Pengembangan Bahan Ajar

Abad-21, yang merupakan abad pengetahuan
dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi, sangat
memungkinkan bagi para siswa, sebagai subjek belajar, dapat belajar apa saja,
kapan saja, dan di mana saja, baik yang sengaja dirancang maupun yang tinggal
diambil manfaatnya. Peran guru menjadi sedikit berubah. Guru menjadi bukan
satu-satunya sumber belajar. Selain dirinya, guru dapat mengembangkan dan
memanfaatkan beraneka sumber belajar untuk memfasilitasi belajar anak didiknya.

Dalam proses pembelajaran, di mana dalam
belajar siswa dibatasi, “diikat”, atau dikontrol oleh tujuan-tujuan kurikuler
dalam kurikulum, materi atau bahan yang dipelajari perlu dipilih dan
disesuaikan dengan tujuan tersebut. Pada saat inilah peran guru dan bahan ajar menjadi penting
dan urgen untuk
memfasilitasi belajar siswa
baik di sekolah maupun ketika belajar di rumah atau di manapun dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan kurikuler yang telah ditetapkan.

Bahan ajar yang digunakan guru dan siswa
dalam pembelajaran, jika dirancang dan dikembangkan dengan cermat dan sesuai prosedur
yang benar mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran dan prinsip desain pesan
yang efektif bagi proses belajar
siswa, akan sangat
efektif dalam menunjang atau memfasilitasi
proses belajar mereka. Dengan bahan ajar siswa dapat mengulang mempelajari
materi kembali di rumah.

Mengembangkan bahan ajar merupakan salah
satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru (Sadjati, dalam Tian Belawati,
2003). Kemampuan itu harus diwujudkan dalam upaya menyediakan berbagai bahan
ajar yang dibutuhkan siswa dalam
rangka mencapai kompetensi yang diharapkan. Sebagai guru, sekaligus pengembang
bahan ajar, guru merupakan orang yang paling bertanggungjawab dalam pengaturan
penyampaiann informasi dan penataan lingkungan dalam proses penguasaan ilmu
pengetahuan anak didik. Dalam mengembangkan bahan ajar, apapun bentuk dan
jenisnya, Anda perlu mengacu pada sumber acuan utama yaitu tujuan kurikulum
yang harus dikuasai siswa. Selain itu, ketika mengembangkan bahan ajar Anda
juga perlu mempertimbangkan
karakteristik siswa agar bahan ajar dapat dipelajari dengan baik oleh siswa.
Agar dapat mengembangkan bahan ajar, mari kita pahami bersama terlebih dahulu
pengertian, karakteristik dan jenis-jenis bahan ajar, baik tercetak maupun
noncetak (offline-online), dan
prosedur pengembangannya.

A. Pengertian
dan Karakteristik Bahan
Ajar.

Definisi bahan ajar dapat kita temukan di
berbagai literatur. Dalam kegiatan belajar ini
disampaikan beberapa definisi yang lebih sesuai dengan maksud modul ini.
Menurut Pannen (1995), bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang
disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses
pembelajaran. Selanjutnya, bahan ajar menurut Heman D. Surjono (2013) bahan
ajar adalah segala bentuk bahan (informasi, alat, dan teks) yang digunakan oleh
guru dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas. Depdikbud (2008:6) juga mendefinisikan bahan ajar sebagai
segala bentuk bahan yang digunakan
untuk membantu guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Surjono dan Depdikbud menambahkan bahwa bahan ajar itu bias tertulis dan tidak
tertulis. Dengan demikian, mengacu pada definisi-definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang
disusun secara sistematis, tertulis atau tidak tertulis, yang digunakan guru
dan siswa dalam proses pembelajaran atau kegiatan belajar-mengajar dalam upaya
memfasilitasi belajar siswa mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Ada dua hal penting dalam definisi bahan
ajar tersebut yaitu bahwa bahan ajar itu adalah “bahan atau materi pelajaran”
dan bahawa bahan ajar itu “disusun secara sistematis”. Bahan ajar itu merupakan
bahan atau materi pelajaran, artinya jika bahan ajar itu tidak memuat materi
pelajaran, maka bahan itu sesungguhnya bukan yang dimaksud bahan ajar. Begitu
juga, untuk dapat disebut sebagai bahan ajar, suatu bahan ajar harus disusun
secara sistematis; artinya, selain materinya disusun secara runtut menurut
struktur tertentu, logis, dan uraiannya mengalir dan mudah diikuti dan dipahami
pembaca, bahan ajar tersebut juga harus memuat komponen-komponen ajar (kompenen
sistem pembelajaran) yang lengkap, dalam uraian materinya dilengkapi dengan
contoh-contoh, ilustrasi dan latihan-latihan atau tugas yang sesuai dengan
tujuan dan materi. Secara tampilan dan format, bahan ajar harus menarik untuk
dipelajari, konsisten (ajeg) dan tertib pemaparannya.

Mengembangkan atau menulis bahan ajar
merupakan salah satu tugas profesional dan kemampuan yang harus dimiliki oleh
guru (Sadjati, dalam Tian Belawati, 2003; Purwanto dan Sadjati, dalam Dewi
Padmo, dkk, 2004). Jika dirancang dengan benar, bahan ajar akan efektif dalam
menunjang proses belajar dan pembelajaran guru dan siswa. Untuk dapat
mengembangkan bahan ajar yang efektif guru, sebagai pengembang/penulis bahan
ajar perlu memahami karakteristik bahan ajar yang baik.

Karakteristik bahan ajar, terutama untuk
bahan ajar mandiri, mengacu pada pendapat Dewi Padmo, dkk, 2004) antara lain
adalah: 1) bahan ajar itu dapat dipelajari sendiri oleh peserta didik, bahkan
tanpa bantuan guru (self-instructional), 2) bahan ajar itu mampu menjelaskan sendiri
karena disusun mengunakan bahasa sederhana dan isinya runtut, sistematis
(self-explanatory power, (3) bahan ajar
itu lengkap dengan sendirinya sehingga siswa tidak perlu tergantung bahan lain (self-contained), 4) bahan ajar itu
didesain sesuai dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik yang belajar.
Selain itu, bahan ajar yang baik itu juga adaptif, disampaikan dengan bahasa
yang komunikatif, dan mudah atau fleksibel dipelajari atau dioperasikan (user friendly).

Purwanto dan Sadjati (dalam Dewi Padmo,
2004) menjelaskan lebih khusus tentang karakteristik bahan ajar yang baik.
Menurut kedua ahli tersebut, bahan ajar
yang baik memenuhi kriteria berikut:
pertama,
kriteria tentang
isi
, berarti isi bahan ajar yang baik harus sesui
dengan tujuan pembelajaran, akurat, mutakhir, komprehensif cakupan isinya,
tepat dalam menyikapi ras dan agama, dan jenis kelamin; memuat daftar pustaka,
senarai, dan indeks. Kedua, kriteria penyajian, berarti bahan ajar
yang baik harus menyajikan materi secara menarik perhatian anak, materi
terorganisasi secara sistematis, terdapat petunjuk belajar, mampu mengajak
pembaca untuk merespon, berkonsentrasi, gaya bahasa, warna, dan sebagainya. Ketiga, kriteria tentang ilustrasi, berarti bahan ajar yang baik memuat
ilustrasi yang sesuai, ilustrasi sesuai/terkait dengan teks, penempatan
ilustrasi tepat; ukuran, fokus, dan tampilan seimbang dan serasi. Keempat, kriteria unsur pelengkap, bahan ajar
yang baik dilengkapi petunjuk dan tes. Kelima,
kriteria tentang kualitas fisik,
artinya bahan ajar yang baik dicetak dan dijilid dengan baik, kertas yang
digunakan bermutu, serta jenis dan ukuran huruf yang digunakan tepat sesuai
karakteristik peserta didik penggunanya.

Heinich, dkk. (1996) mengelompokkan jenis
bahan ajar berdasarkan cara kerjanya, di antaranya adalah:

  • Bahan ajar yang tidak diproyeksikan, seperti foto, diagram,
    display, model;
  • Bahan ajar yang diproyeksikan, seperti
    slide, filmstrips, overhead transparencies, proyeksi
    komputer;

  • Bahan ajar audio, seperti
    kaset dan compact disc;

  • Bahan ajar video, misalnya
    video dan film;
    serta

  • Bahan ajar (media) komputer, misalnya Computer Mediated Instruction (CMI), Computer Based Multimedia atau Hypermedia.

Lain halnya menurut Sadjati (2012:1.7),
bahan ajar dapat dikategorikan kedalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non cetak. Jenis bahan ajar
cetak yang dimaksud Sadjati tersebut adalah modul, handout, dan lembar kerja siswa (LKS). Selanjutnya Sadjati
mengelompokkan bahan ajar noncetak di antarnya adalah realia, bahan ajar yang
dikembangkan dari barang sederhana, bahan ajar diam dan display, video, audio dan overhead
transparencies
(OHT).

Bahan ajar yang akan dibahas dalam kegiatan
belajar ini dibatasi hanya dua kelompok yaitu bahan ajar cetak dan noncetak.
Bahan ajar cetak yang akan diuraikan meliputi modul, handout, dan LKS. Sedangkan bahan ajar noncetak dibatasi pada bahan
ajar Audio, Video, Presentasi, Modul Elektronik, Multimedia Pembelajaran
Interaktif.

B. Aspek-aspek Pengembangan Bahan Ajar Cetak

Bahan ajar, termasuk bahan ajar cetak,
merupakan bagian dari media pendidikan. Bahan ajar berbeda dengan bukan bahan
ajar. Bahan ajar, selain memuat materi ajar juga disusun secara sistematis
untuk membantu siswa dan guru dalam
proses pembelajaran (Degeng, 2004). Hingga
saat ini, bahan ajar cetak masih merupakan bahan ajar utama atau baku dalam
proses pembelajaran di kebanyakan sekolah. Kemp dan Dayton (dalam Sadjati,
2012:1.8) mendefinisikan bahan ajar cetak sebagai sejumlah bahan yang disiapkan
dalam kertas yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian
informasi. Djauhar Siddiq, dkk. (2008), mendefinisikannya sebagai bahan yang
memuat materi atau isi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
dituangkan dengan menggunakan teknologi cetak. Berdasarkan pendapat tersebut,
bahan ajar cetak adalah bahan ajar yang bentuknya tercetak, bukan digital.

Bahan ajar cetak banyak sekali jenisnya.
Mengacu pendapat Rowntree, Sadjati (dalam Tian Belawati, 2003:15) menyebutkan
bahwa selain modul, handout (HO), dan lembar kerja siswa (LKS),
yang termasuk bahan ajar cetak
juga berupa: 1) buku dan pamflet, dan lain-lain bahan cetak yang dipublikasikan
atau khusus ditulis dan dikembangkan untuk keperluan tertentu; 2) panduan belajar siswa yang sengaja dikembangkan untuk melengkapi buku baku atau buku utama;
3) bahan belajar mandiri tercetak, yang sengaja dikembangkan untuk program
pendidikan jarak jauh, contohnya modul UT; 4) buku kerja guru maupun siswa yang
sengaja dikembangkan untuk melengkapi program-program audio, program video,
program komputer, dan lainnya; serta 5) panduan praktikum, dan lain-lain. Dalam
Kegiatan Belajar ini, pembahasan bahan ajar cetak dibatasi pada bahan ajar yang
dapat dikembangkan dan sering dimanfaatkan guru, yaitu modul, Hand-out (HO), dan Lembar Kerja Siswa
(LKS). Apa karakteristik ketiga bahan ajar cetak tersebut dan bagaimana
pengembangannya sebagai bahan ajar cetak, silakan ikuti uraian berikut.

1. Bahan Ajar Modul

Modul merupakan bahan ajar yang khas,
memiliki struktur yang sistematis, dan bersifat utuh (Degeng, 2004). Modul,
sering disebut modul instruksional, atau modul pembelajaran, adalah satu set
bahan pembelajaran dalam kemasan terkecil dilihat dari lingkup isi, namun
mengandung semua unsur dalam sistem instruksional, sehingga dapat dipelajari secara terpisah dari modul yang lain (Atwi Suparman,
2014: 312). Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, di dalamnya memuat
seperangkat pengalaman belajar
yang terencana dan didesain untuk membantu siswa menguasai tujuan belajar yang
spesifik. Modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri,
sehingga siswa dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan masing-masing.

Hal utama yang harus diperhatikan pada
proses pengembangan modul adalah
prosedur, fakta, kejadian, ide harus disusun sedemikian rupa sehingga didapat
kesinambungan berpikir. Hal ini dilakukan supaya pembaca mudah mengikuti ide
yang diungkapkan dan mengerti apa yang dibacanya (Durri Andriani, dalam Tian
Belawati, 2003). Modul yang baik untuk memotivasi kemandirian belajar siswa
memiliki karakteristik sebagaimana
telah disebutkan pada uraian sebelumnya, yaitu: self-instructional, self-explanatory power, self-
pace learning, self-contained, individualized
learning materials, flexible and mobile learning materials,
dan communicative and interactive. Modul
yang demikian akan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa serta lebih sesuai
dengan karakteristik siswa termasuk kecepatan dan ketepatan waktu belajarnya,
dan sebagainya.

Hal yang juga merupakan ciri modul, yaitu stand-alone, adaptive, dan user friendly. Stand Alone (berdiri
sendiri) memiliki arti bahwa modul ini tidak tergantung pada bahan ajar lain.
Apabila siswa masih membutuhkan bahan ajar lain selain modul tersebut maka
bahan ajar tadi tidak dapat dikategorikan sebagai modul yang berdiri sendiri. Adaptif, berarti modul yang kita
kembangkan hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu
dan teknologi. Modul dikatakan adaptif apabila modul tersebut dapat
menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. User Friendly, memiliki arti bahwa setiap pembelajaran dan paparan
informasi pada modul tersebut bersifat membantu dan akrab dengan siswa.
Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah
yang umum digunakan siswa merupakan salah satu bentuk user friendly.

Untuk menghasilkan modul yang baik kita
perlu menempuh tahap-tahap yang menurut Rowntree
(1999) adalah: 1) mengidentifikasi tujuan
pembelajaran 2) menjabarkan materi dalam garis-garis
besar materi sesuai rumusan tujuan pembelajaran 3) menulis materi secara
lengkap berdasarkan garis-garis besar materi dengan gaya bahasa yang
komunikatif (semi formal) dan 4) menentukan format dan tata letak (layout).
Selain tahap-tahap pengembangan modul, perlu diperhatikan unsur-unsur atau
format yang harus ada pada sebuah modul yaitu pendahuluan, inti, penutup (Degeng,
2004).

Format modul yang lengkap memuat Cover, Daftar Isi, Pendahuluan (rasional
deskripsi singkat, relevansi, petunjuk belajar), Kegiatan Belajar 1 (capaian pembelajaran, sub-capaian pembelajaran,
pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas, tes formatif), Kegiatan Belajar 2 (capaian
pembelajaran, sub-capaian pembelajaran, pokok-pokok materi, uraian materi,
rangkuman, tugas, tes formatif), Kegiatan Belajar
3
(capaian pembelajaran, sub-
capaian
pembelajaran, pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas, tes
formatif), Tugas Akhir, Tes Akhir,
Daftar Pustaka, Kunci Jawaban Tes Formatif.
Setelah mamahami karakteristik
modul Anda dapat mencoba menyusun
modul sebagai bahan ajar bagi siswa-siswa di sekolah Anda.

2. Bahan Ajar Hand-out

Hand-out
merupakan bahan pembelajaran yang dibuat secara
ringkas bersumber dari beberapa literatur yang relevan dengan kompetensi dasar
dan materi pokok yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Hand-out memiliki
beberapa fungsi, yaitu: a) membantu siswa agar tidak perlu mencatat b) sebagai
pendamping penjelasan c) Sebagai bahan rujukan siswa d) memotivasi siswa agar
lebih giat belajar e) pengingat pokok-pokok materi yang diajarkan f) memberi
umpan balik, dan g) memberi umpan
balik.

Selain fungsi yang telah disebutkan di
atas, handout juga memiliki ciri-ciri
atau karakteristik, di antaranya adalah: a) merupakan jenis bahan ajar cetak
yang dapat memberikan informasi kepada siswa b) berhubungan dengan materi yang
diajarkan pendidik, dan c) terdiri atas catatan (baik lengkap atau kerangkanya saja) tabel, diagram, peta dan materi
tambahan.

Anda sebagai
guru harus bisa mengembangkan bahan ajar hand-out.
Berikut ini prosedur/tahapan pengembangan hand-out
yang dapat Anda ikuti, yaitu: a) mengevaluasi bahan ajar yang digunakan
dengan menggunakan tujuan pembelajaran sebagai acuan, b) berdasarkan hasil
evaluasi, putuskan materi apa yang akan Anda kembangkan dengan menggunakan handout, baru atau pengayaan, c)
memutuskan isi handout atau overview atau ringkasan, dan d)
memutuskan cara penyajian yang meliputi narasi, tabel, gambar, diagram, atau
kombinasi semuanya. Setelah tahapan-tahapan tersebut Anda pahami, selanjutnya
Anda dapat mengisi handout dengan: a)
peta atau diagram konsep yang menghubungkan antartopik atau bagian dalam topik,
b) anotated bibliografi meliputi
kumpulan abstrak dari sumber yang relevan, c) informasi tambahan untuk meluruskan kesalahan
atau bias yang ada dalam bahan ajar, d) memberikan
contoh baru atau tambahan konsep yang disesuaikan dengan kondisi siswa,
dan e) memberikan kasus untuk dipelajari dan diselesaikan siswa.

Penggunaan handout dalam proses pembelajaran akan lebih bermanfaat apabila
ditambah media lain yang saling mendukung. Untuk mendapatkan hasil pembelajaran
yang optimal diperlukan pemilihan dan pemanfaatan media belajar yang
terintegrasi. Melaui handout pembelajaran
diharapkan dapat berjalan lancar. Dalam proses pembelajaran handout dapat digunakan untuk bahan
rujukan, pemberi motivasi, pengingat, memberi umpan balik, dan menilai hasil
belajar.

3. Lembar Kerja Siswa

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang
lembar kerja siswa, perlu kita ketahui bersama tentang pengertian lembar kerja
siswa (LKS). Djauhar Siddiq, dkk. (2008) mengartikan LKS merupakan bahan
pembelajaran cetak yang sederhana, komponennya didominasi oleh soal-soal dan
latihan. Sedangkan menurut Andi Prastowo dalam Haryanto (2015), lembar kerja
siswa (LKS) merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran kertas yang berisi
ringkasan materi, petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan siswa dan mengacu pada kompetensi dasar yang
harus dicapai oleh siswa.

Isi materi pada LKS dapat berupa ringkasan.
Namun untuk materi tertentu yang memiliki
tingkat kesulitan tinggi hendaknya
dipaparkan/diuraikan lebih rinci
(Djauhar Siddiq, dkk. 2008). Perlu kita ketahui bahwa dalam mengembangkan bahan
ajar cetak jenis LKS, pada analisis kompetensi sampai dengan indikator
ketercapaiannya harus benar-benar mewakili standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang dirumuskan. Indikator-indikator inilah yang nanti akan dijadikan
panduan dalam menyusun soal-soal. Dalam menyusun soal dan latihan dapat
digunakan beragam bentuk teknik pengembangan soal supaya tidak membosankan. Apabila soal yang digunakan berbentuk essai, maka cantumkanlah
langkah-langkah pengerjaannya.

Berikut ini komponen-komponen LKS menurut
Djauhar Siddiq, dkk. (2008) yang dapat Anda susun, yaitu: a) Kata Pengantar, b)
Daftar Isi, c) Pendahuluan (berisi tujuan pembelajaran dan indikator hasil belajar), d) Bab 1 (ringkasan materi 1), e) Lembar Kerja, f)
Bab 2 (ringkasan materi 2), dst…, dan g) Daftar Pustaka. Dengan acuan
komponen tersebut, Anda menjadi terarahkan dalam menyusun lembar kerja siswa
sebagai bahan ajar tercetak bagi para siswa Anda.

C. Aspek-aspek Pengembangan Bahan Ajar
Noncetak

Bahan ajar noncetak (digital) merupakan
inovasi baru dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi sangat pesat dalam mendorong berbagai lembaga pendidikan kita untuk
memanfaatkan bahan ajar noncetak yang diolah dengan komputer. Ketika mengajar
guru lebih efektif menyampaikan isi pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar.
Dalam kegiatan ini, Anda akan belajar
tentang cara membuat bahan ajar noncetak hingga meng-online-kan bahan ajar tersebut dengan cara meng-upload bahan ajar kedalam e-course atau e-learning sehingga siswa dapat mempelajarinya sendiri dengan
menggunduhnya terlebih dahulu untuk dipelajari di lain waktu (offline). Dengan demikian, penggunaan
bahan ajar noncetak di bisa offline maupun
online terintegrasi dengan elearning
(sebagai komponen bahan ajar utama dalam e-learning) dalam rangka mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.

Rembuk Nasional (Rembuknas) Pendidikan dan
Kebudayaan 2015 dalam rangka meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas
pembelajaran telah mendapat beberapa keputusan, salah satunya adalah perlu
adanya sistem pembelajaran berbasis web seperti e-learning dan e-book serta
bahan ajar yang menarik lainnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Saluky,
2016:80). Menurut Weggen dalam Herman D.Surjono, 2013: 3) e-learning adalah bagian dari pembelajaran jarak jauh, sedangkan
pembelajaran online adalah bagian
dari e-learning. Istilah e-learning
meliputi berbagai aplikasi dan proses seperti computer-based learning, web
based learning
, dan virtual classroom,
sementara itu pembelajaran online merupakan pembelajaran berbasis
teknologi yang memanfaatkan sumber daya internet,
intranet dan extranet.

Dalam konsep e-learning materi pelajaran disediakan
secara online dan dapat mengatur dan memonitor interaksi antara guru dan
siswa, baik secara langsung (synchronoius) atau tidak langsung (asynchronoius). Sistem pengelolaan
pembelajaran secara online ini biasa disebut dengan
istilah LMS (Learning Management System). Dalam LMS, terdapat komponen-komponen pembelajaran,
salah
satunya adalah bahan ajar noncetak yang di-upload
ke dalamnya. Mari kita pelajari
dan bahas pengembangannya dalam kegiatan belajar ini.

Bahan ajar noncetak didefinisikan sebagai
bahan atau materi pelajaran yang disusun oleh guru
secara sistematis dan digunakan oleh peserta didik (siswa) dalam pembelajaran offline maupun online atau bahan ajar yang diakses menggunakan jaringan internet. Beberapa jenis bahan pembelajaran digital
yang lazim digunakan dalam pembelajaran secara online yaitu bahan ajar Audio,
Video, PowerPoint Presentation (PPT),
Modul Elektronik/Buku Sekolah Elektronik (BSE), dan Multimedia Pembelajaran
Interaktif (MPI).

Dalam merancang bahan
ajar pada umumnya guru harus melakukan analisis tugas, pengetahuan, serta
keterampilan yang diperlukan dalam rangka penentuan jenis bahan pembelajaran
apa yang nanti dikembangkan. Selanjutnya, guru mengembangkan bahan ajar sesuai
prosedur masing-masing bahan ajar, hingga cara penyebaran bahan ajar tersebut.
Mari kita cermati penjelasan selengkapnya.

1. Bahan Ajar Audio

Bahan ajar audio merupakan sebuah bahan
ajar yang hanya mengandalkan bunyi dan suara untuk menyampaikan informasi dan
pesan kepada peserta didik. Penggunaan rekaman audio dalam pembelajaran
merupakan sebuah strategi untuk
membantu peserta didik (siswa) dalam membaca. Program pembelajaran dengan audio
meliputi seluruh sistem yang menggunakan gelombang suara secara langsung yang
dapat dimainkan atau didengar oleh orang.

Menurut Sudjana & Rivai (2013: 130),
karakteristik audio umumnya berhubungan dengan segala kegiatan melatih
keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan.
Media audio dalam bentuk suara, musik, dan kata-kata dapat digunakan untuk pembelajaran langsung, namun juga
bisa digunakan untuk pembelajaran tidak langsung yaitu dengan cara merekamnya
kemudian disebarluaskan secara online dalam bentuk digital atau dalam format
MP3

Pengembangan bahan ajar audio diawali
dengan penyusunan Garis Besar Isi Program Media (GBIPM), kemudian perancangan
naskah bahan ajar audio, produksi bahan pembelajaran audio dengan melakukan
rekaman dalam sebuah studio, pemberian sound efek dan penggabungan setiap
bagian dari rekaman menjadi sebuah program audio utuh. Selanjutnya dilakukan
evaluasi program audio pembelajaran oleh judgement
expert.
Apabila masih ditemukan noisy,
suara yang tidak seharusnya ada, volume intonasi dan pelafalan yang salah, maka
dilakukan perbaikan berulangkali hingga audio siap digunakan.

Setelah bahan ajar audio dalam bentuk
digital sudah jadi, dengan menggunakan jaringan internet sekarang ini, bahan ajar audio dapat didistribusikan
secara online supaya siswa yang jauh
dapat menggunakannya di mana saja serta kapan saja dibutuhkan. Ada lembaga
pemerintah yang sudah mengembangangkan produk-produk audio pembelajaran yaitu
Pustekkom. Kita dapat memperoleh contoh bahan ajar audio dengan mengunjungi
Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan (BPMRP) yang beralamat di Jl.
Sorowajan Baru No. 367, Yogyakarta, atau Anda dapat mengakses pada laman http://radioedukasi.kemdikbud.go.id/

2. Bahan Ajar Video

Video pembelajaran merupakan bahan ajar
yang diperoleh dari kamera berisi
pesan-pesan pembelajaran dan dikemas dalam tampilan visual digital. Penerapan
penggunaan bahan pembelajaran berbentuk video dapat melalui dua cara, yaitu synchronus (langsung) dan asynchronus (tidak langsung). Pembelajaran langsung menggunakan video merupakan pembelajaran yang terjadi melalui sarana elektronik dengan akses kecepatan
internet tinggi yang bersifat realtime (dijadwal dalam satu waktu yang sama), kolektif, atau kolaboratif dengan ada siswa, fasilitator, dan
instruktur. Perhatikan kegiatan dalam contoh berikut:

  • Video Conference. Video Conference dapat digunakan untuk pembelajaran jarak jauh melalui
    aplikasi yang dapat mengkonferensikan siswa-siswa dengan guru.
  • Web Casting. Guru bisa streaming
    atau live pada sebuah web atau youtube untuk dimanfaatkan dalam proses
    belajar-mengajar secara “siaran langsung”, dimana guru disuatu tempat berbeda
    dengan siswa yang menontonnya

Pembelajaran tidak langsung (asynchronus) menggunakan bahan ajar
video yang dapat diakses kapan saja tidak harus di waktu yang sama dengan
perekaman video. Pengembangan bahan ajar video jenis ini dapat dirancang dengan
menggunakan storyboard dan interface. Selanjutnya, proses
pengembangan, yang dimulai dari pengambilan gambar sesuai teknik yang telah
diatur dalam storyboard. Berikutnya,
proses editing, meliputi kegiatan penyusunan potongan-potongan
video, teks, dan suara sehingga tergabung menjadi video pembelajaran yang utuh. Misalnya kita ingin membuat
bahan ajar percobaan kimia suatu zat cair menjadi padat seketika, maka
kita dapat merekam dan mengisi suara setiap adegan
dan membuang potongan video yang tidak diperlukan. Setelah itu kita dapat
menyebarkannya untuk siswa melalui email atau meng-upload-nya pada sebuah elearning. Berikut
ini link contoh video pembelajaran yang telah diunggah ke Youtube https://www.youtube.com/watch?v=viidycPX0jc

3. PowerPoint Presentation (PPT)

Software PowerPoint Presentation merupakan salah satu bahan ajar untuk dapat
menampilkan sebuah presentasi dengan berbagai ilustrasi, gambar, teks, audio,
dan video. Menggunakan software ini seorang guru dapat merancang pembelajaran
yang menarik. PowerPoint mudah dibuat
dengan memasukkan komponen-komponen yang dibutuhkan dalam bahan ajar.

Pengembangan PowerPoint dapat
dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu: 1) identifikasi tujuan pembelajaran,
2) analisis kebutuhan dan karakteristik pengguna (3) membuat desain outline PowerPoint, 4) menuangkan desain kedalam Powerpoint, 5) menambahkan multimedia seperti clip art, picture, image,
background
dan kebutuhan materi lainnya, serta 6) evaluasi kembali PowerPoint sehingga menjadi bahan ajar
yang sesuai tujuan pembelajaran.

Setelah PowerPoint selesai dikembangkan, pemanfaatannya dapat melalui
dua cara, yaitu secara offline dipresentasikan di kelas atau secara online, yaitu dengan meng-upload-nya sebagai
bahan ajar dalam sebuah e-learning. Berikut contoh PowerPoint materi tentang teknik penyusunan modul oleh Depdikbud yang telah diunggah dapat
diunduh pada:
https://grisamesin.files.wordpress.com/2010/03/1-teknik-penyusunan-modul-smk.ppt

4. Modul Elektronik/Buku Sekolah Elektronik (BSE)

Modul Elektronik merupakan bahan ajar
noncetak yang bertujuan agar siswa
mampu belajar mandiri dan bersifat lengkap yang menyajikan per-unit terkecil
dari materi berbentuk elektronik atau digital. Modul elektronik dapat dibuat
menggunakan software MS.Word. Modul ini dapat juga
digunakan secara online seperti yang
banyak dikembangkan di Era 21 ini. Semua komponen dalam modul seperti gambar,
suara, dan video harus di-insert-kan
ke dalam format digital. Dalam pengembangannya apabila komponen tersebut ada
yang bersifat analog,
maka harus diubah menjadi digital sehingga proses
ini disebut dengan digitalisasi.

Dalam suatu modul digital terdapat tiga
komponen, yaitu: bahan belajar, panduan belajar, dan petunjuk belajar. Selain
itu, karaketeristik modul elektronik ini juga sama dengan
modul cetak seperti yang sudah kita bahas pada pembahasan sebelumnya. Hanya saja, pada penggunaannya atau
penyajiannya, modul elektronik memerlukan bantuan perangkat elektronik dalam
pemanfaatannya. Modul elektronik ini memiliki karakteristik dapat dikontrol
sendiri oleh siswa baik dalam hal
navigasi maupun materi. Jadi siswa dapat dengan leluasa berpindah antar halaman, menonton, menjeda, maupun memutar ulang
komponen bahan ajar berbentuk video/animasi yang ada di dalam modul.

Tahapan pengembangan
modul elektronik sama dengan modul cetak. Tahapan tersebut yaitu: 1)
mengidentifikasi tujuan pembelajaran, 2) memformulasikan garis besar materi, 3)
menulis materi, 4) menentukan format dan tata letak (Tian Belawati, 2003).
Apabila modul cetak hanya diketik
dan
disusun
pada MS. Word, sementara pada modul elektronik biasanya menggunakan software Flip
Book Maker
dalam penyusunan materinya, seperti: text, gambar, audio, dan
video. Efek flipbook ini dapat
menampilkan seperti membaca buku sungguhan karena software ini dapat membuka atau membalik lembar demi lembar halaman buku. Tidak hanya kualitas secara
teknik di atas yang perlu dipertimbangkan, namun pengembangan modul juga
didasarkan pada teori psikologi, khususnya teori belajar, sosiokultural peserta
didik, desain pembelajaran, dan riset fitur-fitur tipologis bahan ajar cetak yang dapat membantu peserta didik untuk belajar (Haryanto, 2015:72).

Bahan ajar modul
elektronik
dapat disebarluaskan
(di-upload) pada sebuah Blog, website, atau
e-learning dengan cara meng-insert-kan file Modul tersebut pada sebuah LMS. Berikut
ebook lengkap cara
memasukkan materi ke dalam sebuah e-learning        dapat    di         download         pada
https://drive.google.com/file/d/1WY2N7YE-Mb_GOR1WFy2iYCEAU5EA5APp/view?usp=sharing berikut ini ada contoh modul elektronik (BSE) berjudul
“Membuka Cakrawala” dapat Anda unduh pada https://drive.google.com/file/d/1l3BSZN8taTOROxrlQL9OuDExVsUkeAVw/vie w?usp=sharing

5. Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI)

Pada Era 21 ini guru diharapkan dapat
memanfaatkan ICT secara optimal untuk memfasilitasi aktivitas pembelajaran yang
inovatif. Strategi dan metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
sangat cocok guna mendorong pengembangan pengetahuan dan skill peserta didik
(Herman D. Surjono, 2017).

Definisi multimedia secara terminologis
adalah kombinasi berbagai media seperti teks, gambar, suara, animasi, video dan lainnya secara terpadu dan
sinergis melalui komputer atau peralatan elektronik lain untuk mencapai tujuan
tertentu. (Herman D. Surjono, 2017:2). Yusufhadi Miarso (2004:464) mengartikan
multimedia sebagai kumpulan bahan ajar yang dipadukan, dikombinasikan, dan
dipaketkan ke dalam bentuk modul yang disebut sebagai “kit” dan dapat digunakan untuk belajar mandiri
baik secara individu
maupun kelompok tanpa harus
didampingi oleh guru. Multimedia dibuat untuk tujuan tertentu tergantung
pemanfaatannya. Dalam hal ini multimedia digunakan sebagai bahan ajar yang
dapat memudahkan siswa memahami materi dalam uapaya mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran.

Multimedia Interaktif memiliki
karakteristik sebagai proses pembelajaran yang komunikasinya terjadi dua arah
antara siswa dan bahan ajar. MPI sebagai bahan ajar memiliki beberapa komponen di antaranya: 1) Pendahuluan yang berisi
title page, menu, tujuan
pembelajaran, dan petunjuk penggunaan; 2) Isi Materi meliputi kontrol,
interaksi, navigasi, teks, suara, gambar, video, dan simulasi; serta 3) Penutup, yang berisi ringkasan, latihan,
dan evaluasi. Navigasi dalam MPI
atau Graphichal User Interface (GUI)
biasanya berupa icon, button, scroll bar, menu yang dapat
dioperasikan oleh pengguna untuk menonton, memutar maupun membuka jendela
informasi lain dengan bantuan sarana Hyperlink.

Setelah kita memahami karakteristik MPI
pada bahasan sebelumnya, selanjutnya kita belajar mengembangkan MPI dengan
model APPED. Model ini memiliki lima langkah sebagaimana dapat Anda lihat pada
gambar di bawah ini:

Dalam analisis
kebutuhan awal, pengembang menetapkan tujuan pembelajaran untuk disesuaikan
dengan karakteristik siswa, tugas dan sebagainya. Selanjutnya kita melakukan
perancangan pembelajaran dimulai dengan pembuatan
GBIM, flowchart, screendesign dan storyboard. Apabila rancangan sudah
selesai, kita dapat mulai memproduksinya dengan membuat dan menyatukan Video,
audio, teks, dan animasi menggunakan authoring
tools
seperti Ms. Powerpoint, Adobe Flash, Lectora dan sejenisnya mengacu
pada prinsip-prinsip pengembangan MPI oleh Mayer (2009) ebook tersebut dapat
didownload, pada sebuah link
https://drive.google.com/file/d/1UQKDYfqoNjHuPZp62t-yckVDa-VMRXYC/view?usp=sharing

Selanjutnya pada tahap evaluasi, kita bisa
menggunakan instrumen yang berisi pedoman pengembangan MPI untuk menguji kelayakannya oleh ahli materi,
ahli media dan ahli (desain) pembelajaran. Dalam kegiatan evaluasi ini juga
dilakukan serangkaian uji coba lapangan hingga efektif digunakan dalam
pembelajaran. Setelah produk MPI dinilai baik, maka MPI layak untuk dilakukan
diseminasi atau penyebarluasan MPI. Diseminasi ini dapat dilakukan melalui sebuah link dalam website maupun diunggah kedalam e-learning.

Untuk  memahami       materi  ini        lebih                jelas,                berikut             disajikan          buku pengembangan Multimedia      Pembelajaran   yang     dapat    di unduh          pada https://drive.google.com/file/d/1UQKDYfqoNjHuPZp62t-yckVDa-VMRXYC/view?usp=sharing .
Sedangkan contoh penggunaan MPI dapat dilihat pada https://www.youtube.com/watch?v=mUad8P2n9cA

Sumber: Materi Pelatihan Guru

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *