Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Last Updated on 25.11.2016 by Zulfahmi M

A. Definisi/Konsep

  • Metode Discovery
    Learning
    adalah
    teori belajar
    yang didefinisikan
    sebagai
    proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak
    disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan

    siswa mengorganisasi sendiri.

  • Sebagai
    strategi belajar
    , Discovery
    Learning
    mempunyai
    prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving.
    Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery
    Learning
    lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang
    sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada
    discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang
    direkayasa oleh guru
  • Dalam
    mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
    pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
    aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
    kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan
    .  Kondisi
    seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi
    student oriented.
  • Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan
    muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis,
    historin, atau ahli matematika.
    Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan
    berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan,
    menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat
    kesimpulan-kesimpulan.
B. Keuntungan Model Pembelajaran Penemuan
  • Membantu
    siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan
    proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini,
    seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
  • Pengetahuan
    yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan
    pengertian, ingatan dan transfer.
  • Menimbulkan
    rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  • Metode
    ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya
    sendiri.
  • Menyebabkan
    siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan
    motivasi sendiri.
  • Metode
    ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
    kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  • Berpusat
    pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.
    Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam
    situasi diskusi.
  • Membantu
    siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada  kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  • Siswa
    akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
  • Membantu
    dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar  yang baru;
  • Mendorong
    siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
  • Mendorong
    siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
  • Memberikan
    keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses belajar menjadi lebih
    terangsang;
  • Proses
    belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia  seutuhnya;
  • Meningkatkan
    tingkat penghargaan pada siswa;
  • Kemungkinan
    siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
  • Dapat
    mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
C. Kelemahan Model Pembelajaran Penemuan
  • Metode
    ini
    menimbulkan asumsi
    bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan
    mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara
    konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan
    menimbulkan frustasi.
  • Metode
    ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan
    waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah
    lainnya.
  • Harapan-harapan
    yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru
    yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
  • Pengajaran
    discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan
    mengembangkan
    aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat
    perhatian.
  • Pada
    beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan
     yang dikemukakan oleh para siswa
  • Tidak
    menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa
    karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.
LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL
1. Langkah
Persiapan
  • Menentukan tujuan pembelajaran
  • Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal,  minat, gaya 
    belajar, dan sebagainya)
  • Memilih materi pelajaran.
  • Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara  induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
  • Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh- contoh,
    ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa
  • Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke   kompleks, dari yang  konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif,  ikonik sampai ke simbolik
  • Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
2. Pelaksanaan
a. Stimulation
(stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama
pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya,
kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan
untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan
mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimula
si pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan
kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam
mengeksplorasi bahan.

b. Problem statement (pernyataan/
identifikasi masalah)
Setelah
dilakukan stimula
si
langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan
bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)

c.  Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika
eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk
menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya  hipotesis, dengan demikian anak didik diberi
kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang
relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

d.  Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut
Syah (2004:244)
pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh
para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya
diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan
cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu

e.  Verification (Pembuktian)
Pada
tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif,
dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif
jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

f.  Generalization (menarik
kesimpulan/generalisasi)
Tahap
gener
alisasi/ menarik
kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan
hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka  dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari
generalisasi

SISTEM PENILAIAN
Dalam
Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan
menggunakan tes maupun non tes.

Penilaian
yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian
hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka
dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis.  Jika bentuk penilaiannya  menggunakan penilaian proses, sikap, atau
penilaian hasil kerja siswa
maka pelaksanaan penilaian  dapat dilakukan dengan pengamatan.

Tinggalkan Balasan 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *