedagis
merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara pembelajaran mendidik atau cara
pendidikan yang menyelidiki pembelajaran terhadap anak didik yang terkait
dengan proses mental dan kejiawaannya. Landasan pedagogis ini memberikan
pengertian bahwa kurikulum pendidikan hendaknya disusun dengan mempertimbangkan
tahapantahapan pertumbuhan anak dan perkembangan yang dilalui anak didik.
Kurikulum pendidikan harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan anak
didik, tahap kematangan bakat-bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi dan
sosial, kebutuhan dan keinginan, minat, kecakapan, perbedaan individual dan
lain sebagainya yang berhubungan dengan aspek-aspek psikologis.

Dalam
pandangan Wina Sanjaya kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam mengantar
anak didik sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan. Secara psikologis anak
didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat,
maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan
alasan itulah, kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan dan
psikologi belajar anak. Kedua landasan ini dianggap penting terutama dalam
memilih dan menyusun isi kurikulum, proses pembelajaran dan hasil belajar yang
dinginkan. Meggi Ing (1978) dalam Abdullah Idi menyebutkan kontribusi terhadap
studi kurikulum memiliki dua bentuk. Pertama, model konseptual dan informasi
yang akan membangun perencanaan pendidikan. Kedua, berisikan berbagai
metodologi yang dapat diadaptasi untuk penelitian pendidikan.

4.  Landasan Teoritis

Kurikulum
dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standart dan teori
pendidikan berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standart adalah
pendidikan yang menetapkan standart nasional sebagai kualitas minimal hasil
belajar yang berlaku untuk setiap kurikulum. Standart kualitas nasional
dinyatakan sebagai Standart Kompetensi Lulusan. Standart Kompetensi Lulusan
tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan.
SKL mencangkup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (PP nimor 19 tahun 2005).

Sumber: 

  • Oemar Hamalik, Dasar-Dasar
    Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 59
  • Ramayulis dan Syamsul Nizar, Filsafat
    Pendidikan Islam, Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para
    Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 10.

  • Syamsul Nizar, Abdul halim
    (edt.), Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis danPraktis,
    (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 58.          

  • Zainal Arifin, Konsep dan Model
    Pengembangan Kurikulum (Konsep Teoritis, Prinsip, Prosedur, Komponen,
    Pendekatan, Model, Evaluasi & Inovasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
    hlm. 56

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *